My Husband My Assistant

My Husband My Assistant
Bab 76



Setelah perbincangannya bersama Aluna tempo hari. Akhirnya Erik mau mengikuti keinginan istrinya untuk tinggal di kediaman Cokrodinata dan meneruskan bisnis keluarganya. Semua itu dilakukan Erik karena merasa terharu dengan perjuangan yang dilakukan Aluna, itu sebabnya ia pun ingin berjuang untuk mempertahankan istrinya itu tanpa melukai hati ibu Lilian.


Dan di sinilah mereka berada kini, di ruang tengah keluarga Cokrodinata di mana semua orang telah berkumpul. Ada Aji, Iriana, dan dua anak mereka. Juga ada Lilian Ibu kandungnya. Namun ada satu orang yang bukan bagian dari keluarga mereka yang ikut menyambut kedatangannya dengan Aluna, yaitu Arumi.


Entah siapa yang mengundang wanita itu ke kediaman Cokrodinata, tapi yang jelas keberadaan Arumi sudah membuat Aluna merasa kesal. Terlihat dari raut wajah istrinya yang tertekuk sejak tadi.


"Akhirnya kau kembali, Nak," ucap Aji dengan tersenyum bahagia.


Karena akhirnya penerus keluarga Cokrodinata kembali pulang, dan semua itu berkat Aluna yang mau mengikuti syarat yang dimintanya.


"Di mana kamar kami?" tanya Erik to the poin, tanpa menghiraukan sambutan Aji, yang terasa hanya basa-basi di telinganya.


"Sayang, jangan begitu. Tidak sopan!" bisik Aluna dengan gemas saat melihat sikap suaminya yang begitu dingin pada Aji.


"Aku rasa itu sudah sopan," jawab Erik dengan suara yang keras, membuat Aluna merasa semakin gemas.


Bagaimana tidak gemas, saat ia berbisik agar keluarga Aji tak mendengar ucapannya. Erik justru berbicara dengan sangat lantang hingga terdengar oleh semua orang. Bahkan kini Aluna bisa melihat raut wajah Aji yang tersulut emosi atas sikap Erik.


"Ck, sapalah Daddymu seperti ini."


Aluna berjalan mendekat pada ayah mertuanya, lalu melebarkan kedua tangannya hendak memeluk. Namun sebelum tangannya itu berhasil memeluk Aji. Erik sudah lebih dulu menarik tangan, dan Iriana yang menarik Aji untuk menjauh darinya.


"Kau mau apa?" tanya Erik dan Iriana bersamaan dengan nada cemburu pada Aluna.


Sontak saja Aluna tertawa saat melihat betapa kompaknya ibu dan anak tiri itu. Bahkan tidak hanya ia yang tertawa, tapi juga Lilian dan kedua kakak tiri Erik.


"Aku hanya ingin menyapa Damer dengan memeluknya, memang tidak boleh?"


"Tidak boleh!" jawab Erik dan Iriana lagi secara bersamaan.


Aji pun semakin mundur ke belakang dengan kedua mata yang melotot, karena tidak ingin dipeluk oleh menantunya.


Aluna mendorong Erik dan memaksa suaminya itu untuk memeluk Aji. Meskipun keduanya terlihat kaku, tapi bisa Aluna lihat senyum di wajah Aji meskipun hanya sesaat ketika Erik memeluknya tadi.


"Sekarang giliran aku."


Aluna menatap ibu Iriana yang hendak menjauh, namun dengan cepat ia menarik lalu memeluk ibu tirinya tersebut. Pelukan itu lalu berpindah pada Ibu Lilian dan kedua saudara tiri Erik. Sedangkan untuk Arumi, Aluna hanya sekedar menyapa saja.


"Erik, sapalah Arumi. Dia datang kemari khusus menyambut kedatanganmu," ucap Iriana dengan mendorong calon menantunya tersebut.


Ya, Iriana bertekad untuk tetap mendekatkan Arumi dengan Erik meskipun Aji sudah melarang.


"Kak Erik, apa kabar?"


"Sangat baik." Bukan Erik yang menjawab tapi Aluna.


Wanita itu sudah berdiri tepat di depan Arumi dengan tatapan mengintimidasi. Sementara itu Arumi yang tak mau kalah, membalas tatapan Aluna dengan tajam.


"Eh, kau itu menggangu saja. Sekarang ikut aku!" Iriana menarik tangan Aluna agar tak menganggu Erik dan Arumi.


Namun dengan cepat Lilian juga Erik menghalangi, hingga Iriana mau tidak mau melepaskan tangan Aluna.


"Aku ingin membawa putra dan menantuku ke kamarnya," ucap Lilian dengan memberanikan diri.


Ia tak peduli jika nantinya Iriana marah, karena yang terpenting saat ini adalah membawa menantu dan putranya menjauh agar tak ada keributan.


"Ya, bawalah mereka ke kamarnya!" sahut Aji.


"Pak..." Iriana ingin protes, tapi langsung terdiam saat melihat tatapan tajam suaminya.


Ia pun akhirnya memilih mengalah dengan membiarkan Aluna dan Erik pergi bersama Lilian. Lagi pula masih ada hari esok untuk mengerjai istri Erik, agar menantunya itu tidak betah tinggal bersama mereka.