My Husband My Assistant

My Husband My Assistant
Bab 71



"Keluarga Cokrodinata tidak menerima aku sebagai menantu mereka," adu Aluna dengan sendu.


Namun bukannya simpati atas kesedihannya, Boy Arbeto justru menertawakannya sampai terbahak-bahak.


"Keluarga Cokrodinata berarti orang-orang yang masih normal, karena hanya orang yang tidak normal saja yang mau menerimu sebagai menantu," ucap Boy masih dengan tertawa.


"B...."


Aluna memukul lengan sepupunya itu dengan kesal, karena sejak tadi Boy Arbeto mencibirnya.


"Tapi tunggu dulu, bagaimana bisa kau tahu keluarga Cokrodinata adalah keluarga mertuaku?" tanyanya dengan bingung.


Karena seingatnya tak ada yang mengetahui siapa keluarga Erik sebenarnya, bahkan ia belum bercerita pada kedua orang tuannya tentang keluarga Cokrodinata.


"Aku Boy Arbeto, tidak ada yang tidak aku ketahui," ucap Boy membanggakan diri sendiri, membuat Aluna berdecak kesal.


Karena diakui atau tidak, sepupunya itu memang mengetahui segala hal yang berkaitan dengan seluruh keluarga besar mereka. Bisa dibilang Boy itu garda terdepan klan mereka, dia akan memeriksa siapa pun orang yang masuk ke dalam keluarga mereka, meskipun tidak diminta sama sekali.


"Iya, iya kau memang Boy Arbeto. Tidak ada yang bilang kau Agam Mateo," sahut Aluna dengan mengejek. "Sekarang katakan apa kau bisa melakukanya?"


"Tentu saja, itu sangat mudah." Boy mengambil ponselnya hendak menyuruh orang kepercayaannya untuk membuat keluarga Cokrodinata bangkrut.


"Eh tunggu, kau mau apa?" tanya Aluna sambil menahan ponsel sepupunya.


"Aku ingin menghubungi orang-orang ku untuk menjalankan keinginanmu."


"Jangan sekarang, B." Aluna menggelengkan kepalanya.


"Kenapa?" tanya Boy dengan bingung.


"Aku ingin menekan mereka dulu untuk mau menerimaku sebagai menantunya, jika mereka tetap tidak mau baru kita buat bangkrut keluarga Cokrodinata."


Ya, itulah rencana Aluna saat ini. Jika sebelumya Aluna ingin menyerah dengan melepaskan Erik demi kebahagiaan pria itu, kini ia ingin mempertahankan hubungan mereka sampai titik darah penghabisan. Karena jika dipikir-pikir kenapa Aluna yang harus mengalah dengan mengorbankan kebahagiaannya? Kenapa tidak menghilangkan kebahagiaan keluarga Cokordinata saja dengan membuat keluarga tersebut jatuh dan bangkrut.


"Benarkah?"


Boy menganggukkan kepalanya, membuat Aluna tersenyum dan langsung memeluk sepupunya itu dengan perasaan bahagia.


"Terima kasih, B."


Boy pun ikut tersenyum dengan membalas pelukan Aluna. Ia merasa senang karena bisa membantu sepupunya tersebut, meskipun bantuan yang diberikannya bisa membuat seseorang mengalami kesusahan. Karena bagi Boy, kebahagiaan orang-orang tercintanya di atas segalanya.


*


*


Tanpa membuang waktu, kedua penerus klan Arbeto dan Ricardo itu pun langsung meluncur ke kediaman keluarga Cokrodinata. Mereka datang dengan satu tujuan, yaitu membuat keluarga Cokordinata tunduk pada keinginan mereka.


Setelah melewati beberapa penjaga yang sempat menghalangi mobil yang ditumpangi Boy dan Aluna. Akhirnya keduanya bisa melenggang masuk kediaman Cokrodinata berkat para bodyguard yang dibawa mereka.


"Berani sekali kalian masuk ke kediaman Cokrodinata tanpa ijin! Kami bisa melaporkan kalian pada pihak yang berwajib!" ancam Iriana dengan emosi.


Bagaimana tidak emosi jika waktu istirahatnya terganggu, oleh laporan pelayan yang mengatakan ada seseorang yang membuat keributan di gerbang depan kediamannya.


Dan betapa terkejut dan marahnya Iriana saat mengetahui yang membuat keributan tersebut adalah istri Erik. Apalagi saat melihat menantu yang tidak dianggap itu sudah berani menginjakkan kakinya di kediaman Cokrodinata.


"Lihat Pak, Istri Erik itu benar-benar wanita pengacau. Berani sekali dia datang dengan membawa preman!" tunjuk Iriana pada pria muda berkacamata hitam yang berdiri di samping Aluna.


Aji pun ikut menatap pada arah yang ditunjuk istrinya, dengan menebak-nebak siapa sosok pria muda tinggi, dan gagah yang datang bersama istri putranya.


"Preman?" ucap Boy dengan tak terima sambil membuka kacamata hitamnya. "Aku ini lebih pantas disebut seorang aktor, atau model. Anda tidak lihat ketampananku ini," ucapnya dengan bergaya layaknya seorang model.


"B..."


Aluna berdecak kesal, karena bisa-bisanya sepupunya itu bercanda di saat kondisi mereka yang tegang seperti itu.