
Saat ini rasanya darah di dalam tubuh Erik begitu mendidih mengetahui Aluna pergi bersama pria lain. Apalagi saat melihat wanitanya merangkul pria tersebut dengan begitu mesra.
Sungguh mengejutkan bukan. Di saat ia mengkhawatirkan keadaan wanita itu, Aluna justru terlihat baik-baik saja dan tampak bahagia. Berbanding terbalik dengan apa yang selama ini dipikirkannya, jika Aluna bersedih dan terluka atas kejadian tiga hari yang lalu sampai tidak mau pulang ke rumah mereka.
Tak ingin membuang waktu, Erik pun menghampiri Aluna tanpa mempedulikan Agatha yang berusaha mencegahnya.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Erik sembari menarik Aluna menjauh dari Azam.
Ya, pria yang bersama Aluna adalah Azam. Pria yang entah mengapa selalu berhasil membuat Erik marah jika melihat kebersamaan keduanya.
"Hei, lepaskan dia! Beraninya kau bersikap kurang ajar pada atasanmu," ucap Azam tak mau kalah.
Sudah cukup selama ini Azam diam melihat sikap assisten pribadi Aluna yang tak masuk di akal dan berlebihan. Bahkan ia pernah terkena bogem mentah dari pira itu hanya karena mencium pipi Aluna, dan sekarang sikapnya semakin kurang ajar dengan menarik Aluna dari sisinya.
"Anda yang diam! Atau —"
"Cukup Erik! Jaga sikapmu! Ingat kau hanyalah seorang bawahan, hanya assitenku. Aku bisa memecatmu saat ini juga karena sudah berlaku tidak sopan," ucap Aluna dengan penuh emosi hingga tanpa sadar merendahkan Erik dengan menyebut pria itu sebagai bawahan.
Sungguh bukan maksud Aluna untuk merendahkan Erik, karena semarah apapun Aluna, dia tidak akan pernah merendahkan seseorang apalagi orang tersebut suaminya sendiri. Tapi emosinya saat ini tidak bisa Aluna kontrol ketika melihat keberadaan Agatha di restoran tersebut bersama suaminya. Apalagi wanita itu kini bergelayut mesra pada lengan Erik yang satunya lagi, karena tangan yang lainnya mencengkram tangan Aluna.
"Sebaiknya kau pecat saja dia, aku akan mencari orang terbaik untuk menggantikan posisinya."
"Tidak perlu kalian pecat, karena tunanganku memang sudah berencana untuk resign," sahut Agatha ikut memanasi.
Tidak akan ia sia-siakan kesempatan ini untuk membuat kesalahpahaman antara Aluna dan Erik, untuk menjauhkan keduanya.
"Bagus kalau begitu, silahkan resign. Aku tunggu surat pengundurannya."
Setelah mengucapkan hal tersebut Aluna menghempaskan tangan Erik, berjalan menuju tempat yang sudah di pesan Azam dengan tenang tanpa ada lagi emosi. Aluna ingin menunjukkan pada Erik kalau dirinya baik-baik saja, dan yang paling utama ia tidak akan lagi mengemis cinta pria itu seperti yang sudah-sudah karena terlalu kecewa.
Ya, kecewa. Karena selama tiga hari ini Aluna tinggal di mansion Ricardo, Erik sama sekali tak mencarinya atau menjemputnya untuk memperbaiki hubungan mereka. Walaupun ia tahu Erik belum mencintainya, setidaknya Aluna berharap Erik akan melakukan hal tersebut sebagai bentuk tanggung jawab seorang suami pada istrinya. Namun sayang, yang dilakukan pria itu hanya sekedar bertanya pada orang kepercayaannya tanpa berani untuk datang ke mansion Ricardo. Terlebih Aluna juga tahu jika hubungan Erik dan Agatha ternyata masih berjalan dengan baik setelah apa yang terjadi.
Contohnya seperti saat ini, mereka makan siang bersama dan kebetulan ia dan Azam makan siang di tempat yang sama dengan mereka.
"Terima kasih," ucap Aluna saat hendak duduk setelah Azam menarik kursi untuknya.
Namun belum juga sempat untuk duduk, tangannya sudah lebih dulu di tarik dan tubuhnya terasa melayang saat di gendong layaknya sebuah karung. Hingga membuatnya menjerit karena terkejut.
"Turunkan aku!" Aluna berteriak sembari memukul punggung Erik.
Ya, pria yang menggendongnya tidak lain dan tidak bukan Erik Cokrodinata. Karena Aluna hapal betul dengan wangi parfum milik pria itu yang begitu khas di indera penciumannya.