
Erik yang sudah yakin dengan keputusan yang diambilnya bersiap untuk menyatukan tubuhnya dengan Aluna. Dengan wanita yang sudah sah sebagai istrinya namun tidak ia cintai.
"Tunggu dulu!" Aluna menahan dada bidang Erik agar pria itu tak bergerak.
"Kenapa?"
Erik yang sudah bergairah terpaksa menundanya, dengan perasaan harap-harap cemas jika Aluna membatalkan niatnya atau mengerjainya lagi seperti tempo hari.
"Tidak apa-apa, aku ingin menarik napas dulu bersiap untuk merasakan sakit."
Karena yang ia tahu dari kedua temannya, saat melakukan yang pertama kali akan terasa sangat sakit bahkan berdarah. Bayangkan berdarah! Itu artinya benar-benar sakit, bukan.
"Ck..."
Erik berdecak kesal, kembali berkonsentrasi dengan jantung yang bergegup dengan kencang saat miliknya menyentuh **** ***** Aluna.
"Tunggu, tunggu!"
Untuk kedua kalinya Aluna mendorong tubuh Erik, hingga membuat pria itu terlihat kesal.
"Apalagi, Lun?"
Aluna menggelengkan kepalanya dengan tersenyum kaku. Padahal ingin sekali ia mengatakan pada Erik jika dirinya merasa takut untuk melakukannya. Ya, meskipun kemarin-kemarin Aluna begitu bersemangat dan siap, entah mengapa hari ini ia merasa takut dan ragu.
"Lanjutkan saja."
Erik pun kembali mencium Aluna, menyentuh semua titik sensitif wanita itu untuk membuatnya kembali bergairah. Karena hasratnya sempat turun setelah dua kali Aluna mendorong tubuhnya.
Aluna yang telah kembali rileks oleh sentuhan Erik, terkejut saat melihat pria itu bersiap memasukinya.
"Tunggu Erik! Aku, aw..." Aluna berteriak saat merasakan sakit ketika sesuatu yang keras mendorong dengan paksa dibawah sana.
Rasa sakit yang luar biasa itu membuatnya memiliki kekuatan mendorong tubuh Erik, hingga pria itu terjatuh dari atas ranjang.
"Sakit..." lirih Aluna dengan menitikkan air matanya. Terlebih saat melihat noda darah diatas ranjang.
Sementara itu Erik yang terjatuh diatas lantai, kini duduk diatas ranjang sembari menghela napas dengan kasar. Sungguh ia tak menyangka wanita yang begitu terobsesi ingin bercinta sampai beberapa kali menggodanya, justru mendorong tubuhnya didetik-detik menuju kesempurnaan. Padahal miliknya baru saja berhasil masuk walaupun belum sepenuhnya, tapi Aluna sudah mendorongnya lebih dulu.
Jika dikatakan sakit, miliknya juga merasakan sakit karena begitu susah menembus milik Aluna yang sangat sempit alias masih perawan.
"Sudah jangan menangis." Erik mendekat pada Aluna untuk menenangkan wanita itu, setelah emosi yang dirasakannya mereda.
Ya, jika boleh jujur Erik merasa emosi karena hasratnya yang belum tersalurkan kini kembali padam. Membuat kepala atas dan bawahnya terasa sakit dan pusing.
"Maaf Erik, tapi rasanya sakit," ucap Aluna masih dengan meringis kesakitan.
Erik pun memeluk tubuh polos Aluna setelah mengusap air mata di pipi wanitanya. Ya, wanitanya karena walaupun mereka tidak melanjutkannya, tapi Aluna sudah menjadi wanita milik Erik seutuhnya.
"Tidak apa," bisiknya dengan menenangkan hati Aluna dan hatinya sendiri.
Tidak bisa dipungkiri kini ia merasa sangat bersalah pada Aluna dan juga pada Agatha. pada Aluna karena mengambil sesuatu yang berharga milik wanitanya tanpa rasa cinta, dan merasa bersalah pada Agatha karena telah berkhianat.
Setelah cukup lama berdiam di dalam kamar, akhirnya keduanya memutuskan keluar dari kamar tersebut setelah menyuruh anak buah Aluna untuk membeli pakaian baru untuk wanitanya. Karena tidak mungkin Aluna memakai pakaian yang telah dirusak Erik.
Baik Aluna maupun Erik berjalan dalam diam, dengan pikirkan yang ada dibenaknya masing-masing. Erik dengan perasaannya yang tak menentu, dan Aluna yang merasa malu dan bersalah karena tidak bisa melanjutkan percintaan mereka. Hingga langkah keduanya terhenti saat melihat Agatha berdiri di hadapan mereka.
"Erik!" sentak Agatha dengan penuh amarah, setelah tiga jam lebih lamanya ia menunggu sang tunangan, yang tenyata keluar bersama Aluna.