
Melihat Aluna berpelukan dengan pria asing yang tak dikenal, entah mengapa membuat hati seorang Erik Cokrodinata tak terima. Seharusnya perasaan pria itu biasa saja, mengingat hubungan mereka yang terjalin karena keterpaksaan dan tentunya tanpa cinta.
Tapi semua logika itu justru berperang dengan hatinya yang ingin memisahkan Aluna dengan pria asing tersebut, pria yang masih betah memeluk wanita yang berstatus sebagai istrinya.
"Ini tidak bisa dibiarkan, keluarga Ricardo mengetahui aku suaminya, kalau ada apa-apa bagaimana?"
Ya, dengan dalih tidak ingin disalahkan jika sesuatu terjadi pada Aluna atau nama baik wanita itu rusak karena berpelukan ditempat umum. Erik pun hendak melepas pelukan kedua orang tersebut. Namun tidak jadi dilakukannya saat melihat kedua manusia berbeda jenis kelamin itu, sudah lebih dulu melepas pelukan mereka karena mendengar suara teriakan Agatha.
"Sayang, ada apa ini? Kenapa kau pergi bersamanya?" tanya Agatha tak terima sembari menatap Aluna dengan tatapan tak suka.
Karena ini kedua kalinya Erik membawa Aluna tepat dihadapannya, membuat Agatha curiga jika diantara Erik dan Aluna memiliki suatu hubungan yang tidak diketahuinya.
"Tidak ada apa-apa, tadi aku hanya—"
Erik menatap Aluna dan pria asing yang berdiri dihadapannya. Agatha pun ikut menatap dua sosok tersebut, hingga keempatnya kini saling menatap dalam diam.
"Hanya apa?" Agatha bingung dengan situasi yang terjadi diantara mereka.
Erik yang terus menatap Aluna dan pria asing tersebut. Pria yang sialnya begitu tampan dan terlihat sangat kaya raya, dari barang-barang yang dikenakan pria itu.
"Erik...." Karena tidak juga mendapatkan respon dari tunangannya.
Agatha pun memutuskan membawa Erik dengan cara menarik paksa. Sementara Aluna yang melihat kepergian Erik dengan Agatha, juga memutuskan pergi bersama Azam.
Baik Aluna mau pun Erik kini berjalan memasuki mobil yang berbeda. Dengan pasangan yang berbeda, tujuan yang berbeda, dan pastinya dengan perasaan berbeda yang berkecamuk dihati masing-masing.
*
*
Dan itu artinya ia harus segera pindah dari apartemennya, membawa Aluna ke rumah pribadi yang selama ini tidak ditempatinya karena satu dan lain hal. Sekarang ia terpaksa menempati rumah tersebut, karena tidak punya pilihan lain. Tidak mungkin bukan jika Erik membawa Aluna tinggal di jalanan. Dan lebih tidak mungkin lagi jika ia ikut tinggal ditempat Aluna. Erik masih punya harga diri sebagai seorang pria yang tidak akan mau menumpang hidup pada seorang wanita.
"Aluna..."
Erik berteriak memanggil wanita itu untuk membahas kepindahan mereka secepat mungkin, karena tidak ingin Agatha sampai mengetahui kebohongannya.
"Aluna..."
Erik kembali berteriak sembari mencari wanita itu kedalam kamar, dan kamar mandi. Namun yang dicari tidak terlihat batang hidungnya sama sekali, hanya ada keheningan di seluruh ruang apartemen. Menandakan tidak ada orang lain selain dirinya yang ada di ruangan tersebut.
"Kemana dia?" gumamnya dengan kesal sembari menatap jam yang melingkar dipergelangan tangannya.
Sudah larut malam namun Aluna belum juga pulang. Padahal seharusnya wanita itu lebih dulu sampai dari pada dirinya yang sempat ditahan cukup lama oleh Agatha.
"Sial, tadi sore dia pergi bersama pria itu!" umpat Erik dengan kesal, saat teringat wanita yang berstatus sebagai istrinya itu pergi begitu saja tanpa mengatakan apa pun padanya, dan sampai sekarang belum kembali.
Ingin sekali Erik menghubungi Aluna untuk bertanya dimana keberadaan wanita itu sekarang. Namun niat itu diurungkannya karena tidak ingin Aluna merasa besar kepala dan menyangka kalau ia mempedulikannya.