My Husband My Assistant

My Husband My Assistant
Bab 74



Setelah Aji Cokrodinata menyampaikan syarat yang diminta pada Aluna. Kedua penerus keluarga Arbeto dan Ricardo itu pun pergi meninggalkan kediaman tersebut.


"Apa kau yakin dengan keputusanmu?" tanya Boy dengan raut wajah yang bingung.


Sungguh ia tak menyangka jika sepupunya itu akan dengan mudah menyanggupi apa yang diminta oleh Aji tanpa berpikir dua kali.


"Tentu saja aku yakin," jawab Aluna dengan tersenyum lebar, semakin membuat Boy bingung sampai menghela napas dengan panjang.


"Sebenarnya tanpa kau menyanggupi keinginan Bapak tua itu, aku bisa membuatnya bertekuk lutut padamu."


Aluna menganggukkan kepalanya sambil menepuk-nepuk bahu kakak sepupunya. "Aku tahu kau bisa, B. Tapi aku tak masalah melakukan keinginan Bapak Cokor itu."


"Ck, kau tak masalah tapi bagaimana dengan hotelmu? Siapa yang akan mengelolanya jika kau memutuskan untuk menjadi Ibu rumah tangga?"


Ya, syarat yang diminta oleh Aji yaitu Aluna meninggalkan pekerjaannya dan menjadi ibu rumah tangga yang baik dengan mengurusi semua kebutuhan Erik. Dan syarat yang kedua adalah membuat Erik kembali mengurus bisnis keluarga Cokrodinata, dengan kata lain mereka akan tinggal bersama di kediaman keluarga tersebut.


"Ah, itu urusan belakangan," jawab Aluna tanpa beban.


"Ck, seharusnya pria tua itu meminta hal yang lebih sulit dari sekedar memintamu menjadi Ibu rumah tangga." Karena Boy baru ingat jika sejak dulu Aluna memang tidak berminat dalam bekerja, wanita itu lebih suka hidup berleha-leha karena beranggapan mereka sudah cukup kaya jadi untuk apa bersusah payah mencari uang lagi. Bahkan dulu kedua orang tua Aluna sampai memaksa dengan segala cara agar sepupunya itu mau mengurus hotel pemberian Kakek mereka.


Tapi dibalik sifat Aluna yang pemalas itu, sepupunya memang memiliki potensi yang baik dalam urusan pekerjaan. Itu terbukti dari berkembangnya hotel milik keluarga Arbeto sampai memiliki banyak cabang dimana-mana.


"Ya, tapi kau jangan salah. Syarat yang kedua agak sulit, karena Erik pasti akan menolak untuk kembali ke keluarga Cokordinata."


Aluna yang awalnya merasa bingung bagaimana membujuk Erik, kini bisa bernapas dengan lega jika Boy mau turun tangan lagi jika ia tidak berhasil membujuk suaminya.


"Terima kasih, B," ucap Aluna dengan tulus sambil memeluk sepupunya itu. Ia tahu betul pewaris keluarga Arbeto itu begitu sibuk, tapi masih mau menyempatkan waktunya untuk turun tangan langsung bertemu dengan keluarga Cokordinata hanya untuk membantunya. "Aku tidak tahu bagaimana harus membalas semua kebaikanmu."


"Cukup dengan kau hidup berbahagia, dan cepat lepaskan pelukanmu aku merasa geli!"


Aluna tak mempedulikan protes sepupunya tersebut, ia justru semakin mengeratkan pelukannya meskipun berulang kali Boy mendorongnya. Kedua klan itu pun saling berdebat di sepanjang perjalanan hanya karena sebuah pelukan, membuat supir yang mengendarai kendaraan tersebut tertawa melihatnya. Hingga mobil mewah itu berhenti di sebuah rumah berlantai dua, barulah keduanya berhenti berdebat.


Aluna yang keluar dari mobil Boy, melambaikan tangan saat mobil sepupunya itu meninggalkan halaman rumahnya.


"Kau dari mana?" tanya Erik yang sejak tadi memperhatikan sang istri yang turun dari sebuah mobil mewah.


"Astaga, kau itu membuatku terkejut saja." Aluna mengusap dadanya dengan perlahan karena benar-benar terkejut dengan keberadaan Erik.


Ia pikir Erik belum pulang, tapi ternyata suaminya itu sudah ada di kediaman mereka.


"Kau belum jawab pertanyaanku?" Erik kembali bertanya. "Di mana mobilmu dan tadi siapa yang mengantarmu?" tanyanya penuh selidik.


Bukannya menjawab pertanyaan Erik, Aluna justru tertawa geli sambil memeluk suaminya dengan manja.