My Husband My Assistant

My Husband My Assistant
Bab 72



Protes dari Aluna tidak didengar sama sekali oleh Boy Arbeto. Pria itu justru semakin bergaya dengan memperlihatkan pesonanya di hadapan wanita paruh baya yang tadi menyebutnya sebagai preman. Dia ingin membuktikan ketampanannya yang banyak dielu-elukan oleh para wanita termasuk sang istri tercinta Tita Anggora.


"Menurut Bapak dia pantas menjadi seorang model atau preman?" tanya Iriana dengan setengah berbisik pada sang suami.


Sementara Aji hanya diam saja dengan berusaha untuk tetap tenang, meskipun tubuhnya kini bergetar karena takut saat menyadari siapa sosok yang datang bersama istri Erik. Sosok pria yang merupakan penerus utama keluarga Arbeto, juga sosok pria yang sangat terkenal di dunia bisnis sebagai eksekutif muda yang merajai pangsa pasar Asia dan beberapa kota di Eropa.


Sungguh Aji tak menduga menantu yang tak diinginkannya itu akan mengajak Boy Arbeto ke kediamannya. Dan pastinya kedatangan mereka bukanlah sesuatu yang bagus, mengingat sebelumnya dia menolak Aluna sebagai menantunya.


"Ha, ternyata kedua mata mertuamu itu rabun sampai tak dapat melihat ketampanan aku ini," gerutu Boy sambil duduk di salah satu sofa yang ada di ruangan tersebut, meskipun sang pemilik rumah belum mengijinkannya. "Silahkan duduk jangan malu-malu!" ucap Boy dengan santai seolah dialah sang tuan rumah.


"B...!" protes Aluna kembali.


Sungguh rasanya ingin sekali ia memukul kepala sepupunya itu yang sudah bertindak dengan semena-mena. Karena sikap Boy tersebut bisa membuat keluarga Cokordinata semakin tidak menyukainya, dan dengan kata lain ia akan semakin susah untuk mendapatkan restu dari keluarga Erik. Terlebih saat ini Ibu tiri suaminya itu tengah menatap Boy dengan penuh emosi.


"Kau itu anak muda tidak tahu sopan santun! Kami ini pemilik —"


"Bu..!" sela Aji dengan menahan lengan istri pertamanya. "Jaga sikapmu!"


"Tapi Pak, dia—"


"Dia Boy Arbeto, pewaris utama keluarga Arbeto," bisik Aji dengan nada peringatan agar istri pertamanya itu bisa menjaga sikap.


Bukannya kenapa-kenapa, Aji hanya tidak ingin mengambil resiko berurusan dengan keluarga Arbeto. Karena jika sampai itu terjadi maka seluruh kekayaan dan reputasi keluarga Cokrodinata sebagai seorang bangsawan akan hangus dalam hitungan jam.


Mau tidak mau Aji bersama Iriana pun ikut duduk, seolah mereka adalah tamu di kediaman mereka sendiri. Iriana yang sebenarnya tidak tahu boy itu siapa, hanya mengikuti suaminya yang terlihat diam saja dengan kelakuan preman yang dibawa oleh Aluna.


"Aku tidak ingin berbasa-basi, kedatangan kami kemari hanya ingin memastikan apa benar kalian menolak Aluna sebagai menantu?" tanya Boy to the poin.


"Tentu saja —" Iriana yang ingin menjawab dengan kata-kata pedas, terpaksa menelan kembali semuanya karena melihat sang suami yang menatapnya dengan tajam.


"Kami bukan menolaknya sebagai menantu di keluarga Cokrodinata, apalagi Aluna keturunan dari keluarga Ricardo. Hanya saja Erik sudah dijodohkan sejak lama dengan Arumi, jadi kami terpaksa —"


"Dia berbohong B, jelas-jelas Ayah mertuaku ini tidak menerima aku sebagai menantunya karena aku berasal dari keluarga Ricardo," sela Aluna dengan berani, tak mempedulikan tatapan tajam Ibu dan ayah mertuanya.


Jika tadi ia ingin bersikap baik untuk ngambil hati seorang Aji Cokordinata, tapi sekarang tidak lagi saat ayah mertuanya itu justru berkelit dengan berbagai alasan hanya agar terlihat baik.


"Kau tahu B, Ibu mertuaku bahkan menghina keluarga Ricardo yang hanya berprofesi sebagai dokter."


"Apa?" Boy menggebrak meja di hadapannya dengan emosi.


"Ibu mertuaku juga menghina aku dengan mengatakan aku hanya memiliki satu hotel."


Brak.


Untuk kedua kalinya Boy menggebrak meja dengan lebih keras, hingga membuat Iriana dan Aji terkejut sampai mengusap dada mereka.