My Husband My Assistant

My Husband My Assistant
Bab 79



Dengan cepat Erik menghampiri sang istri, tanpa mempedulikan Ibu Iriana dan pelayan yang terkejut melihat kedatangannya.


"Ada apa ini? Kenapa Aluna pingsan?" tanyanya dengan sangat khawatir.


"Ibu—"


"Apa yang sudah kau lakukan pada istriku?" sela Erik dengan penuh emosi.


Bukan tanpa alasan ia menuduh ibu tirinya tersebut yang membuat Aluna pingsan, karena menurut informasi terakhir yang didapatnya, Aluna masuk ke dalam kamar mereka bersama ibu Iriana.


"Tidak, Ibu tidak...."


"Ada apa ini?"


Aji dan Lilian yang baru tiba di kediaman mereka setelah pergi mengunjungi beberapa kerabat, terkejut mendengar suara keributan dari ruang tengah. Apalagi saat melihat menantu mereka tak sadarkan diri di atas sofa.


"Ibu Iriana sudah membuat istriku pingsan!" tuduh Erik pada istri pertama Aji.


"Tidak Pak, aku tidak melakukannya. Tadi setelah Aluna mengantar saudaranya pulang, dia tiba-tiba tak sadarkan diri. Justru aku bersama pelayan yang membawanya ke atas sofa," jelas Iriana dengan ketakutan, karena tidak mau dituduh sebagai orang yang menyebabkan Aluna jatuh pingsan.


Ya Tuhan, jangankan menyakiti wanita itu sampai tidak sadarkan diri. Iriana bahkan sekarang takut untuk mengganggu Aluna, setelah wanita licik itu mengancam akan membongkar semua rahasianya yang memiliki banyak hutang.


Ya, Iriana memiliki banyak hutang setelah tertipu oleh sebuah investasi bodong yang membuat seluruh isi tabungannya habis, bahkan sertifikat kediaman Cokrodinata sudah digadaikannya tanpa sepengetahuan Aji. Dan karena hutang itu pulalah yang membuat Iriana bertekad untuk menjodohkan Erik dengan Arumi, agar bisa mendapatkan uang dari keluarga calon menantunya untuk menutupi semua hutang-hutangnya sebelum ketahuan oleh Aji.


Karena jika sampai suaminya itu tahu apa yang sudah dilakukannya, maka tamatlah riwayat Iriana karena sudah berani menggadaikan sertifikat kediaman Cokrodinata.


"Dia berbohong!" tuduh Erik dengan emosi.


"Sudah jangan berdebat! Sebaiknya kita cepat bawa Aluna ke rumah sakit," sela Lilian karena merasa tak tega melihat menantunya tak sadarkan diri, sementara Erik dan Iriana justru berdebat.


Erik yang tersadar pun langsung menggendong Aluna, dan membawa wanitanya masuk ke dalam mobil bersama Ibu Lilian. Sementara Ibu Iriana dan Aji menyusul mereka dengan menggunakan mobil lainnya.


Setelah sampai di rumah sakit, Erik pun menunggu dengan cemas di samping Aluna setelah dokter mengijinkannya masuk ke dalam.


"Bagaimana, Dok? Apa yang terjadi dengan istriku?" tanya Erik dengan khawatir setelah dokter selesai berbicara dengan Aluna yang sudah sadarkan diri beberapa menit yang lalu.


"Istri Anda hanya kelelahan, itu biasa terjadi pada wanita yang yang sedang hamil di trimester awal," jelas dokter dengan tersenyum


Deg.


Semua orang yang ada di ruangan tersebut terdiam, dan langsung menatap pada Aluna yang tengah tersenyum.


"Maksud Dokter, istriku hamil?" tanya Erik tak percaya.


Dokter pun menjawab dengan anggukan kepala. "Saya kira Anda sudah tahu, karena Nona Aluna sudah mengetahui kalau sedang hamil."


Ya, tadi saat memeriksa Aluna, wanita itu menjelaskan sudah telat datang bulan dan sudah melakukan testpack dengan hasil positif.


"Sayang, jadi kau sudah tahu?" tanya Erik dengan memastikan.


Aluna yang masih tersenyum menganggukkan kepalanya meskipun dengan perasaan sedikit kecewa. Karena tadinya Aluna ingin memberikan kabar bahagia tentang kehamilannya itu sebagai kado ulang tahun untuk Erik saat lusa nanti. Tapi karena ia jatuh pingsan, mau tidak mau kejutan tentang kehamilannya terbongkar lebih awal.