
Nick yang menyusul Aluna, keluar dari dalam restaurant untuk mencari keberadaan wanita tersebut.
"Sial, dia sudah pergi," umpat Nick saat melihat mobil yang ditumpangi Aluna menjauh. "Mungkin lain waktu aku coba mendekatinya."
Ia pun memilih pergi dari restoran tersebut untuk menemui calon istrinya, karena sebenarnya malam ini mereka harus melakukan fitting disalah satu butik terkenal yang ada di Jakarta.
Sementara itu Aluna yang berada di dalam mobil, tengah mengumpat Erik berulangkali juga mengumpat pada dirinya sendiri kenapa bisa mencintai pria sebodoh Erik Cokordinata.
"Anda baru sadar kalau Tuan Erik bodoh," sahut Revano setelah mendengar semua umpatan Nona nya yang memekakkan telinga.
Ia bahkan harus menepikan kendaraan mereka, karena tidak bisa berkonsentrasi menyetir.
"Diam No," bentak Aluna dengan wajah yang memerah karena amarah.
"Anda pasti menyesal sudah menikah dengan pria bodoh itu?" Revano kembali bersuara meskipun telah dilarang.
Aluna sendiri diam tak menggubris ucapan sang supir yang selalu ikut campur dengan masalahnya.
"Bagaimana kalau suami Anda ditukar tambah saja, Nona."
"Tukar dengan apa?" tanya Aluna dengan bingung.
"Tukar saja dengan pria arab, mereka terkenal pintar. Selain itu panjang dan besar...."
"Apanya yang panjang dan besar?" Aluna semakin bersemangat. Rasa amarahnya hilang seketika jika sudah berkaitan dengan hal yang berbau mesum.
Maklum saja, usianya sudah cukup matang namun sampai detik ini Aluna belum pernah merasakan namanya bercinta meskipun ia sudah memilki suami.
"Panjang usianya, dan besar kekayaannya..." seloroh Revano sembari tertawa. Terlebih saat melihat wajah Aluna yang kesal dari kaca spion, membuat tawanya semakin keras.
"Tidak lucu..." Ketus Aluna sembari memukul bahu sang supir.
Revano mengaduh sesaat lalu kembali tertawa. Ia tak masalah di pukul, dicekik, ditimpuk dengan apa pun asalkan Nona Aluna melupakan rasa amarahnya. Karena ia tidak suka melihat wanita itu emosi bahkan bersedih.
*
*
Padahal Erik ingin membicarakan tentang pernikahan mereka. Ia ingin mengajukan perceraian karena Agatha terbukti tidak bersalah dan tidak merebut Nick dari Aluna.
Namun sejujurnya bukan masalah perceraian mereka saja yang sedang dipikirkannya. Tapi sesuatu yang sejak tadi membuatnya kesal hanya karena melihat tangan Nick menggenggam tangan Aluna.
"****! Kenapa aku ini?" umpatnya sembari mengusap wajah dengan kasar.
Dari pada memikirkan hal yang membuatnya kesal. Erik pun memutuskan masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket oleh keringat. Ia berjalan masuk setelah melepaskan kemeja dan celana panjang, hingga tersisa celana boxer yang menutup keperkasaannya.
Erik yang ingin merendam tubuhnya yang terasa lelah membuka pintu dihadapannya.
Ah...
Teriak Aluna dan Erik bersamaan. Keduanya terkejut dengan posisi Aluna yang keluar dari dalam bathtub dengan tubuh telanjangnya, sementara Erik yang hanya mengenakan celana boxer.
Aluna yang terkejut pun kembali masuk kedalam bathtub, sementara Erik yang masih berdiri ditempatnya hanya bisa menelan saliva susah payah setelah melihat pemandangan indah yang ada didepan matanya.
Hal yang wajar bukan jika gairahnya terbakar saat melihat tubuh polos Aluna,. karena ia masih pria normal yang akan terangsang melihat hal-hal seperti itu.
"Kenapa diam saja? Kalau mau bergabung, kemarilah!" Aluna menepuk air berbusa disekitarnya.
Ya, setelah rasa terkejutnya menghilang ia kembali tersadar jika Erik suaminya dan mereka sudah sah untuk melakukan apa pun. Apalagi mengingat mereka belum pernah unboxing, jadi ini kesempatan bagus untuk Aluna bisa memiliki Erik seutuhnya.
Erik sendiri memilih hendak beranjak dari tempat tersebut sebelum gairahnya semakin terbakar. Karena ia tidak ingin menyentuh Aluna terlebih niatnya ingin menceraikan wanita itu.
"Eh, mau kemana?"
Aluna yang terburu-buru keluar dari dalam bathtub sampai terpeleset. Untung Erik menahan tubuhnya hingga ia tidak terjatuh keatas lantai. Tubuh keduanya yang kini saling bersentuhan tanpa adanya penghalang, membuat dua insan itu terbakar oleh api gairah yang siap meluluhkan lantakkan keduanya.