
"Aluna tunggu! Lun..." Erik menatap punggung Aluna yang menghilang di balik pintu dengan tatapan nelangsa.
Bagaimana bisa wanita itu pergi begitu saja setelah membuat miliknya berdiri sempurna, dan tinggal sedikit lagi merasakan kenikmatan yang luar biasa.
"****! Bagaimana ini?" Mau tak mau Erik berlari menyusul Aluna kedalam kamar, untuk meminta pertanggung jawaban wanita itu agar menuntaskan hasratnya. Karena kalau tidak kepala atas dan bawahnya bisa pusing seharian ini.
Namun sial, saat ia hendak membuka pintu kamar tenyata pintu itu sudah terkunci dari dalam. Hingga Erik pun mau tidak mau pasrah dengan bermain solo kembali di dalam kamar mandi yang ada di dekat dapur.
Sementara itu Aluna yang berada di dalam kamar, tertawa terbahak-bahak membayangkan bagaimana wajah Erik tadi yang terlihat nelangsa menahan gairah.
"Tidak sia-sia aku bergadang mempelajari cara memuaskan seorang pria?"
Ya, tadi malam saat ia hendak terlelap dalam tidurnya. Aluna kembali bangun lalu browsing di internet bagaimana caranya membuat pasangan kita merasa puas untuk membalas perbuatan Erik. Dan seperti yang terjadi tadi, Aluna berhasil membuat Erik kelimpungan digantung saat enak-enaknya.
"Rasakan kau...!". Umpatnya sembari masuk kedalam kamar mandi.
Sebelum pergi bekerja. Pasangan suami-istri itu memulai hari mereka dengan sarapan meskipun situasi diruangan tersebut terasa beku, dimana Erik diam seribu bahasa karena masih kesal dengan perbuatan Aluna tadi. Sampai wanita itu datang dengan membawa makanan ke atas meja.
"Tara..."
Dengan tersenyum Aluna menatap hasil makanan yang dibuatnya dengan susah payah.
Erik menatap keatas piring dengan kening berkerut. Sebuah telur mata sapi atau lebih tepat disebut telur dua mata sapi karena warna kuningnya yang terbelah dua.
"Kau menghabiskan waktu dua puluh menit hanya untuk membuat telur dua mata sapi ini?" tanya Erik dengan tak percaya.
"Ish, ini namanya telur mata sapi," ralat Aluna tak terima. "Ini telur yang mendekati sempurna karena sepuluh telur lainnya gagal total." ucapnya sembari duduk diatas kursi makan.
"Sepuluh?" tanya Erik dengan bingung.
Aluna menganggukkan kepalanya. "Yang lainnya gagal total, ada yang hitam gosong, ada yang bentuknya hancur, ada yang —"
"Sudah-sudah...!"
Erik enggan mendengar penjelasan Aluna yang pastinya tak berujung. Ia lebih memilih memakan telur buatan wanita itu meskipun ragu dengan rasanya, mengingat Aluna dulu pernah gagal membuat minuman dengan salah mencampur gula dengan garam.
Uhuk...
Baru satu gigitan, Erik langsung tersedak karena rasa telur yang begitu asin.
"Berapa banyak garam yang kau masukkan?"
Aluna menautkan kedua alisnya dengan berpikir. "Em, sedikit hanya satu sendok makan."
"What?"
Erik pun berlari menuju wastafel untuk membasuh lidahnya yang masih terasa asin. Namun langkahnya terhenti saat melihat dapur bersihnya kini berantakan dengan kulit telur yang berserakan dimana-mana.
"Aluna Ricardo!" teriak Erik dengan penuh emosi.
Aluna yang berada di meja makan tentu saja dapat mendengar teriakan sang suami. Namun tidak ia pedulikan karena tenggorakan nya terasa tercekat saat merasakan telur buatannya yang begitu asin.
*
*
Selama diperjalanan baik Erik dan Aluna saling diam, hingga keduanya sampai di hotel milik keluarga Ricardo.
"Kau telat sepuluh menit, Erik. Jadi gajimu bulan depan aku potong lima persen," ucap Aluna yang baru saja duduk di kursi kerjanya.
Erik hanya diam sembari menutup kedua mata untuk mengusir emosi yang sejak tadi bercokol dihatinya. Setelah semua yang terjadi, wanita yang berstatus sebagai atasan sekaligus istrinya itu memotong gajinya karena ia terlambat sepuluh menit. Padahal ia terlambat karena perbuatan wanita itu yang membuang waktu selama dua puluh menit hanya untuk membuat telur. Sebuah sarapan yang ujung-ujungnya tidak bisa ia makan, hingga keduanya memutuskan membeli sarapan di restoran cepat saji.