
"Tunggu apa lagi? Cepat pergi dari rumahku sekarang juga, atau aku akan...."
Aluna terdiam sesaat ketika menyadari kebodohan yang telah dilakukannya. Bagaimana bisa ia lupa jika rumah itu bukanlah miliknya atau pun milik Erik, karena Erik hanya menyewa selama satu tahun.
"Akan apa?" tantang Erik dengan tersenyum penuh arti sembari menarik Aluna ke dalam pelukannya.
"Aku akan...."
Aluna yang tak dapat menjawab pertanyaan Erik, hanya bisa menelan salivanya susah payah saat pria itu menatapnya dengan intens. Tatapan yang begitu dalam hingga ia hanyut oleh pesona kedua manik itu sampai tak sadar kini sudah berada di dalam gendongan Erik. Aluna baru tersadar justru saat tubuhnya sudah berada di atas ranjang, dengan tubuh kekar Erik yang mengungkungnya.
"Kau mau apa?" tanya Aluna dengan harap-harap cemas.
Dengan posisi mereka yang begitu intim tentu saja membuat otaknya bertraveling, membayangkan akankah mereka melanjutkan kegiatan panas yang sempat tertunda karena rasa sakit yang tidak bisa ditahannya.
"Menurutmu apa yang akan aku lakukan?" Erik bertanya balik dengan seringai tipis di bibirnya.
"Ma-mana aku tahu, sekarang menyingkirlah! Aku ingin pulang."
Aluna berusaha mendorong tubuh kekar suaminya, namun tubuh itu tidak berubah posisi sedikit pun justru semakin mendekat hingga hidung mereka saling bersentuhan.
"Kau tidak bisa pulang atau pergi kemana pun, karena tempatmu bersamaku. Di sini kita akan memulai semuanya dari awal."
Erik mengecup bibir Aluna dengan tangan yang mencengkram kedua lengan wanita itu agar tidak bisa melarikan diri.
"Sayang sekali aku tidak menerima sebuah penolakan."
Erik kembali mencium Aluna meskipun dengan memaksa. Ia tidak peduli dengan penolakan yang dilakukan wanitanya itu, karena Erik sudah bertekad untuk memulai semuanya dari awal bersama Aluna. Dan awal yang bagus untuk hubungan mereka di mulai dengan saling memiliki satu dan lainnya. Dengan kata lain Erik akan mengulang kegiatan panas mereka yang sempat tertunda tiga hari yang lalu.
"Erik, hentikan!" seru Aluna dengan napas memburu dengan kilatan gairah di kedua matanya.
Bagaimana tidak terbakar oleh gairah, karena saat ini Erik tengah mencumbunya di setiap area sensitifnya. Bahkan pra itu banyak meninggalkan bekas kiss mark pada tubuh atasnya yang sudah polos tanpa sehelai benang pun, entah sejak kapan ia lupa karena begitu terhanyut oleh sentuhan pria itu.
Erik sendiri tidak mempedulikan permintaan Aluna. Bisa pusing tujuh keliling jika ia harus berhenti sekarang di saat gairahnya sudah benar-benar terbakar. Bahkan dengan tidak sabaran ia melepas semua yang menjadi penghalang di antara mereka, sampai tak ada sehelai benang pun yang melekat di tubuh keduanya.
"Aku tidak akan berhenti sebelum kau mendapatkan hukuman, Aluna Cokrodinata!"
Bersamaan dengan ucapannya itu terdengar suara Aluna yang melenguh kesakitan, tanda jika kini keduanya telah bersatu. Bukan hanya Aluna yang merasakan sakit, tapi Erik juga karena punggungnya di cakar oleh kuku-kuku panjang Aluna.
"Sakit sialan!" umpat Aluna dengan sendu. Karena rasanya ternyata masih perih seperti pertama kali mereka melakukannya. Bahkan lebih sakit, karena kini miliknya terasa penuh.
Erik tidak mempedulikan umpatan Aluna, karena konsentrasinya kini adalah membuat rasa sakit itu menjadi rasa nikmat. Ia pun mulai bergerak dengan perlahan menikmati setiap detik momen pertama mereka, walaupun punggungnya menjadi korban dari cakaran Aluna di setiap gerakan percintaan mereka.
Bahkan bukan hanya punggungnya yang menjadi korban, tapi dada bidang dan lehernya menjadi korban dari gigitan Aluna. Hingga ruangan yang menjadi saksi bersatunya dua insan yang kini tengah bergumul di atas ranjang, tidak hanya dipenuhi oleh ******* dan lenguhan tapi rintihan sakit saat cakaran dan gigitan menghujani tubuh Erik.