
"Sayang..."
Tawa Erik terhenti, bulu kuduknya terasa meremang saat mendengar suara Aluna yang memanggilnya dengan sebutan sayang. Terlebih saat melihat wanita itu sudah berada disisinya dengan merangkul manja. Kalau saja diruangan itu hanya ada mereka berdua, ia sudah mengumpat Aluna dengan nama-nama yang ada di kebun binatang.
"Ayo, kita masuk ke kamar."
Erik menggelengkan kepalanya, bayangan akan diperkosa oleh Aluna kembali berputar dibenaknya.
"Hei, kenapa diam saja? Cepat pergi! Adik iparku sudah tidak sabar." Sky tertawa, terlebih saat melihat ekspresi wajah Erik yang terlihat tegang.
"Kau benar kakak ipar, aku memang sudah tidak sabar," sahut Aluna sembari menarik tangan Erik.
Namun pria yang sudah berstatus sebagai suaminya itu menolak. Erik justru menatapnya dengan tatapan tajam, membuat Aluna merasa semakin gemas pada pria itu yang terus-menerus menolaknya.
"Kau masuk saja dulu, aku menyusul."
"No.. No.. No, kau harus ikut denganku sekarang atau kita akan melakukannya disini, sekarang juga!" ancam Aluna dengan berbisik.
"Memang kau berani?" Erik balik menantang, karena tidak mungkin Aluna bersikap gila didepan seluruh keluarga besarnya.
Namun apa yang dipikirkannya itu salah, karena ternyata Aluna menerima tantangannya dengan menaikkan gaun pengantin yang dikenakan wanita itu hingga memperlihatkan paha mulusnya.
"Kau gila, ya! Apa yang kau lakukan?" umpat Erik sembari berdiri dihadapan Aluna untuk menutupi wanita itu dari Sky dan Abian dengan panik. Ternyata wanita yang dinikahinya ini benar-benar gila dan nekat.
"Apa yang kulakukan?" Aluna mengulang pertanyaan Erik dengan tersenyum geli. "Aku hanya ingin membenarkan gaunku saja."
Rasanya Aluna ingin sekali tertawa terbahak-bahak melihat kepanikan di wajah Erik. Pria yang berstatus sebagai suaminya itu tenyata mudah sekali dibohongi, hanya dengan sebuah ancaman.
Ya, ancaman. Karena mana mungkin ia berani bercinta dengan ditonton oleh seluruh keluarga besarnya.
"Aku tunggu dikamar kita, nanti ada pelayan yang akan mengantarmu ke kamar." ucap Aluna sebelum berlalu dari tempat tersebut.
"Aku harus bersikap tegas, sudah cukup selama ini aku dipermainkan." Tekad Erik dalam hati sembari berjalan mengikuti pelayan menuju kamar Aluna.
Ya, setelah seluruh kerabat yang hadir di acara pernikahannya pulang, Erik pun mau tidak mau beranjak pergi ke kamar Aluna dengan satu tujuan yaitu menceraikan wanita itu saat ini juga.
Namun saat ia masuk ke dalam kamar Aluna, tujuan untuk menceraikan wanita itu lenyap begitu saja berganti dengan keterpukauan saat melihat wanita itu berbaring di atas ranjang, dengan lingerie tipis berwarna merah menyala yang sangat kontras dengan kulit wanita itu.
Erik bahkan harus menelan salivanya susah payah, melihat tubuh Aluna yang terekspos dibalik lingerie tipis tersebut. Terlihat dengan sangat jelas wanita itu tidak mengenakan apa pun dibalik lingerie yang dikenakannya, sampai ia bisa menebak berapa ukuran dada yang dimiliki Aluna.
"Gawat, bisa-bisa akulah yang memperkosanya," umpat Erik dalam hati.
"Sayang, kemarilah!" Aluna menepuk sisi kosong disampingnya dengan suara yang menggoda.
Percayalah Aluna bahkan merasa geli sendiri menggoda Erik, karena jujur ia tidak pernah melakukan hal seperti itu. Jangankan menggoda, bersentuhan dengan pria saja Aluna tidak pernah melakukannya.
"Jangan diam saja disana, aku sudah tidak tahan..." Aluna pun berinsiatif mendekat pada Erik, karena pria itu diam saja.
"Jangan mendekat, Lun." Erik menghindar dengan cepat. Hingga Aluna hanya memeluk angin bukan tubuhnya.
"Ayolah Erik, jangan-jangan malu-malu seperti itu." Aluna kembali mendekati Erik yang terus menjauh.
Keduanya pun kini berlarian mengelilingi seluruh kamar dan tempat tidur, dengan posisi Aluna yang mengejar dan Erik yang dikejar. Hingga mereka kelelahan dan tanpa sadar duduk bersisian diatas ranjang.
"Kau itu seperti anak gadis yang takut kehilangan keperawanan saja," ketus Aluna dengan kesal.
"Apa? Kau bilang apa?" tanya Erik tak terima.
"Kau itu seperti anak gadis yang —"
Aluna tak dapat meneruskan perkataannya, saat bibirnya dibungkam oleh ciuman yang begitu kasar dan menggebu.