
"Maafkan aku Agatha, aku memang bersalah." Erik mengusap air mata di kedua pipi wanitanya.
Dengan pikiran yang berkelana, apakah Aluna juga kini tengah menangis, mengingat kejadian tadi pasti sangat melukai hati dan harga diri istrinya itu.
"Kau jahat, Erik! Jahat! Bagaimana dengan rencana pernikahan kita? Bagaimana?"
Ya Tuhan, Agatha pikir Erik hanya berselingkuh saja. Tapi nyatanya pria itu sudah melangkah jauh dengan menikahi Aluna. Apakah itu artinya ia telah kalah? Karena Aluna telah berhasil merebut Erik dengan ikatan yang begitu kuat.
"Maaf Agatha, rencana pernikahan kita tidak bisa dilanjutkan dengan statusku yang sudah menikahi," ucap Erik dengan berat hati. "Aku tidak bisa meninggalkan Aluna setelah apa yang terjadi."
Itulah keputusan Erik. Ia akan melepas Agatha karena tidak mungkin melanjutkan hubungan mereka, dimana ia sudah mengambil kesucian Aluna. Sedangkan Agatha, dia tidak merusak sang tunangan sehingga Erik tidak punya beban besar untuk meninggalkan Agatha kecuali perasaan cintanya.
"Tidak, kau tidak boleh meninggalkan aku. Bukankah kau sangat mencintaiku?"
"Ya, aku mencintaimu Agatha, tapi —"
"Aku juga mencintaimu. Kita saling mencintai. Kau tunanganku, kita sudah lama menjalin hubungan. Lalu kenapa kau lebih memilih dia daripada aku?" ucap Agatha dengan sendu.
"Agatha..."
"Aku memaafkan kesalahanmu, Erik. Aku menerimamu apa adanya karena aku sangat mencintaimu. Jadi aku mohon lepaskan wanita itu, kita bisa memulai semuanya dari awal."
Agatha akan mempertahankan Erik, tak peduli pada kenyataan kalau pria itu sudah sangat mengkhianatinya. Yang terpenting saat ini hanyalah satu, mempertahankan Erik dan menyingkirkan Aluna.
Erik sendiri hanya diam karena bingung harus berbuat apa. Ia bahkan pulang dari rumah Agatha tanpa memberikan kepastian pada wanitanya.
Dengan langkah gontai Erik berjalan masuk ke dalam rumah. Rumah di mana ia tinggal bersama Aluna.
"Dia pasti tidak pulang," tebak Erik dengan menatap seluruh ruangan yang gelap tanpa adanya penerangan.
Ia tahu betul bagaimana Aluna. Wanita yang berstatus sebagai istrinya itu tidak akan pulang jika tengah marah atau kecewa seperti yang sudah-sudah. Dan benar saja, semalaman Erik menunggu. Aluna tidak menampakkan batang hidungnya. Bahkan di hotel pun Aluna tidak ada. Wanita itu tidak masuk dan hanya menyuruh orang kepercayaannya untuk menghandle semua pekerjaan.
Dan itu terjadi bukan hanya satu hari, tapi sudah tiga hari ini Aluna tidak bekerja juga tidak pulang ke kediaman mereka. Membuat Erik khawatir dengan keadaan Aluna, terlebih istrinya itu juga tidak bisa dihubungi sama sekali. Ia juga sudah bertanya di mana istrinya itu pada orang kepercayaan Aluna. Tapi pria dengan nama Andi itu tidak mau memberitahunya sama sekali.
"Sayang, kenapa tidak di makan?" Agatha menatap hidangan yang ada di atas piring kekasihnya yang masih utuh tak tersentuh sama sekali.
"Aku masih kenyang," jawab Erik dengan berbohong.
Walaupun perutnya lapar tapi ia tidak berselera untuk makan di saat pikirannya tidak tenang memikirkan keadaan Aluna.
"Kalau begitu aku juga sudah kenyang." Agatha menjauhkan makanan miliknya dengan merajuk, agar Erik mau makan bersamanya.
Erik menghela napasnya dengan berat lalu mendorong makanan Agatha kembali ke tempatnya.
"Makanlah, aku akan ikut makan."
Agatha pun tersenyum penuh kemenangan. Lihatlah, Erik tidak akan pernah tega melihat Agatha kesusahan dan bersedih, dan itu akan ia jadikan sebagai kunci untuk membuat Erik tetap berada disisinya.
"Oh ya sayang, apa kau sudah bicara pada ja..." Agatha terdiam saat Erik menatapnya dengan tajam. "Maksudku apa kau sudah bicara pada Aluna tentang pengunduran dirimu?"
"Aluna belum kembali. Aku juga belum memutuskan untuk berhenti atau tidak."
Mendengar jawaban Erik tentu saja membuat Agatha emosi. Tapi sekuat mungkin wanita itu menahannya agar hubungan mereka tidak kembali memanas.
Setidaknya untuk saat ini ia bisa bernapas dengan lega dengan kepergian Aluna entah karena apa. Padahal rencananya untuk membuat wanita murahan itu malu dengan pemberitaan di media online telah gagal. Karena entah mengapa tidak ada satu orang pun yang meng-upload atau menayangkan insiden tiga hari yang lalu
"Aku harap wanita murahan itu tidak akan pernah kembali," pinta Agatha dalam hati.
Namun keinginannya itu tak terkabul, saat mendengar suara Erik yang memanggil nama wanita murahan itu.
"Aluna..."
Erik menatap wanita yang selama ini ia khawatirkan. Menatap dengan tangan terkepal erat saat melihat wanitanya tengah bersama sosok pria.