
Seorang pelayan mempersilahkan Aluna untuk masuk ke dalam bangunan mewah dan kokoh tersebut. Sebuah bangunan yang sudah sangat lama tidak ia kunjungi, karena kesibukannya dan kesibukan sang pemilik bangunan tersebut.
"Apa kabarmu?"
Aluna yang tengah menatap foto-foto yang ada di atas dinding, membalik badan lalu tersenyum saat melihat Boy Arbeto yang langsung duduk di atas sofa.
Ya, Aluna memutuskan pergi ke mansion utama untuk menemui sepupunya tersebut. Karena hanya Boy yang bisa membantunya keluar dari masalah yang sedang dihadapi Aluna.
"Baik, kau sendiri?" tanyanya sambil duduk di samping sang sepupu.
"Kau bisa lihat sendiri, kabarku baik," jawab Boy dengan menatap intens wajah Aluna. "Jadi, apa yang sudah suamimu lakukan?" tanyanya to the poin, membuat senyum dibibir Aluna menghilang berganti dengan kerutan pada keningnya.
"Kenapa kau berpikir suamiku melakukan sesuatu?" Aluna balik bertanya.
Boy yang ditanya hanya tertawa sambil menyilangkan kedua tangan di depan dada. "Karena semua wanita dari klan kita pasti lari padaku saat mengalami masalah dalam rumah tangga mereka," selorohnya dengan rasa bangga. "Sekarang katakan apa yang harus aku lakukan pada suamimu? Membuatnya masuk rumah sakit atau kuburan?"
"B, kau itu sadis sekali. Mana mungkin aku membiarkan suamiku tersayang masuk rumah sakit apalagi kuburan," gerutu Aluna dengan mencebikkan bibirnya.
"Lalu untuk apa kau datang kemari?"
Boy mengerutkan keningnya dengan bingung, Karena tidak mungkin Aluna datang ke mansion utama hanya untuk berkunjung menanyakan kabarnya.
"Tentu saja meminta bantuanmu."
"Bantuanku?" Boy yang tadi sempat bingung, kini menatap tajam pada Aluna. "Sekarang masalah apa lagi yang sudah kau buat?"
Bukan tanpa alasan Boy menuduh seperti itu, karena memang putri ketiga Ricardo itu selalu membuat masalah. Dulu saja wanita itu pernah menjebak Abian Atmajaya hanya agar pria itu menikah dengan Alena.
"Oh ya ampun, kenapa jadi aku yang dituduh membuat masalah?" protes Aluna dengan kesal.
"B...!" Aluna menepis tangan sepupunya dengan semakin kesal. "Aku itu tidak pernah membuat masalah."
"Tidak pernah? Kau lupa sudah membuat masalah pada Alana, Abian, dan Alena?"
"Itu..."
"Kau juga sudah menjebak Erik bahkan menculiknya agar menikahimu," ucap Boy tanpa memberikan kesempatan bagi Aluna untuk berkilah.
Merasa sudah tersudut oleh semua ucapan Boy, Aluna pun memilih diam tak membela diri.
"Sebenarnya kau itu bisa membantuku tidak?" tanya Aluna dengan sengit.
Karena tujuannya datang ke mansion utama untuk meminta bantuan, justru di sidang oleh kesalahan yang pernah dibuatnya.
"Baiklah apa yang bisa aku bantu?" tanya Boy setelah menghela napasnya karena tidak tega melihat Aluna tertimpa masalah.
Aluna yang sempat kesal kini tersenyum dengan lebar. "Bantu aku untuk membuat satu keluarga jatuh dan bangkrut," ucap Aluna dengan penuh semangat, sampai membuat Boy bergidik ngeri.
Bagaimana bisa sepupunya yang cantik itu begitu bersemangat membuat sebuah keluarga jatuh bangkrut. Tapi setelah sadar yang duduk di sampingnya itu Aluna Ricardo, Boy pun memakluminya. Karena memang sepupunya yang satu ini sangat berbeda dari ketiga saudara kembar lainnya. Aluna lebih pintar, licik, dan manipulatif, Aluna juga seorang wanita yang akan melakukan apa pun demi mencapai keinginannya.
"Siapa yang harus aku buat bangkrut?" tanya Boy dengan serius.
"Keluarga Aji, Aji Cokrodinata."
"Wow ..." seru Boy dengan bertepuk tangan. "Kau ingin membuat keluarga mertuamu bangkrut? Aku jadi penasaran apa yang sudah keluarga Cokrodinata lakukan sampai membuatmu begitu marah."
Karena tidak mungkin seorang Aluna yang tidak mudah tersinggung, melakukan hal yang kejam pada orang lain jika seseorang itu tidak melakukan kesalahan yang fatal.