My Husband My Assistant

My Husband My Assistant
Bab 62



Suasana di ruang tengah yang biasanya sepi karena sang pemilik rumah jarang menghabiskan waktunya di ruangan tersebut. Kini terasa begitu mencekam dan tegang, dengan hadirnya beberapa orang yang saat ini tengah duduk di atas sofa yang ada di ruangan tersebut.


Baik Erik, Aluna, maupun Agatha duduk berdampingan seperti seorang terdakwa. Sementara beberapa orang lainnya duduk di hadapan mereka layaknya seorang hakim yang tengah mengintrogasi ketiganya.


Bahkan Aluna yang sejak tadi merasa bingung dengan kehadiran orang-orang asing tersebut. Terus menatap dengan menelisik pada empat orang tamunya secara bergantian. Karena selain penampilan mereka yang terlihat berbeda, Aluna juga bingung bagaimana bisa seorang tamu yang tak di undang justru bersikap layaknya seorang tuan rumah.


Erik sendiri menatap orang-orang yang datang ke kediamannya dengan tatapan dingin dan tak suka, meskipun ia mengenal dengan jelas siapa mereka.


"Ada keperluan apa Anda datang kemari?" tanya Erik pada pria paruh baya yang duduk di hadapannya, setelah cukup lama mereka terdiam.


Pria paruh baya tersebut tak menjawab pertanyaan Erik, dia justru tertawa sinis sambil menggelengkan kepalanya.


"Begini caramu berbicara pada orang yang lebih tua?"


Kini gantian Erik yang tertawa sinis dengan tatapan yang begitu tajam, membuat Aluna yang duduk di samping pria itu semakin bingung dengan apa yang terjadi. Karena tidak biasanya Erik bersikap sangat dingin dan terlihat menyeramkan, terlebih pada orang asing.


Dan bukan hanya Aluna saja yang bingung, Agatha yang ikut duduk di ruangan tersebut pun masih menerka-nerka apa yang sebenarnya tengah terjadi. Dan siapa orang-orang asing yang duduk di hadapannya, sambil mengusap pipinya yang masih terasa panas karena bekas tamparan Aluna.


"Anda tahu betul bagaimana aku, jadi tidak perlu berbasa-basi lagi katakan ada apa Anda datang kemari?"


Pria paruh baya yang masih terlihat gagah dan penuh wibawa itu tak mempedulikan pertanyaan Erik. Ia justru menatap pada wanita yang duduk di sampingnya dengan tersenyum sinis.


"Kau lihat itu, putra kesayanganmu ternyata tidak berubah. Setelah meninggalkan keluarga besar Cokrodinata, kelakuannya semakin kurang ajar!"


"Putra?" pekik Aluna dan Agatha bersamaan dengan sangat terkejut.


"Ck, anak dari seorang gundik mana mungkin punya sopan santun," celetuk wanita paruh baya lainnya.


Membuat Aluna dan Agatha semakin terkejut sampai tak bisa berkata-kata. Aluna bahkan langsung menatap pada Erik guna mencari kebenaran dari semua yang didengarnya.


"Tutup mulut Anda Nyonya Cokrodinata!" sentak Erik dengan penuh amarah.


Dia tidak terima dengan perkataan istri pertama ayahnya, setelah selama ini Erik selalu diam dan mengalah. Sampai akhirnya ia memilih menjauh dan keluar dari keluarga besar Cokrodinata, tanpa membawa apapun karena ingin bebas menikmati hidup tanpa adanya pertikaian, dan tekanan dari keluarga istri pertama Aji Cokrodinata.


"Lihat Pak, anakmu itu berani melawanku," adu Iriana.


"Aku hanya melawan pada orang-orang yang tak punya hati."


"Kau, dasar anak kurang —"


"Diam kalian semua!" Sentak Aji dengan sangat tegas bahkan menggelegar sampai membuat semua orang yang ada di ruangan tersebut langsung terdiam. "Dan kau, jaga ucapanmu. Bagiamana pun Iriana Ibumu juga."


"Ibu ku hanya satu yaitu Ibu Lilian," ucap Erik sambil menatap ibu kandungnya yang terlihat menggelengkan kepala.


Memberi isyarat agar ia diam dan tak lagi melawan pada Aji Cokrodinata. Pada pria yang memiliki kekuasaan di tempat kelahirannya, dan sialnya pria itu berstatus sebagai ayah kandungnya.


Ya, keluarga besarnya merupakan keluarga berada dan terpandang. Meskipun tak sekaya keluarga besar Arbeto dan klan nya, tapi keluarga Cokrodinata masih memiliki pengaruh yang lumayan besar di kota tempat tinggal mereka.