
Erik yang merasa tersudut dengan perkataan Aluna, melepas wanita itu dari pelukannya.
"Hentikan omong kosong mu itu! Lebih baik kita mulai berkerja."
Aluna hanya mengangkat kedua bahunya dengan acuh, sembari berjalan ke meja kerjanya. Namun lagi-lagi Erik menahan langkahnya hingga membuat Aluna kesal.
"Apalagi?"
"Mulai hari ini kita pindah dari apartemen."
"Pindah?" Aluna mengerutkan keningnya dengan bingung.
Baru semalam ia tidak pulang ke tempat Erik, tapi sekarang suaminya justru mengajaknya pindah.
"Aku tidak ingin Agatha sampai mengetahui kita tinggal bersama di apartemen itu, jadi solusinya kita yang pindah."
"Agatha lagi," cibir Aluna dengan menahan kekesalannya. "Baiklah kita pindah, tapi kau harus berjanji disana kita akan membuat anak."
Erik menggelengkan kepalanya dengan tegas. "Kau mau ikut pindah silahkan, jika tidak pun aku tidak peduli."
"Ck, kau itu menyebalkan sekali!" gerutu Aluna hendak berjalan kembali ke meja kerjanya. Tapi untuk ke empat kalinya pria itu menahan langkahnya. "Sekali lagi menahan langkahku, aku cium!" ancam Aluna dengan memajukan bibirnya.
Erik yang merasa geli pun tak lagi menahan Aluna, membiarkan wanita itu menuju tempat kerjanya.
Sedangkan Aluna berusaha untuk mengabaikan Erik dengan bersikap profesional. Mengerjakan pekerjaannya yang menumpuk dari pada menatap pria bermulut pedas itu. Namun belum ada lima menit berlalu, Erik kembali menanyakan pertanyaan yang menurutnya tidak penting.
"Kau belum menjawab pertanyaan ku, siapa pria asing yang kemarin?"
"Menyukaimu?" Erik tersenyum tipis. "Aku tidak menyangka ada pria yang menyukai wanita sepertimu. Tapi baguslah kau bisa kembali menjalin hubungan dengan pria itu agar kita bisa berpisah dengan cepat."
"Ck, mulutmu itu pedas sekali. Dengar baik-baik Erik Cokordinata, sampai kapanpun aku tidak mau berpisah denganmu," ucap Aluna dengan tegas.
"Cokrodinata," ralat Erik dengan tak suka,. karena Aluna lagi-lagi salah menyebut nama keluarganya. "Untuk apa kau bertahan dengan hubungan ini? Bukankah semua sudah jelas kalau Agatha tidak pernah merebut, atau berselingkuh dengan Nick? Jadi percuma saja kau membalas dendam dengan menahan hubungan kita."
"Kau salah Erik. Aku menikah denganmu karena memang mencintaimu. Rasa cinta itu sudah lebih dulu hadir sebelum aku tahu Agatha adalah tunanganmu."
Deg.
Erik terdiam mendengar ungkapan cinta Aluna yang terasa tulus sampai menyentuh hatinya. Ya, jika dulu ia akan biasa saja dan meremehkan setiap kata cinta dari wanita itu. Tapi sekarang Erik tidak bisa bersikap biasa saja saat hatinya merasa menghangat bahkan mungkin terharu oleh cinta yang dimiliki Aluna untuknya. Apalagi jika mengingat sikap Aluna yang tidak pernah marah bahkan tersinggung oleh perbuatannya yang selalu merendahkan wanita itu. Seandainya saja Erik belum memiliki Agatha, mungkin ia akan menerima cinta Aluna.
"****! Apa yang kau pikirkan, Erik? Bagaimana bisa kau berkata seperti itu? Agatha tidak akan tergantikan oleh siapa pun," umpatnya dalam hati sambil berlalu dari ruangan tersebut.
Sementara itu Aluna, hanya bisa menatap punggung Erik yang menghilang dari balik pintu dengan helaan panjang. Lagi-lagi perasaan cintanya di tolak. Bahkan seharian ini Erik bersikap sangat profesional tidak lagi membahas masalah pribadi mereka, hingga saat jam pulang tiba lagi-lagi pria yang berstatus sebagai suaminya itu pergi bersama Agatha.
"Sekarang kemana aku harus pulang?" tanya Aluna pada dirinya sendiri. Menatap mobil yang ditumpangi Erik dan Agatha, yang bergerak semakin menjauh hingga hilang dari pandangannya.
Untuk pulang ke apartemen Erik rasanya tidak mungkin, karena tadi pria itu mengatakan hari ini mereka akan pindah ketempat tinggal yang baru. Untuk pakaian mereka yang masih tertinggal di apartemen, tadi siang Erik sudah menyuruh orangnya untuk memindahkan semua pakaian mereka ketempat yang baru.
"Ya Tuhan, kenapa semuanya jadi begini?"
Aluna yang bingung kemana harus pulang, mendapatkan pesan singkat dari Erik. Pesan yang berisi sebuah alamat yang pastinya alamat tempat tinggal mereka yang baru.