
Mendengar jawaban Aluna, Erik kembali menghela napas dengan berat.
"Kita baru bertemu beberapa kali, kau juga tidak begitu mengenal siapa aku dan keluargaku. Tidak masuk diakal jika semua ini karena cinta."
"Tapi itu kenyataannya, aku mencintaimu. Jika tidak percaya belah lah dadaku ini."
Aluna mencondongkan tubuhnya melewati batas bantal, tapi lagi-lagi Erik menepisnya hingga kembali berbaring di tempat semula.
"Aku bukan anak kecil yang bisa kau bodohi. Ingat, kau pernah berkata tunangan ku merebut tunanganmu. Apa itu alasan sesungguhnya?" Karena hanya alasan itu yang paling masuk diakal dari pada cinta yang dikatakan wanita itu.
Aluna terdiam sesaat sembari berpikir. "Ya, mungkin itu salah satu alasannya. Membalas perbuatan tunanganmu yang sudah menjadi orang ketiga diantara aku dan calon suamiku. Rencana pernikahan yang sudah sedemikian rupa, harus kandas begitu saja karena ulahnya."
"Ck, kau memang gila Aluna. Bagaimana bisa kau mengikatku pada hubungan pernikahan hanya untuk balas dendam pada sesuatu yang belum pasti?"
Karena Erik yakin tunangannya bukan wanita murahan seperti yang dikatakan Aluna. Ia tahu betul siapa wanitanya, karena hubungan yang mereka jalani bukan satu, dua bulan, tapi dua tahun lamanya.
"Apanya yang belum pasti, jelas-jelas tunangan mu berselingkuh dengan tunangan ku."
"Hentikan omong kosong mu! Tunanganku wanita baik-baik, tidak sepertimu yang licik." Erik menatap tajam Aluna dengan emosi.
"Baik-baik kau bilang? Tidur dengan pria yang sudah memiliki tunangan kau bilang baik?" sahut Aluna tak kalah emosi. "Bagiku wanita seperti itu adalah wanita ******."
"Aluna...!" bentak Erik.
"Apa...?" Sahut Aluna dengan nada suara yang meninggi.
Keduanya kini saling menatap dengan tajam. Jika tidak ada bantal pemisah diantara mereka, maka sudah dapat dipastikan keduanya atau kata yang lebih tepat Aluna, akan menghajar Erik dengan penuh emosi.
Aluna emosi karena Erik membela sang tunangan di depan wajahnya, sedangkan Erik emosi karena tak terima wanita yang dicintainya dihina sebagai ******.
"Sudahlah lebih baik kita tidur."
"Kenapa kau berteriak?" tanya Erik dengan gusar karena posisi mereka yang sempat berpelukan.
"Aku terkejut karena teriakanmu," jawab Aluna sembari mengusap dadanya. "Kau sendiri kenapa berteriak?"
"Karena kau."
"Aku?" Aluna menunjuk dirinya sendiri. "Jangan bilang kau berteriak karena terkejut melihat kecantikanku ini?" ucapnya sembari memajukan bibir hendak mencium sang suami yang terlihat sangat tampan dengan rambut acak-acakan khas bangun tidur.
Namun sayang keningnya lebih dulu di dorong oleh tangan Erik, sebelum bibirnya berhasil menyentuh bibir sang suami.
"Jangan macam-macam!" peringat Erik dengan tegas.
"Siapa yang macam-macam, aku hanya ingin satu macam. Menciummu."
Erik dengan sigap turun dari atas tempat tidur sebelum Aluna bertingkah gila lagi dengan menggodanya.
"Dengar Aluna, kita harus bicara serius!" ucap Erik dengan tegas, karena ini waktu yang tepat untuk membahas pernikahan mereka. "Aku akan membatalkan pernikahan kita."
"Apa?" pekik Aluna dengan terkejut.
Bagaimana tidak terkejut, suaminya ingin membatalkan pernikahan mereka yang belum berjalan dua puluh empat jam. Oh ayolah, Aluna tidak ingin menyandang status sebagai janda muda.
"Pernikahan ini tidak sah, aku dibawah tekanan saat melakukannya."
"Sah atau tidak sah, kau sudah menjadi suamiku. Jangan lupa orang yang sudah masuk ke dalam keluarga besar kami hanya bisa keluar tanpa nyawa."
Gleg.
Erik menelan salivanya susah payah, saat mendengar kata tanpa nyawa. Ia tidak menyangka kalau Aluna bukan hanya gila, tapi juga sangat kejam.