
"Kedua mata kalian benar-benar tidak bisa melihatkah, sampai tidak mengenal siapa keluarga Ricardo?" Boy menatap tajam pada pria dan wanita paruh baya tersebut secara bergantian. "Sepupuku ini dari keluarga Dokter terkenal yang memiliki beberapa rumah sakit di luar negeri, dan Aluna bukan hanya memiliki satu hotel tapi banyak hotel yang tersebar di seluruh kota."
Perkataan Boy tentu saja membuat Iriana terkejut hingga mulutnya menganga lebar, sungguh ia baru tahu ternyata keluarga Aluna cukup kaya bahkan mungkin lebih kaya dari keluarga Arumi. Terlihat dari sang suami yang hanya diam saja tak berkutik di hadapan menantu mereka dan pria yang seperti preman tersebut.
Berbeda dengan Iriana yang terkejut. Aji justru hanya diam saja karena pria itu memang sudah mengetahui sejak awal siapa keluarga Ricardo sebenarnya.
"Kalian benar-benar sudah melakukan kesalahan besar!" Boy tidak terima jika salah satu keluarga mereka dihina seperti itu.
Jika saja usia tuan Aji Cokrodinata itu seusianya, maka sudah ia buat masuk kuburan atau minimal masuk rumah sakit karena sudah menghina klan keluarga besar mereka.
"Tidak Nak, kalian salah paham. Kami—"
"Salah paham bagaimana? Bahkan kalian mengancam Erik agar menceraikan aku," sela Aluna kembali dengan emosi.
Bagaimana tidak emosi saat melihat sikap ayah mertuanya yang terus mengelak. Padahal jelas-jelas mereka ingin memisahkan ia dengan Erik, bahkan dengan menghalalkan berbagai cara termasuk mengancam Erik.
"Ck.. Ck. Tuan Aji Cokrodinata kau bukan orang tua yang baik," Boy menggelengkan kepalanya. "Baiklah semuanya sudah jelas sekarang, kalian berdua tidak menerima Aluna menjadi menantu di keluarga ini."
Baik Iriana maupun Aji diam tak ada yang menyela atau menyanggah sama sekali.
"Kalau begitu jangan salahkan aku akan membuat sedikit permainan bagi keluarga kalian," Boy beranjak dari tempat duduknya. "Ayo Aluna, kita pergi sekarang!"
"Tunggu!" Dengan panik Aji menghalangi keduanya yang hendak pergi. "Kita belum selesai berbicara, masih banyak kesalahpahaman yang harus diluruskan."
Boy menggelengkan kepalanya kembali. "Tapi bagi kami pembicaraan ini sudah selesai!"
"Tunggu, Bapak mohon."
"Diam Bu!" sentak Aji dengan semakin panik saat melihat Boy Arbeto terus berjalan tanpa menghiraukan permohonannya. "Kami mohon Nak."
Langkah kaki Boy terhenti lalu menatap pada Aluna yang ada di sampingnya dengan tersenyum penuh kemenangan.
"Kita masih bisa membicarakan ini semua dengan baik-baik," pinta Aji dengan sangat.
"Oke aku bersedia, tapi jika kalian sudah bisa menerima Aluna sebagai seorang menantu. Dengan kata lain menerima pernikahan Aluna dan Erik dengan tidak lagi ikut campur di dalam urusan rumah tangga mereka."
Aji terdiam dengan menatap Aluna lalu menatap Iriana. Sungguh ini pilihan yang sangat sulit, karena di satu sisi ia tidak ingin memiliki menantu dari keluarga yang lebih tinggi dari keluarganya. Tapi di satu sisi lagi ia tidak mungkin menolak permintaan Boy Arbeto jika tidak ingin dibuat jatuh dan bangkrut.
"Kami tidak akan pernah menerima dia sebagai menantu kami, karena bagi kami hanya Arumi yang akan menjadi menantu di keluarga Cokrodinata," tegas Iriana dengan angkuh.
"Bu..."
"Kenapa Pak, bukankah apa yang aku katakan benar?"
"Diamlah jika kau tidak ingin keluarga kita jatuh miskin!" sentak Aji dengan penuh amarah.
"Tapi Pak..."
"Kami akan menerimanya sebagai menantu, tapi dengan satu syarat."
"Ck, aku tidak sedang ingin bernegosiasi Tuan Cokrodinata." Boy ingin beranjak dari tempat tersebut, namun Aluna menghentikan langkah kakinya.
"Apa syaratnya?" tanya Aluna dengan raut wajah yang serius.