My Husband My Assistant

My Husband My Assistant
Bab 41



"Kau dengar?" Aluna menatap Erik yang diam saja.


"Iya, Nona," jawab Erik dengan datar.


"Pintar. Hari ini jadwal ku apa saja?" tanya Aluna yang kini sudah berkutat pada berkas yang kemarin belum sempat ia periksa.


Erik pun menjelaskan secara rinci kegiatan wanita itu dan membantu Aluna untuk mengurus beberapa berkas laporan keuangan. Keduanya bekerja secara profesional sampai waktu pulang tiba. Dan seperti biasa keduanya keluar dari ruangan bersamaan.


"Sayang...." Agatha berlari menghampiri Erik yang sejak tadi ditunggunya.


Erik juga Aluna yang baru keluar dari pintu lift, menatap sosok Agatha dengan tatapan berbeda. Jika Aluna menatap wanita itu dengan sinis, Erik justru menatap Agatha dengan penuh cinta.


"Kau disini?" tanya Erik dengan terkejut, karena ini kedua kalinya Agatha berada di hotel milik keluarga Ricardo.


"Ya, aku sengaja datang untuk menjemputmu," jawab Agatha tanpa memperdulikan Aluna yang berdiri disamping tunangannya.


"Menjemput?"


Agatha menganggukkan kepalanya. "Aku ingin main ke apartemen kita, sudah lama rasanya aku tidak datang berkunjung."


Gleg.


Dengan susah payah Erik menelan salivanya, sembari menatap Aluna yang tengah tersenyum penuh arti. Tidak mungkin ia membawa Agatha ke apartemennya karena ada Aluna yang menempati kamar mereka. Bisa hancur perasaan Agatha jika mengetahui hal tersebut, terlebih jika tahu tentang statusnya yang kini sudah menjadi suami dari wanita lain.


"Ayo sayang!" Agatha menarik tangan Erik, karena tidak suka saat melihat kekasihnya diam menatap Aluna.


Tidak akan ia biarkan kekasihnya itu dekat dengan wanita lain apalagi dengan Aluna. Terlebih perasaannya mengatakan jika Aluna ingin balas dendam dengan merebut Erik darinya. Itu sebabnya Agatha sengaja menjemput Erik, karena ingin menjaga sang kekasih hati dari mantan saingannya saat merebutkan Nick dulu.


"Tunggu sayang!" Erik menahan langkah Agatha. "Kita tidak bisa kesana."


"Kenapa?" tanya Agatha dengan bingung.


"Karena...."


"Karena apartemen itu—" Aluna tak dapat meneruskan perkataannya saat mulutnya dibekap, dan tubuhnya ditarik oleh Erik keluar dari hotel.


Seperti Dejavu. Karena pria itu kembali memaksanya untuk masuk kedalam mobil dimana Revano sudah siap dibelakang kemudi. Namun untuk kali ini Aluna tidak akan tinggal diam, ia menggigit tangan Erik hingga bekapan pada mulutnya terlepas.


"Kau..." Erik menatap bekas gigitan ditangannya.


"Apa?" tantang Aluna dengan tatapan tajamnya.


Ia tidak terima diperlakukan seperti itu oleh Erik, karena bagaimana pun wibawanya sebagai atasan sekaligus pemilik hotel harus terjaga mengingat semua karyawannya menatap apa yang dilakukan Erik tadi.


Erik yang hendak marah pun mengurungkan niatnya saat melihat tatapan Aluna, terlebih ketika melihat sosok pria yang berjalan menghampiri mereka.


"Aluna..."


Merasa namanya dipanggil, Aluna menatap pada sosok yang kini berdiri disampingnya. Ia mencoba mengingat sosok tersebut, sosok pria tampan yang tengah melepaskan kacamata hitam yang bertengger pada hidungnya.


"Azam...?"


Ya, Aluna baru menyadari pria yang memanggil namanya adalah Azam. Teman baik sekaligus pria yang pernah menaruh hati padanya saat jaman kuliah dulu.


"Ternyata benar kau."


Azam merasa bangga karena selalu bisa mengenali Aluna yang memiliki tiga saudara kembar. Ia pun memeluk wanita itu dengan erat karena begitu merindukan wanita cantik tersebut.


Aluna pun membalas pelukan tersebut tanpa menyadari ada sosok yang sejak tadi menatapnya dengan tajam. Sosok itu tidak lain dan tidak bukan Erik Cokrodinata, pria yang berstatus sebagai assisten sekaligus suaminya.