My Husband My Assistant

My Husband My Assistant
Bab 43



Erik yang merasa kesal karena mengetahui Aluna belum kembali, akhirnya memilih masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan tubuh sekaligus menghilangkan kepenatannya. Masalah Agatha yang mulai curiga saja sudah membuatnya pusing, sekarang ditambah dengan tingkah Aluna yang sesuka hati pergi bersama pria asing dan belum juga kembali.


Setelah selesai membersihkan tubuhnya. Erik memilih beristirahat sambil menunggu Aluna di atas sofa yang ada di ruang tengah, karena tidak mau satu kamar apalagi satu ranjang dengan wanita itu.


Lama ia menunggu kedatangan Aluna, sampai tertidur dan baru terbangun karena terkejut mendengar sesuatu yang berbunyi dengan keras.


"Lun..." Erik langsung bangkit dari atas sofa, bersiap untuk memarahi Aluna.


Namun ia terdiam saat melihat tak ada siapa pun diruangan tersebut. Kedua matanya justru menatap pada kaleng minuman yang tumpah keatas lantai. Bisa dipastikan suara yang didengarnya tadi adalah minuman yang terjatuh, bukan suara kehadiran Aluna.


"Sial, dia benar-benar menguji kesabaranku!" umpat Erik saat melihat jam yang menunjukkan pukul satu dini hari.


Erik yang emosi karena Aluna tidak juga pulang, mengambil ponselnya untuk menghubungi wanita tersebut.Tapi tenyata ponsel Aluna tidak aktif, membuat emosi di hatinya semakin tersulut. Apalagi sampai menjelang pagi Aluna belum juga menampakkan batang hidungnya.


"Kau harus dihukum Aluna, karena sudah berani membuatku bergadang semalaman," umpat Erik entah untuk keberapa kalinya hari ini, sembari bersiap berangkat ke tempat kerja.


*


*


" Selamat pagi...."


Aluna yang masuk kedalam ruang kerjanya, sempat terkejut saat mendengar ucapan selamat pagi dari sosok yang berdiri di ruangannya. Sosok dengan tangan terlipat dikedua dadanya itu, tidak lain dan tidak bukan suami sekaligus assisten pribadinya.


"Pagi..."


Aluna berjalan melewati Erik begitu saja, seolah kehadiran pria itu tidak mempengaruhi dirinya. Padahal ingin sekali Aluna memeluk suaminya, mencium bibir tebal dan sexy yang selalu bisa membuat ciuman mereka terasa panas. Ya, segila itu Aluna pada Erik meskipun berulang kali dikecewakan pria tersebut.


"Kau terlambat dua puluh menit!"


"Aku pimpinan sekaligus pemilik hotel ini, jadi kata terlambat tidak ada dalam kamusku," jawab Aluna tanpa berani menatap Erik.


Ia takut akan semakin menginginkan Erik dan itu tidak boleh terjadi, karena Aluna masih marah dengan sikap Erik yang lagi-lagi pergi bersama Agatha.


"Pimpinan..."


Erik berdecak dengan sinis, karena ucapan Aluna mengingatkan dirinya pada status mereka sebagai atasan dan bawahan.


"Hari ini apa kita ada meeting diluar?" tanya Aluna dengan mengalihkan pembicaraan mereka sembari berjalan menuju meja kerjanya.


Namun lagi-lagi Erik menahan langkahnya, dan kali ini pria itu membawanya kedalam pelukan tubuh kekar tersebut.


"Semalam kau kemana? Kenapa tidak pulang? Dan siapa laki-laki kemarin?" tanyanya beruntun dengan menatap tajam Aluna.


"Semalam aku pulang—" Aluna terdiam tak jadi menjawab saat menyadari sesuatu. "Kenapa kau bertanya seperti itu? Kau sadar tidak, sikapmu ini seperti seorang suami yang tengah cemburu pada istrinya."


"Cemburu?"


Erik tertawa keras tanpa melepaskan pelukannya pada tubuh Aluna.


"Aku tidak mungkin cemburu pada wanita sepertimu!"


"Wanita sepertiku?" Aluna memicingkan kedua matanya pada Erik. "Maksudmu wanita yang sudah berhasil memuaskan mu hanya dengan mulutku ini?" tanyanya sembari menggigit bibir bawah dengan gerakan sensual dan menggoda.


Skakmat. Erik terdiam tanpa bisa menjawab perkataan Aluna. Niatnya yang ingin menghukum wanita itu, justru ia yang diserang oleh bibir mungil yang tengah menggodanya saat ini. Bibir yang seperti meminta untuk disentuh dan dilumat olehnya.