My Husband My Assistant

My Husband My Assistant
Bab 49



"I-iya, seperti yang dikatakan asistenku. Nanti malam ada pertemuan keluarga, jadi maaf tidak bisa menerima undangan makan malamnya," ucap Aluna dengan tidak enak hati.


"Tidak apa-apa, mungkin lain kali kita bisa —" Azam tak meneruskan perkataannya saat mendengar suara mengaduh dari asisten pribadi Aluna.


Ya, Aluna dengan cepat menginjak sepatu Erik sebelum pria itu kembali menyela pembicaraan Azam. Sungguh Aluna tidak tahu apa yang terjadi pada Erik sampai pria itu berubah sangat menyebalkan.


"Maaf tadi kau berkata apa?" tanya Aluna pada Azam dengan tersenyum kaku.


"Ah, tidak lupakan saja," Azam berkata sembari menatap assiten pribadi Aluna yang tengah menatapnya tajam. Tatapan mata pria itu seakan sarat akan permusuhan entah karena apa. "Baiklah aku pergi dulu."


Aluna pun menganggukkan kepalanya dengan tersenyum, namun senyum itu langsung berganti dengan keterkejutan saat tiba-tiba saja pipinya dikecup oleh Azam. Belum sempat rasa terkejut itu menghilang, Aluna menjerit dengan ketakutan saat melihat Erik memukul Azam hingga pria itu terjatuh keatas lantai.


"Erik apa yang kau lakukan?" tanya Aluna, hendak membantu Azam untuk berdiri. Namun belum sempat melakukannya, tangannya sudah lebih dulu ditarik oleh Erik.


"Aku hanya memberikan sedikit pelajaran, karena Tuan Azam sudah bersikap tidak sopan pada Anda," ucap Erik sembari membawa Aluna keluar dari ruangan tersebut sebelum emosinya semakin terbakar.


Bisa-bisanya Azam mencium pipi Aluna, mencium pipi wanita yang berstatus sebagai istri Erik Cokrodinata.


"Kau gila Erik! Kau tahu, yang kau pukul tadi salah satu pemegang saham di hotel ini," sentak Aluna dengan penuh emosi saat mereka sudah berada di dalam lift.


Sungguh baru kali ini Aluna benar-benar emosi pada Erik, karena sikap pria itu yang dinilainya keterlaluan.


"Kenapa?" Erik mendorong Aluna pada dinding lift lalu menghimpitnya. "Apa karena dia salah satu pemegang saham di hotel mu, jadi kau mau saja disentuh olehnya? Apa segitu murahnya harga dirimu? Atau jangan-jangan jika pria itu memiliki setengah saham hotel ini kau dengan suka rela memberikan tubuhmu?"


Plak.


Dengan penuh emosi Aluna menampar Erik. Dia tidak terima dengan ucapan pria itu yang begitu merendahkan harga dirinya.


"Kau benar-benar keterlaluan Erik, aku—" Aluna tak lagi bersuara saat bibir Erik menyentuh bibirnya. Menciumnya dengan paksa, hingga ********** dengan kasar. "Kenapa kau melakukan semua ini Erik?" tanya Aluna setelah pria itu melepas tautan bibir mereka.


"Karena aku tidak suka ada pria lain menyentuhmu," jawab Erik dengan napas memburu sembari mengusap wajah Aluna.


Lagi-lagi Erik mencium bibirnya, dan untuk kali ini Aluna pun membalas ciuman tersebut karena ikut hanyut dalam suasana panas yang menyelimuti keduanya. Rasa amarah yang sempat ada karena perkataan Erik yang merendahkan harga dirinya, langsung hilang begitu saja berganti dengan sebuah hasrat yang mulai terbakar saat tangan Erik menyentuh tubuhnya bahkan hampir merusak pakaian yang dikenakan Aluna jika tidak ditahan.


"Kau bawa kunci kamarmu?" bisik Erik disela ciumannya.


Ya, Erik tahu Aluna memiliki kamar khusus di hotel ini sebagai ruangan untuk beristirahat.


Aluna menganggukkan kepala, karena memang kunci kamar pribadinya selalu ia bawa didalam casing ponsel yang ada di tangannya.


"Kenapa?"


Erik hanya diam, ia menekan lantai dimana kamar pribadi Aluna berada, lalu membawa wanita itu keluar dari dalam lift setelah sampai. Tanpa lupa merapihkan kembali pakaian Aluna yang berantakan karena perbuatannya.


"Erik ..."


Aluna butuh penjelasan dari pria yang kini menggenggam tangannya dengan erat. Namun Erik masih diam, berjalan menuju kamar pribadi milik Aluna dengan raut wajah datar tanpa ekspresi.


Sementara itu dari tempat yang tidak jauh dari Aluna dan Erik berada, ada sosok wanita yang tengah menatap keduanya dengan wajah yang terkejut.


"Erik?"


Sungguh Agatha terkejut saat melihat Erik berjalan dengan menggenggam tangan Aluna.


"Sial! Mereka mau kemana?"


Dengan cepat Agatha berlari menyusul kekasihnya. Namun kedua orang itu telah menghilang entah kemana, yang ada kini hanya banyaknya pintu kamar yang tertutup di lantai tersebut.


"Tidak.." Agatha menggelengkan kepalanya. "Tidak mungkin mereka masuk kamar?" gumam Agatha dengan tak percaya.