
Seperti yang dikatakan Erik tadi pagi. Kini Aluna tengah meeting dengan sejumlah pemegang saham disalah satu ruangan yang ada di hotelnya. Sebenarnya rapat kali ini seperti meeting-meeting sebelumnya yang akan membahas semua dokumen dari laporan tahunan, seperti laporan keuangan, mengatur alokasi keuntungan laba, mengevaluasi kinerja dan rincian masalah lainnya.
Namun meeting kali ini terasa berbeda karena ada sosok baru yang duduk disalah satu kursi pemegang saham. Sosok yang sangat ia kenali itu tenyata menjadi salah satu pemenang saham di hotelnya. Entahlah apa yang sudah terlewat oleh Aluna, tapi yang pasti dia cukup terkejut dengan keberadaan Azam.
Ya, Azam. Pria yang akhir-akhir dekat dengannya itu kini berada di ruangan rapat yang sama dengannya. Aluna yang merasa bingung bertanya pada Erik tentang keberadaan Azam untuk mewakili siapa.
"Tuan Azam adalah putra dari Tuan Rahadian, dia mewakili Tuan Rahardian untuk hadir di rapat kali ini," bisik Erik.
"Apa?" pekik Aluna dengan terkejut, sampai membuat semua orang yang hadir dalam pertemuan itu menatap padanya.
Sebenarnya bukan hanya Aluna saja yang terkejut, tapi Erik juga terkejut dengan kedatangan Azam. Kedatangan pria yang akhir-akhir ini selalu membuat emosinya naik turun hanya karena kedekatannya dengan Aluna. Dan lebih terkejut lagi saat mengetahui sosok Azam yang tenyata putra dari salah satu pemegang saham di hotel De Luna.
Karena secara tidak langsung keberadaan Azam sebagai salah satu pemenang saham akan membuat hubungan pria itu semakin dekat dengan Aluna. Jika sebelumya saja Azam selalu mengajak Aluna untuk makan siang bersama, pasti sekarang akan ada kegiatan lainnya yang akan membuat keduanya semakin dekat. Dan entah mengapa Erik tidak suka dengan semua itu.
Terlebih lagi saat ini mereka tengah berbincang berdua setelah rapat berakhir. Tanpa mempedulikan sekitarnya seakan diruangan tersebut hanya ada keduanya saja.
"Kau pasti terkejut dengan keberadaanku?" tanya Azam dengan tersenyum.
Jujur ia suka saat melihat wajah Aluna yang terkejut, karena menurutnya Aluna terlihat semakin cantik dan menggemaskan.
"Beliau ayah sambung ku. Sedangkan Rahadian Ayah kandungku," jelas Azam. "Awalnya aku terkejut saat mengetahui kau lah pemilik hotel dimana ayahku menyimpan sahamnya. Sekaligus bahagia karena akhirnya aku bisa kembali dekat denganmu. Dengan pujaan hatiku," seloroh Azam dengan tersenyum.
Aluna pun ikut tersenyum. Sedangkan Erik mencemooh dalam hati atas perkataan Azam.
"Apa hari ini kau punya waktu? Aku ingin mengajakmu —"
"Tidak bisa, Nona Aluna hari ini sangat sibuk. Masih ada pertemuan dengan beberapa klien" sahut Erik tanpa peduli jika apa yang dilakukan itu sangat tidak sopan, karena masuk begitu saja dalam pembicaraan keduanya.
Baik Aluna maupun Azam sempat terdiam dan saling melempar senyum. Jika Azam tersenyum penuh kekesalan pada assisten pribadi Aluna yang seperti tidak suka dengan keberadaannya. Sedangkan Aluna tersenyum dengan menahan emosi, karena sikap Erik yang tiba-tiba mengambil keputusan tanpa bertanya lebih dulu.
"Sayang sekali, padahal aku ingin mengajakmu ke suatu tempat karena ada hal penting yang ingin kukatakan. Tapi tak mengapa, biar aku ganti dengan makan malam saja, bagaimana? Kau bisa bukan?"
"Tidak bisa." Bukan Aluna yang menjawab, tapi lagi-lagi Erik yang menjawab dengan sangat tegas. Tanpa peduli saat ini Aluna tengah menatapnya dengan tajam. "Malam ini Nona Aluna ada pertemuan dengan keluarga besarnya."
Melihat bagaimana assisten pribadi Aluna yang kembali ikut campur dengan pembicaraannya, Azam pun menatap Aluna dengan penuh tanya.