
Buughhh! Vian dengan santai melempar tubuh riko hingga tersungkur kembali dan terhempas ke dinding luar apartement lyra. Bagian belakangnya membentur dinding, lyra bahkan tahu jika itu rasanya sakit sekali tapi ia berusaha tak perduli.
"Kau!" geram riko, masih saja tampak angkuh. Dan saat itu juga vian berjalan dengan langkah panjang menghampirinya.Vian tampak begitu menyeramkan dengan tubuh besar seakan bisa menginjaaknya kapan saja.
"Aaaa-ampun! Ampun... Lyra, tolong hentikan dia!" mohon riko pada mantan kekasihnya itu. Ternyata tak sekuat itu dan ternyata angkuhnya hanya dimulut saja tak seperti tatapan dimatanya.
"Vian," panggil Lyra, dan pria itu segera menghentikan langkah kakinya.
Riko yang tadi tersengal, saat itu juga menghela napas lega melihatnya. Ia tertunduk sejenak sembari melipat satu kakinya, kemudian mengusap kasar wajah yang cukup tampan itu.
"Pergilah_"
"Lyra, berikan aku kesempatan sekali saja. Aku janji, aku akan_"
"Pergi, atau vian ku pinta mema tahkan lenganmu!"
Riko lantas beridiri, tatapannya kembali tajam pada lyra dan bahkan tak segan menunjuk wajahnya. Vian yang terlanjur mundur akan maju lagi, tapi tangan lyra segera menghalangi. Ia justru menggandeng vian masuk dan mengunci pintu itu kembali.
Aarrrggg! Riko dengan segala amarah yang ada kemudian menendang keras pintu apartement lyra. Ia tak sadar sejak tadi CCTV mengintai disana dan para petugas melihat semua perbuatannya. Dan saat itu mereka semua datang untuk menangkap riko dengan paksa.
"Hey... Kalian tak kenal aku? Aku penghuni apartement ini."
"Maaf, Pak Riko. Apartement ini miliki Nona Lyra, jadi Bapak sudah tak berhak lagi ada disini. Pergi, atau kasus ini naik ke_"
"Baiklah, baiklah... Kalian memang tak tahu terimakasih. Padahal selama ini aku baik dan selalau memberi kalian tips, apalagi ketika lembur berjaga." Riko menepis tangan petugas itu dengan kasar sembari terus meracau. Padahal yang ia gunakan adalah uang dari lyra.
Riko kemudian berjalan meski sembari merintih merasakan nyeri disekujur tubuhnya, bahkan rahangnya serasa retak akibat cengkeraman tangan besar vian padanya. Ia baru tahu jika vian sekuat itu, dan mungkin akan sulit jika nantinya ia akan datang lagi mendekati lyra dan membujuknya kembali.
"Dia sudah punya anjing hearder rupanya. Aku kira dia supir cupu yang hanya bisa diperintah sana sini oleh lyra. Siall!"
Pria itu terus berjalan hingga tiba ke parkiran mobilnya. Saat itu juga ia ingat, jika angsuran jatuh besok dan ia sama sekali tak memiliki uang untuk membayarnya."Brengsek kau Lyra!" gusar riko, yang rasanya ingin lari sejauh mungkin dari kota itu dan menghindari para depcolector yang mengancamnya.
Sementara itu di dalam sana lyra tak hentinya menatap vian. Kejadian hari ini sungguh mempesona matanya, ketika ia melihat sisi lain dari vian yang amat ia sukai. Kuat, gagah, dan semuanya sempurna dimata lyra. Ia seperti menyesal ketika dulu sempat meremehkan dirinya, yang memiliki badan tegap namun hanya bekerja sebagai supir dan pesuruhnya.
"Ada apa?" tanya vian membuyarkan lamunan lyra.
"Nona melamun, ada apa?"
"Kenapa formal lagi, padahal aku menyukai keakraban kita barusan." Lyra datang dan langsungĀ memeluknya dari belakang. Ia mulai suka ketika vian menyebut Namanya, dan bahkan ia berharap jika nanti vian akan memberikan panggilan khusus padanya terutama untuk hubungan mereka.
"Aku hanya ingin sadar diri, agar aku tak kebablasan seperti biasanya jika ada di depan mereka. Para anak buahmu, Papimu, dan semuanya. Aku belum mau dipaksa berpisah denganmu jika mereka mententang hubungan kita," ucap vian menyentuh hati lyra.
"Kau mau hubungan ini berlanjut?" Lyra bertanya sembari mengecup leher vian, tapi pria itu menjaga agar lyra tak meningalkan tanda disana.
"Tergantung dirimu," balas vian. Ia kemudian meraih tangan lyra dan menjatuhkan tubuh itu tepat diatas pelukannya. Keduanya saling berhadapan, dan vian membelai lembut wajah mulus lyra dengan jari jemari besarnya. Ya, wajah lyra begitu lembut dan terawatt seperti kulit bayi yang putih mulus dan tak ada setitik noda pun disana. Vian tahu benar berapa harga perawatan untuk tubuh lyra karena ia yang setiap hari mendampinginya bahkan hingga tertidur di salon kecantikan langganannya.
Hanya melihat itu saja vian langsung merasa tak pantas untuk semakin dekat dengan lyra, meski semua sudah terlanjur dan ia sama sekali tak bisa pergi dari tanggung jawabnya. "Bagaimana jika papi tahu semua ini? Dia akan mengusir, bahkan mungkin akan membunuhhku."
"Kau takut?" tanya lyra yang balik menainkan hidung mancung vian dengan jari jemari lentiknya.
"Aku hanya takut jika kau menangis lagi, dan tak ada yang bisa menenangkanmu saat itu." Jawaban vian melengkungkan senyum lyra. Ia mengalungkan tangan ke leher pria itu dan Kembali mengecup bibirnya, begitu intens dan semakin panas ketika vian membalas semua Tindakan dari sang nona.
Akan tetapi, semua itu tak berlangsung lama karena suara hp vian yang diatas meja segera berbunyi. Seorang staf dari mall menghubunginya dan bertanya mengenai bos mereka. "Ya, salsa?" sapa vian pada asisten lyra.
"Vian, apakah nona sudah sembuh? Kami butuh dia sekarang karena begitu banyak laporan yang harus segera di tanda tangani olehnya. Atau, aku saja yang kesana, bagaimana?" tanya salsa. Vian yang ingin menjawab saat itu langsung direbut hpnya oleh lyra.
"Aku akan kesana, dan persiapkan semua berkasnya. Jangan sampai ada yang terlewat," balas lyra bernada ancaman, dan saat itu salsa segera mengangguk untuk menjawab semua perintah dari bosnya.
Sayangnya lyra tak lagi memberi kesempatan pada salsa untuk melanjutkan bicaranya pada vian, padahal ia ingin bicara lama-lama dengan pria yang telah lama ia sukai itu. "Tapi ngga papa, nanti juga vian kemari. Bisa deketan deh," harap salsa padanya, dan ia segera mempersiapkan semua berkas yang ada untuk keperluan penandatanganan sang nona.
Lyra segera berjalan masuk menuju kamarnya, untung disana ada beberapa pakaian yang ia tinggalkan dan bisa ia pakai menuju mall untuk bekerja. Hanya saja cukup terbuka, hingga vian seketika memberikan tatapan tajam padanya.
"Apa? Aku tak punya baju lain selain ini disini? Kau mau aku memakai lingerieku?" tanya lyra padanya. Tapi vian hanya diam, karena memang lyra tak meninggalkan banyak pakaian karena apartemen itu lebih sering ditinggali mantan kekasihnya.
"Setelah ini kita pulang, aku tak mau kau memakai pakaian seperti ini lagi." Vian dengan tatpaan posessifnya kemudian mengikatkan lengan jas yang ia miliki dipinggang sang nona. Perlakuan kecil, tapi membuatnya begitu tersanjung hingga mendebarkan hatinya.
Sementara itu vian hanya mengenakan kemeja Panjang hitam dan celana bahan yang memang ia bawa dan ada didalam mobil, itu saja sudah begitu tampan dimata lyra yang memang tengah tergila-gila pada supirnya yang tampan mempesona. Kemeja itu mempelihatkan cetakan otot vian yang gagah dan sempurna, lyra serasa akan mimisan jika terus mengaguminya.
"Ayo, berangkat." Lyra kemudian berjalan didepan vian, begitu anggun dan professional seperti tak sedang merasakan nyeri dipangkal pahanya. Apakah ia sekuat itu?