
Berita pagi ini begitu menyegarkan bagi om Dipta dan antek-anteknya.
Ya, kabar itu datang dari pak Bonar. Beliau dinyatakan meninggal tadi pagi dan akan dimakamkan secepatnya siang ini. Om Dipta tertawa dengan begitu puasya saat itu ketika mendengar semuanya. Bukti penting ia dapat, dan musuhnya mati. Apalagi pal Cakra yang menuruti semua amcaman yang diberikan olehnya agar ia segera kabur ke luar negri bersama keluarganya.
“Kerja bagus, Vian. Sudah pastikan semua aman?”
“Aman, Om. Obat itu Vian sendiri yang menyuntiknya ketika berjaga tadi malam atas perintah tuan Seno.”
“Om memang tepat mempercayaimu hingga saat ini. Om akan kesana sebentar lagi untuk melayat, kita harus professional seolah tak saling mengenal,” titah om Dipta, dan Vian langsung menurutinya.
Om Dipta meminta beberapa anak buahnya untuk bersiap melayat ke rumah duka. Maya bahkan merengek meminta ikut saat itu, apalagi ketika mendengar Vian ada disana padahal ia sendiri akan menikah dengan Java.
“Segera ganti pakaianmu, dan beritahu Java agar ikut juga dengan kita.” Maya mengangguk semangat mendengar titah papanya saat itu, dan dengan secepat kilat ia melakukan semuanya dengan baik dan keluar bersama Java dengan pakaian serba hitamnya.
Mereka berangkat bersama. Java menyetir dengan Maya yang duduk disampingnya saat itu, sementara om Dipta duduk dibagian belakang sendiri dengan perasaan leganya. Bahwa setelah ini, bukti yang ada sudah hilang dan ia bebas menuntut papi Seno denga mallnya atas nama Vian sebagai ahli waris sang ayah. Setelah itu, Vian akan bisa ia setir sesuka hatinya. Apalagi Vian memang tak berminat dengan mall itu sama sekali dan memilih usaha Gym yang ia besarkan sejak lama.
“Papa kenapa ketawa mulu?” tanya Maya yang menoleh padanya saat itu.
“Papa hanya puas, May. Sebentar lagi papa akan ambil alih mall itu atas nama VIan. Tinggal mencarikan jodoh untuknya, seorang gadis polos yang akan menurut dengan aturan kita.”
Maya tertunduk pilu mendengar semua rencana ayahnya saat itu, rasanya begitu perih mengiris didalam kalbu dan ia ingin berteriak sekuat tenaga dengan penuh rasa kecewa. Namun tak bisa, ia akan dibunuh papanya saat itu juga jika melakukan semua itu. Ia masih beruntung, jika papanya hanya menghukumnya dengan menkahi Java dan ia tak dibuang ke luar negri saat ini.
Hingga mereka semua tiba di rumah duka, dan disana sudah begitu ramai dengan semua pelayat yang telah berdatangan. Om Dipta langsung masuk dan melihat jasad pak Bonar yang sudah ada didalam peti dan sudah dirias dengan begitu rapi. Wajahnya sedih, tapi matanyya tampak berbinar saat ini.
Vian saat itu menatapnya dari kejauhan, ia sendiri pilu melihat ekspresi omnya yang tak memiliki rasa bela sungkawa sama sekali. Tapi sejak awal papi Seno Sudah memperingatkan semuanya pada Vian, hingga ia tak lagi kaget dengan semua ini.
“Kau siap? Kau akan mendengar semuanya hari ini, dan kau yang memutuskan, dia akan kau apakan.” Papi Seno dibelakangnya saat itu berbisik dan menepuk bahu Vian untuk menguatkannya.
Mereka semua keluar saat itu untuk semua acara yang ada sebelum pemakaman. Baik Vian dan om Dipta seolah tak kenal meski mereka bersampingan, dan VIan tampak fokus melayani sang Tuan. Hanya Maya yang beberapa kali tertangkap mencari perhatian Vian untuk dirinya sendiri, namun langsung ditegur oleh Java.
Hingga acara perjamuan sebelum mereka berangkat mengantar ke pemakaman. Papi Seno menjamu mereka semua di ruangan tengah yang luas di rumah itu, sementara jasad pak Bonar ada di ruang lainnya. Tenang, dan tanpa penjagaan disana hingga akhirnya om Dipta masuk kedalam sana untuk menyapanya.
Om Dipta berjalan mendekat, memperhatikan jasar pria paruh baya itu dengan lekat dan dengan tatapan sinisnya saat itu. Ia bahkan meraih kerah kemeja pak Bonar dan melirik bekas luka yang ada disana, “Luka kecil begini, sudah membuatmu mati? Kau memang lemah Bonar. Makanya kau selama ini kalah dengan mereka. Andaikan kau ikut denganku, pasti kita akan bahagia menikmati semuanya.”
“Kau tahu? Vian itu adalah orangku, dia keponakan yang aku rawat selama ini. Meski tak lama, tapi aku sudah mendoktrin dia dengan segala kebencian yang ada. Dia menjadi alatku selama ini untuk mencari semua bukti agar tak ada lagi yang membela pria tua itu, dengan alasan mempertahankan hak dari kakak bodohku. Andai ia mau mendengarkan apa yang ku katakan, pasti ia juga masih akan hidup sampai saat ini.”
Om Dipta mengeluarkan beberapa berkas yang ia simpan di dadanya saat itu bersama sebuah korak dan membakar berkas itu disana.
Berkas mengenai akta tanah yang selama ini menjadi perdebatan mereka semua, sekaligus biang masalah. Hanya karena ayah Vian pemilik tanah, dan papi Seno menjadi pemilik bangunan yang sah. Bangunan bisa dihancurkan, tapi tanah akan menjadi hak milik bagi pemiliknya dan itu adalah milik ayah Vian. Itu yang om Dipta pegang selama ini sebagai ancaman pada mereka.
“Dan kini, bukti ini tak ada lagi, dan kau sudah mati. Hahahaa!!” tawa keras om Dipta dihadapan jenazah itu saat ini. “Bahkan, dia tak akan pernah tahu jika akulah yang membakar rumah itu dan membunuh orang tuanya, sangking kesalnya aku ketika merrka sulit sekali diyakinkan ketika berdiskusi. Bagaimana tak kesal? Semua demi kebaikan dia, tapi dia justru tetap ingin dalam kesederhanaan bodohnya itu. Emosi aku dibuatnya.”
Braaak!!
“PAPA!!” Maya memekik menghampiri papanya saat itu dengan wajah cemasnya, tak lupa dengan tatapan penuh kekecewaan.
“Kenapa kamu kesini? Apa acara sudah selesai?”
“Iya, acara selesai. Acara menonton semua drama papa di tv besar yang ada di ruang tengah itu!”
“Apa?!” Om Dipta terlonjak kaget mendengarnya, ia lantas melihat disekeliling ruangan itu dan mencari alat perekam yang ada disana.
“Ngapain dicari? Semua orang sudah lihat sekarang. Kita harus kabur, Pa. maya ngga mau Papa di penjara,” Tarik Maya pada lengan papanya saat itu. Namun, satu lagi menarik lengan om Dipta yang satu lagi.
Pria itu dengan tubuh yang gemetar, lantas berusaha menoleh pada posisi tangan itu saat ini.
“AAarrrrrgghhh!!! Tidak… Kau sudah mati, mana mungkin kau hidup lagi?”
Pak Bonar hanya tersenyum bodoh padanya saat itu, ia tak menjawab apapun karena masih sakit saat ini dan hanya menunggu Vian serta papi seno datang bersama polisi yang akan menangkapnya.
“Om…” panggil VIan dengan wajah datarnya saat itu.
“TIdak… semua itu tidak benar, Vian. Mereka semua menjebak om saat ini, semua hanya_”
“Vian yang menjebak om, agar menceritakan semuanya. Om tak bisa berkilah lagi, atau om akan melihat video itu sendiri? Mereka bahkan sudah menontonnya sejak tadi ketika acara perjamuan.”