My Hot Personal Driver

My Hot Personal Driver
Kau tak menyesal?



Lidah panjang dan lancip itu begitu lincah bermain pada inti tubuh sang nona. Menghisap, bahkan menggigit kecil pada buah yang ada disana hingga lyra memekik kuat merasakan kenikmatan yang semakin lama mengoyak dirinya. Ia menjepit kepala vian dengan kedua pahanya dengan tangan mere mas seprai putih yang terpasang disana.


Lyra melenguh, napasnya terasa begitu berat dan tersengal. Ia mengadahkan kepala hingga dadanya terangkat dan membusung, seakah mengisyaratkan agar tangan besar vian juga ikut bergeak dan menjamahnya saat itu juga. Bahkan dengan multitaskingnya tangan dan lidah itu menyerang disemua titik sentiti lyra hingga ia semakin frutasi menahan segala rasa yang ada.


"Vian... Aku, aku ingin_"


"Ya, Nona, lepasakan," ucap vian yang semakin gemas mengoyak milik sang nona dibawah sana.


Lyra memekik kuat, cengkramannya pada sepray juga begitu erat. Ia membuang napasnya sejenak setelah itu meregangkan cengkraman sembari terus membiarkan vian menyeap apa yang keluar dari miliknya, seperti ia tengah menyeruput minuman Pelepas dahaga yang menyeagarkan untuknya. Ia lantas menegakka tubuhnya dan mendongakkan kepala.


"Vian," panggil lyra yang kemudian mengulurkan tangan padanya. vian kembali menunduk, kemudian kembali mengecuup bibir manis lyra dengan begitu buasnya meski sisa miliknya masih begitu terasa dimulutnya. Lyra menikmatinya juga, dan justru itu semakin mmebangkitkan gaiirah antara keduanya.


Tangan lyra memeluk tengkuk vian, semakin erat apalagi ketika vian mulai memulai penyatuan keduanya. Terdengar lyra mendesis dan merintih kesakitan karena desakan benda besar pada miliknya yang sama sekali belum pernah dijebol oleh siapaun. "Vian, sakit sekali."


"Apa Nona akan menyerah? Aku bisa menghentikan jika_"


"Teruskan, karena nanti akan berubah nikmat, bulkan?"pinta lyra, dan vian menganggukkan kepala menjawabnya.


Vian lantas semakin mendesakkan miliknya dibawah sana, ia juga terus memberi stimulan pada lyra dengan cara kembali bergerilya di dada indahnya, melumaat dan menyesap seperti bayi kehausan. Desakan semakin lama semakin dalam, lyra bahkan menggigit bibirnya sendiri menahan segala rasa sakit yang ada dipangkal pahanya, hingga... Bllees!!


Milik vian masuk sempurna didalam sana. Ia mengecup bibir sang nona kembali sebagai ucapan terimakasih karena telah memberi sebuah jackpot untuknya. "Dan setelah ini, aka nada pria lain yang ku izinkan untuk menyentuh bahkan memilikimu."


Bisikan vian itu terdengar begitu lembut dan benar-benar membuat hati lyra meleleh. Ia tersipu malu dengan wajah memerah, tapi itu juga karena vian baru saja mengambil sesuatu yang berharga dan ia jaga selama ini.


"Ahh... Eeenghh!!" Lyra bernapas begitu berat menerima Gerakan vian didalam sana. Nyeri, tapi ia juga perlahan menikmati semua desakan nikmat yang terus menghujamnya semakin lama semakin cepat.


"Kau mulai menikmatinya? Ini, benar-benar nikmat." Vian memaju mundurkan pinggulnya saat itu dengan ritme yang masih pelan karena sang nona masih tampak kesakitan


Lyra semakin lama semakin menggila. Suaranya semakin kuat dan ia sudah mulai terbiasa denga napa yang saat ini tengah mengoyak dirinya. Pantas saja riko mengejar itu, bahkan tega mendukan dirinya. Pasti bagi riko lyra adalah gadis yang payah dan kolot, karena di pergaulan sekarang masih bisa menjaga kesuciannya dari pria.


Mulut lyra kembali terbuka, merasakan sakit namun begitu nikmat pada kuatnya milik vian yang tajam dalam dirinya. "Aawwh, Vian!" Lyra memekik lagi, dan vian memperpelan dan melembutkan tempo gerakannya. Ia melepas sebentar miliknya, dan melihat noda merah yang mengalir di sepray dan bahkan menempel pada miliknya.


"Kenapa berhenti? Itu tadi nikmat sekali," ucap manja lyra meraba dadanya.


Vian tersenyum miring, begitu gemas melihat lyra yang begitu menginginkannya saat ini. Ia memulai lagi, menyatukan dan mengehentak cukup kuat hingga lyra kembali memekik nikmat tiada terkira.


Kali ini vian tak ingin berlama-lama. Masih banyak waktu untuk ia menikmati sang nona, aplagi setiap hari mereka selalu bersama. Fantasi liar vian kemudian muncul, bagaimana jika ia mengajak lyra bermain disetiap sudut rumah itu dan pasti akan begitu nikmat.


Tangan vian menyentuh bagian kecil lyra, dan itu sontak membuatnya semakin gila. Memekik tak karuan bagaikan di hutan, padahal di apartemen itu mereka hanya berdua. Gerakan itu vian lakukan dlaam tempo yang beraturan, hingga ia benar-benar merasakan denyutan pada miliknya dari sang nona yang tengah terbang melayang sekaan tak lagi menginjak buminya.


Hingga akhirnya lyra kembali menjerit sekuat tenaga mendongakkan kepala dengan manik hitamnya sekaan menghilang dari mata. Aaaaah! Bahkan lyra squirting sangking nikmat yang ia rasakan dalam tubuhnya yang kini bahkan mengejang.


"Kau menyukainya? Bukankah indah?" bisik vian lagi padanya. Lyra sudah kehabisan mata-kata, bahkan napasnya masih tersengal dibuatnya san begitu sulit untuk menormalkannya.


"Tapi aku belum," ucap vian yang kembali mengungkung lyra dan meneruskan penyatuan mereka. Tak ada lagi yang bisa lyra lakukan saat ini, vian juga harus puas seperti dirinya, dan ia pasrah ketika vian kembali menghujamnya dengan begitu dalam. Terus tanpa jeda, hingga rasanya lyra ingin menjerit lagi sekuat tenaga dengan apa yang ia rasa.


"Aaawhh!! Vian!!" Lyra melampiaskan itu semua dengan menggigit bahu vian sebisanya.


"Aaarrghh!!" Akhirnya vian mendapatkan puncaknya, dan ia yang lemas langsung jatuh ketubuh lyra menyatukan keringat mereka berdua.


Lyra tersenyum dengan begitu puasnya, sudah pasti ia sangat bahagia saat ini karena mendapat apa yang ia inginkan dari supirnya. Meski belum bisa dibilang atas nama cinta, tapi ia benar-benar bahagia karena sudah menjadi milik vian seutuhnya.


Lyra membuka mulutnya lagi saat vian melepaskan miliknya, kemudian tidur disebelah miring mengusapi tubuh polos sang nona. Tatapan mereka terkunci satu sama lain, mengungkapkan sebuah kata puas bersamaan. Lyra bahkan tertawa meraba wajah vian sang supir tampan.


"Kau tak menyesal?"


"Mana ada menyesal, aku justru sangat bahagia."


"Aku bukan siapa-siapa, bagaimana jika tuan tahu perkara ini?" tanya vian, yang mulai membahas perbedaan strata mereka berdua.


"Paling, kita akan dinikahkan. Aku malah senang," ucap lyra seakan tanpa beban sama sekali dalam hidupnya. Semua telah lepas, bahkan ia seperti menjadi candu yang akan ingin lagi dan lagi nanti. Tapi ia hanya mau dengan vian, dan demi apapun ia tak ingin ada yang lain dalam hidupnya.


"Kita berbeda, Nona. Sangat berbeda hingga tuan mungkin akan sulit menerima,"


"Ap aitu alasan, kau selama ini menolakku?"


"Hmm? Bahkan aku hanya menunda ini semua selama seminggu," balas vian padanya. Lyra kembali terkekeh mendengarya, ia tak menyangka supir pribadi yang selama ini ia anggap dingin, begitu ramah dan asyik ketika ia ajak bicara.


Untung saja ia dapat menjaga semuanya, hingga ia tak perlu menyesal lebih dalam ketika riko pergi bersama Wanita itu. Dan saat ini, lyra sama sekali tak mau tahu keadaan pria itu dan telah memblokir kartu kredit yang sempat ia pinjam saat bersama.


"Rasakan, kau tak akan menikmati kemewahan lagi saat ini. Bahkan kau akan dikejar Depcolektor ketika mobilmu tak mampu kau bayar lagi," gumam lyra dalam hati, yang begitu nyaman dalam dekap hangat sang supir pribadi.