My Hot Personal Driver

My Hot Personal Driver
Petunjuk



Lyra dan vian terkulai lemas di ranjang mereka. Vian masih memeluk lyra dari belakang tanpa melepaskan penyatuan keduanya, masih terasa sesak meski sudah menyusut dari ukuran semula ketika mengobrak abrik inti lyra.


Jemari vian bermain diatas tubuh polos itu, menciptakan sensasi geli namun nikmat bagi pemiliknya hingga mendesis dan menggeliat bagai ular terkena serbuk garam. "Jangan seperti itu, nanti dia mau lagi," bisik vian ditelinga sang nona.


"Lalu apa? Jika mau lagi, maka kita akan melakukannya lagi." Lyra dengan begitu tenang menjawabnya, seakan tak pernah bosan untuk setiap sentuhan dan hujaman vian ditubuhnya. Ia bahkan rela tubuhnya lelah asal bisa terus bersama vian dan saling memuaskan antar keduanya.


"Apa kau tak lelah?" tanya vian yang semakin dekat berbisik ke telinga lyra.


"Tak akan lelah jika denganmu." Lyra langsung memutar wajah yang meraih vian agar kembali mengecup bibirnya. Cumbuan semakin panas, apalagi vian dapat begitu bebas memainkan dada lyra yang masih bebas untuk ia remaas.


"Eungghh!" Lyra merasakan lagi sentruman listrik yang mengejut di sekujur tubuhnya. Milik vian membengkak lagi didalam sana seakan siap menghabisi lyra kapan saja. Dan mau tak mau, ronde kedua yang lebih panas terjadi diantara keduanya bahkan berlanjut hingga ke kamar mandi hingga lyra menjerit dan menangis dengan segala kenikmatan yang vian berikan padanya.


Hingga akhirnya lyra keluar dari kamar itu, untung saja papi dan laras belum kembali dari pertemuan mereka. Lyra juga tak begitu perduli jika sang ART melihat atau mendengar apa yang mereka lakukan barusan.


"Aaaaaah!!!" Lyra memekik lirih ketika menjatuhkan tubuh diatas ranjang besar miliknya. Tubuhnya terasa begitu lelah dengan semua gempuran dahsyat yang vian berikan, dan akan selalu membuatnya tergila-gila. Hingga bayangan indahnya pada sang supir berakhir ketika hpnya berdering, dan ternyata papi yang menghubunginya saat itu.


"Ya, ada apa?" tanya datar lyra pada papinya.


"Kau dari mana sejak tadi? Tak tahukan papi menghubungimu, katanya kau sudah pulang dari Mall." Papi seno memberikan omelannya, bahkan tak sempat menanyakan kabar lyra saat itu sedang apa dan dimana, bahkan sekedar mengingatkan agar sang putri makan malam agar tubuhnya sehat.


"Lyra tidur, capek." Singkat lyra menjawab segala pertanyaan papinya.


"Besok kita akan bertemu dengan keluarga Demian, mereka ingin berkenalan denganmu dan bahkan membahas perjodohan kalian,"


"Hah, apaan? Engga!! Pokoknya lyra ngga mau dijodohin, apapun alasannya. Titik!"


"Ini semua demi_"


"No! untuk urusan jodoh, lyra ngga mau diatur." Lyra langsung mematikan hpnya saat itu juga, tak perduli jika papinya masih ingin bicara dengannya.


"Arrghh! Bagaimana caranya agar papi ngga jodohin begini? Lama-lama aku muak dengan semuanya. Vian, ayolah, akui hubungan kita didepan papi. Jika papi tak berkenan, bahkan aku siap ikut kemanapun kamu pergi," rengek lyra yang seakan langsung frustasi dibuatnya. Karena ia tahu, meski lyra bersikeras menolak semuanya, pasti papi juga akan sekeras itu mempertahankan setiap keputusan untuk dirinyya.


"Tidak bisa, ini tidak bisa!!" geram lyra yang kembali kalut dalam emosinya. Namun, ia tengah berusaha begitu keras agar tak meledak saat itu juga. Meski ia harus mengelus dada dan membayangkan wajah vian dikepalanya.


Sementara itu, vian yang masih di dalam kamar tengah menghubungi omnya membicarakan semua rencana mengenai keberadaan adiknya saat itu.


"Siapa? Kau tak bisa asal percaya, Vian. Akan banyak yang menjadi pengkhianat berkedok pendukung disekitarmu nanti, dan kau harus waspada." Om dipta terus mewanti keponakannya itu, jika semua yang ia lihat baik itu tak sebaik yang ia kira selama ini.


Vian menceritakan sosok yang ia kenal, dan ia cari tahu riwayatnya sebagai salah seorang pemegang saham dan staf terlama di mall itu. Bahkan dia memiliki beberapa ruko disana sebagai investasinya. Pria bernama Bambang itu adalah salah seorang sahabat ayah vian, dulunya sama-sama menjadi pencetus terbangunnya mall dikota mereka bersama papi seno.


Dengan kata lain, ayah vian dan papi sebenarnya berteman akrab sejak dulu. Papi seno sebagai pengelola bisnis, dan ayah vian sebagai pemilik lahan yang akan mereka manfaatkan tanahnya untuk usaha bersama. Meski uang pembebasan lahan itu masih mengalir ke rekening ayah vian, tapi kejanggalan dalam kebakaran itu membuatnya tak menyentuh sama sekali uang yang ada. Ia memilih menyimpan semua itu, untuk adiknya jika nanti mereka bertemu.


Mengenai kebakaran, desas desus menyatakan bahwa ada cekcok diantara kubu papi seno dan ayah vian. Ketika ayah vian tak ingin memperluas lokasi mall karena ingat pemukiman yang ada dibelakang lokasi itu, dan mereka tak bisa membayar dengan pantas sesuai tanah yang mereka jual demi kepentingan pembangunan.


Masih simpang siur, dan vian juga ingin memcari siapa dalang dibalik semua peristiwa yang terjadi.


"Ya, om kenal dia adalah salah satu sahabat ayahmu tempo dulu. Dia pro senopati, dan bahkan dia menyarankan agar tanah digusur paksa dan memaksa mereka menerima semua dana yang telah diberikan sebagai penggantinya." Om Dipta seolah semakin memprovokasi keponakannya saat ini, yang masih begitu bimbang menetukan arah dan tujuannya.


"Ya, vian akan terus mencari info tentangnya, dan semua yang berhubungan dengan ayah."


"Baiklah.... Jika ada sesuatu, kamu hubungi om lagi secepatnya. Ingat, mereka bukan orang sembarangan yang begitu mudah untuk ditaklukan,"


"Baik," jawab vian yang kemudian menutup panggilannya.


Vian yang sudah membersihkan diri lalu mengganti spray yang basah akibat percintaannya dengan lyra barusan. Lyra bahkan sampai ******* berkali-kali akibat ulahnya, bahkan hingga squirting luar biasa sangking puasnya. Vian juga lelah, tapi ia harus terus melayani nona manjanya disana.


"Nona, waktunya makan malam," ketuk vian dipintu kamar lyra. Dan karena tak ada jawaban, vian akhirnya masuk kedalam dan melihat lyra tidur telungkup diranjangnya. Ia begitu lelah, bahkan tak sempat mengganti kimono yang ia pakai dan rambutnya masih basah.


"Vian, kenapa?" tanya lyra yang begitu ngantuk matanya.


"Makan malam dulu, baru tidur. Aku tak ingin kau tidur dalam keadaan lapar, apalagi aku tahu jika kau begitu lelah karenaku." Vian kembali berbisik lembut ditelinga kekasihnya itu.


"Ya, aku lelah gara-gara kamu yang brutal tadi. Kau harus bertanggung jawab," senyum manja lyra padanya.


Vian yang begitu peka lantas meninggalkan lyra sejenak, turun lalu kembali naik lagi membawa makanan yang ada diatas nampannya saat itu. Ia duduk disamping lyra, dan dengan begitu perhatian menyuapinya. Lyra tampak begitu lahap menyantap semua makanan yang via berikan padanya, bahkan ia cengengesan, terus mengajak vian bercanda mengenai perjodohan yang papi rencanakan untuknya.


"Menurutku itu konyol. Perjodohan, apa itu? Papi selalu ingin mengatur, memaksaku dengan apa yang tak ku sukai selama ini. Sedangkan dia sendiri? Bertingkah seenaknya tanpa mau mendengar pendapat orang sama sekali."Lyra terus meracau dengan mulutnya yang penuh, sedangkan vian disana berusaha menjadi seorang pendengar yang baik untuk sang nona sekaligus kekasihnya itu.