My Hot Personal Driver

My Hot Personal Driver
Tantangan dari papi seno



Vian dan lyra saat ini telah pulang kerumah besar papinya. Vian bahkan sempat membersihkan diri sebelum menghadap sang tuan yang ada di ruangannya saat ini.


“Vian, kau didalam?” panggil lyra padanya. Ia lantas keluar dan menemui sang kekasih meski kedua orang tuanya dirumah saat itu.


“Ada apa?” tanya vian yang masih mengenakan handuk ditubuhnya, dan lyra justru melotot menelan saliva.


“Hey, ayolah, aku buru-buru menghadap papimu,” bujuk vian yang sembari berjalan meriah pakaian gantinya. Saat itu vian terasa begitu dingin bagi lyra, tak sepertinya dia seperti itu karena vian begitu perhatian baginya. Cukup sedih, tapi ia sendiri berusaha untuk mengerti kondisi vian saat ini..


“Aku hanya ingin menenangkanmu, itu saja.” Lyra langsung tertunduk lemah dengan suara yang terbata. Vian yang mendengar itu langsung tak tega dan segera memeluknya. Ia bahkan meminta maaf jika terkesan kasar saat ini karena kondisi hatinya yang sedang buruk dengan semua kejadian yang ada.


“Aku mengerti, aku sedang berusaha mencoba untuk memahamimu saat ini,” balas lyra yang mengeratkan pelukan keduanya. Bahkan lyra masih sempat mengecup bibir vian dan bahkan memangutnya meski hanya sebentar.


“Aku hanya ingin meminta agar kau jujur padaku, Vian. Aku janji akan membantu dan tak akan menghalangi langkahmu saat ini,” bujuk lyra padanya, tapi semua itu tak sesederhana apa yang lyra fikirkan saat ini dan vian tak bisa dengan mudah menceritakan semua padanya.


“Maaf, ini masih urusanku dengan papimu.” Vian melepaskan dekapan itu dari lyra. Ia mamakai kemeja yang telah ia persiapkan tadi dan keluar meninggalkan lyra di kamarnya untuk menuju ruangan kerja sang tuan.


Vian mengetuk pintu, dan ia segera masuk ketika mendapat jawaban dari papi seno yang sudah menunggunya sejak tadi. Ia berjalan menghadap pria itu, bahkan degan Langkah panjangnya sudah berada tepat didepan papi seno saat ini.


Brak!! Papi seno melempar sebuah map pada vian dan meminta ia membaca semuanya.


Vian menurut, ia meraih map itu dan membukanya hingga satu persatu ia baca dan isinya ia cerna. “Kau mencari informasi tentang itu?” tanya papi seno. Yang membuat vian terkejut karena papi seno tahu siapa vian yang sebenarnya.


“Apa yang ingin kau ketahui? Penyebab kebakaran, alasan, atau siapa dalang dibalik semua itu hingga kau mengejar Bambang hingga ke rumahnya.”


Mendengar semua cecaran pertanyaan papi seno, vian merasa semakin kuat dugaan jika kebakaran itu memang disengaja dan ada pencetus dibalik semua musibah yang menimpanya. Sepertinya papi seno tahu, atau bahkan papi seno adalah dalang dibalik semua musibah yang ada.


“Anda yang melakukannya?”


“Bahkan secepat itu kau mengambil kesimpulan hanya dari pertanyaan dan potongan berita yang ada. Kau belum apa-apa, Vian. Apalagi ketika kau ingin terjun lebih dalam dalam kasus ini. Kau harus persiapkan mentalmu sejak kini,” titah papi dengan wajahnya yang tak ramah sama sekali.


“Aku hanya ingin_”


“Bukan ingin, tapi harus. Kau ingin bertemu adikmu, bukan?” Vian membulatkan mata mendengarnya, bahwa papi seno amat tahu apa yang ia cari saat ini terutama dengan kemungkinan semua penghuni di rumah itu.


“Aku akan pergi dan melupakan semua, jika anda memberikan info tentangnya.”


“Dengan terus menjadi tertuduh atas semua kasus ini? Percuma, jika kau akan selalu tetap menyalahkan aku atas semua yang telah terjadi.” Papi seno mendaratkan pukulan di mejanya dan duduk disana menatap tajam pada vian. Dan bahkan ia tahu, betapa vian tertekan saat ini dengan semua ucapan yang keluar dari bibirnya.


“Kita adakan perjanjian, bagaimana? Kau harus menemukan orang itu, dan kau bertemu adikmu,” tantang papi padanya.