
Pulang dari pemakaman vian hanya mengantar lyra saja, ia pamit pergi dan lyra segera memberinya izin saat itu. Lyra masuk dan disambut laras yang tengah melakukan senam hamil di ruang tengah rumah besar mereka.
"Kenapa kau tak melakukannya di kamar saja? Harus disinikah agar semua orang lihat betapa bahagia kau dengan kehamilanmu?" omel lyra.
"Lalu, kau mau aku kemana, Lyra? Aku memang sangat bahagia saat ini karena anakku sebentar lagi akan lahir." Dengan terus melakukan gerakan senam hamilnya, laras begitu tenang menjawab semua ocehan lyra.
Satu persatu gerakan itu ia nikmati, matanya terpejam sembari beberapa kali menghela napas dan mengeluarkannya, persis seperti yang diarahakan oleh sang pelatih padanya.
Lyra yang mendapat perlakuan itu mencebik kesal. Ka menghentakkan kaki lalu berjalan cepat untuk naik keatas dan merebahkan diri di kamarnya.
"Aaarrrghh! Dia tak memiliki rasa segan sama sekali padaku, apalagi setelah hamil besar. Apa dia merasa telah memiliki senjata dengan CALON anaknya itu?" gerutu lyra, dengan penekanan kata CALON dalam ucapannya.
Tapi ia selalu ingat dengan apa yang vian katakan, jika emosi tak akan pernah menyelesaikan masalah keduanya. Lalu lyra harus apa? Apakah harus diam dengan semua kebencian yang tertahan dalam dirinya?
Ia tak mungkin diam, apalagi laras selalu ada didepan mata saat ini. Ia sudah menahan semuanya selama 2tahun, itu saja karena laras memilih pergi darinya dan tak mau menjelaskan apa-apa.
Tapi juga bukan tak pernah sama sekali. Melainkan lyra memang diselimuti rasa benci yang tak pernah bisa menerima apapun yang dijelaskan oleh laras padanya mengenai amanat sang mama.
Sementara itu vian saat ini tengah datang di rumah omnya. Om dipta menyambutnya saat itu, begitu juga dengan sang putri yang selama ini dekat dengan vian_Maya. Maya sudah vian anggap seperti adik kandungnya sendiri selama ini. Tapi, maya menganggap vian tak seperti itu.
"Kak vian! Kangen!" peluk erat maya pada pria bertubuh kekar itu.
Vian lantas mengusap kepalanya disana, sementara maya betah berlama-lama menciumi aroma maskulin dari tubuh vian saat itu.
"Kau baik-baik saja?" sapa vian padanya.
"Kak vian kenapa jarang sekali kemari? Maya kangen tauk, mana hp susah dihubungi? Kakak ganti nomor, ya? Kenapa ngga kasih tahu maya?"
"Maya... Kakakmu butuh istirahat," sambung om dipta yang memanggil putrinya.
Maya mau tak mau melepaskannya, ia menggandeng vian masuk dan memintanya duduk disofa sementara ia membuatkan segelas teh hangat untuknya. Benar-benar hanya untuk vian, bahkan ayahnya sendiri tak ia buatkan teh atau kopi didepannya..
Mereka berdua santai sejenak, hingga akhirnya om dipta memulai percakapan mereka mengenai pak bambang. Apalagi om dipta sempat mendengar vian akan kesana, tapi ia menemukan pak bambang sudah tak bernyawa dilantai rumahnya.
"Kau lamban," ucap om dipta dengan wajah geram. Ia seperti kecewa dengan langkah vian yang tampaknya begitu sulit untuk bergerak dengan cepat, padahal vian yang bisa diandalkan olehnya.
"Maaf," sesal vian, yang saat itu menjelaskan semua yang terjadi dan harus menemani sang nona bertemu dengan seorang pria yang akan dijodohkan olehnya.
"Kenapa dia begitu bergantung padamu, padahal kau hanya supirnya. Atau, dia menyukaimu? Jangan melibatkan hati, Vian. Dia akan hanya akan menghalangi langkahmu, dan meluluhkan dendammu selama ini." Om dipta memberi wejangan panjang lebar pada keponakannya itu.
" Iya, Om, vian hanya berusaha untuk_"
"Ya, Om tahu itu. Sudah, santailah sejenak disini, nanti akan kita bahas lagi rencana selanjutnya." Om dipta kemudian berdiri meninggalkan vian, dan meminta sang keponakan beristirahat di kamarnya saat itu.
Vian memang lelah. Ia menurut dan berjalan menuju kamar yang selama ini sempat ia tinggali. Suasananya begitu tenang, hingga ia dapat dengan mudah memejamkan matanya
Hingga ia merasakan sesosok tubuh berbaring disebelahnya. Tangan dan jemari mungil juga mendadak merayap bermain di dada bidang yang entah sejak kapan terbuka. Meski vian sering tidur bertelanjjang dada, tapi saat itu tak ia lakukan.
"Lyra?" lirih vian yang justru membayangkan betapa indah ketika lyra yang membelainya saat itu.
"Lyra? Siapa lyra? Ini maya, Kakak!" Suara itu langsung menyadarkan vian dan membuka matanya. Ia langsung membenarkan posisi untuk duduk dan meraih tangan maya yang sejak tadi meraba tubuhnya.
"Maya, kau kenapa?"
"Ngga ngapa-ngapain, cuma mau tiduran sama kakak disini. Bukankah sudah biasa? Kenapa sekarang_"
"Tidak... Jangan pernah lakukan itu lagi, aku mohon." Vian dengan tegas menolak, dan lantas membuat maya memperlihatkan wajah yang begitu kecewa padanya.
"Kakak sudah punya kekasih? Siapa lyra?!" tanya keras maya, sepertinya mulai diliputi oleh rasa cemburu yang merajalela dihatinya.
"Aku... Aku belum bisa menjelaskannya. Maaf," ucap vian yang menununduk menjaga pandangannya. Apalagi saat itu maya hanya mengenakan dress tipis dengan belahan dada rendah didepannya. Padahal ia tak memakai itu sebelum vian datang.