My Hot Personal Driver

My Hot Personal Driver
Vian, Jangan!!



Papi lyra hanya mengangguk mendengar penjelasan putrinya. Ia memang mengerti jika hanya vian yang selalu ikut kemanapun lyra pergi dan apapun yang lyra lakukan diluar sana. Vian yang terus mengawasi dan melaporkan semuanya pada papi saat itu juga.


"Jadi kau dan pemuda itu sudah benar-benar putus?" tanya papi yang tampak begitu lega. Mereka kemudian duduk bersama di sofa dan mengobrolkan kejadian tempo lalu mengenai peristiwa yang sempat dilaporkan vian padanya.


"Kenapa bahas dia? Padahal sudah benar lyra putus dengan cara yang menyakitkan saat itu," ucap manja lyra menundukkan kepala.


Papi seno bukanlah ingin meledek putrinya saat itu, melainkan bersyukur karena sang putri dapat lepas dari jerat benalu macam dia yang hanya ingin memanfaatkan kesenangan dari harta lyra. "Tapi, dia belum melakukan apapun padamu, kan?" bisik papi yang seketika membuat lyra sedikit canggung. Apalagi vian disana, yang akan menjadi terdakwa selanjutnya.


"Papi, Ihh... Apaan nanya begitu? Lyra ngga di apa-apain sama dia kok, makanya lyra sakit hati ketika dia_"


"Ya, papi paham jika kau masih sakit. Sorry, sayang." Papi kemudian meraih tubuh lyra dan mengusapnya lembut. Rasanya jarang sekali lyra bisa bermanja seperti ini, apalagi dengan sang papi yang memang amat jarang bertemu dengannya.


Sebenarnya bisa saja lyra berkunjung kapanpun ia mau, apalagi ia bukanlah gadis yang kekurangan uang atau berfikir cermat hanya sekedar untuk pergi terbang mengunjungi tempat baru papinya. Hanya saja perhitungan lyra bukan pada uang, melainkan rasa tak nyaman dan tenang ketika harus bertemu degan ibu tirinya.


Seperti sekarang contohnya. Wajah lyra seketika berubah muram ketika sang mama tiri turun menghampiri dan bergabung pada keduanya untuk bicara. "Lyra, apa kabar? Sehat?" sapa mama laras padanya.


Lyra hanya cemberut, rasanya benar-benar tak ingin menjawab pertanyaan yang terlontar dari mama tirinya itu, tapi vian melirik dan membujuknya dari sana.


"Ya, seperti yang kau lihat. Aku masih baik dan bertahan disini," jawab lyra ketus. Mama laras tahu benar apa yang dimaksud lyra saat itu, bahwa ia beranggapan mama laras akan perlahan merebut harta sang papi dari tangannya dan mami yang sudah tiada.


"Kandunganmu sudah besar, sepertinya sangat sehat." Lyra melirik calon adiknya yang ada disana, yang seharusnya ia juga bisa secepatnya memberi cucu untuk sang papi seperti laras memberinya calon putra.


"Ya, dia sangat sehat, bahkan sangat aktif pergerakannya didalam. Kau mau sentuh?" tawar laras berusaha meraih tangan lyra, tapi saat itu juga lyra mengangkat tangan dan menolak menyentuhnya. Ia juga tampak langsung menghindar untuk menatap perut besar laras yang ada didepan mata.


Papi sedikit kesal, ia akan menegur lyra tapi sang istri segera mencegahnya dengan menggelengkan kepala.


"Nona, lebih baik anda istirahat dikamar," bujuk vian padanya. Lyra mengangguk, ia berdiri kemudian berjalan naik menuju kamar, tapi papi melarang vian untuk mengikutinya, Padahal lyra saat ini butuh padanya meski hanya untuk bersandar.


Vian diminta duduk kembali karena papi ingin bicara dengannya saat itu juga mengenai gadis yang ia jaga.


"Bagaimana dia?"


"Siapa, Riko?" tanya vian dan dibalas anggukan papi padanya.


"Dia keluar dari apartement itu, dan pergi entah kemana. Credit card, dan semua fasilitas dari lyra sudah ku cabut atas izin darinya, bahkan dengan mobil yang sempat ia bayarkan beberapa waktu lalu."


"Kau tak menagihnya? Bodoh!"


"Papi," tegur sang istri padanya. Ia tahu vian sudah berusaha keras menjaga lyra selama ini, tapi papi seno masih saja begitu keras dengannya.


Sena akhirnya bicara lagi setelah papi seno tenang, menjelaskan jika lyra sudah benar-benar tak mau lagi berurusan dengan mantan kekasihnya itu hingga ia membiarkan semua yang telah diberikan padanya. Lyra bahkan telah memblokir nomor riko dan vian sendiri sudah membuang segala barang yang ada disana hingga sama sekali tak tersisa.


"Saya_"


"Di sofa, Pi. Papi kenapa curigaan mulu sih? Nanti malah vian yang ngga betah kerja kalau dicurigain terus seperti ini," bela mama laras pada supir putri plus sahabatnya itu. Vian mengangguk, meski ia sedikit canggung dengan segala kecurigaan papi seno padanya.


"Ahhh!" Mama laras sedikit memekik ketika sang bayi menendangnya lagi dengan begitu kuat. Ia terkejut meski sudah terbiasa karena semua spontanitas yang ada. Ia kemudian tersenyum, bersandar di sofa dan kembali mengelus perut besarnya


"Sudahlah, kau istirahat saja di kamarmu sana. Kau pasti lelah setiap hari mengurusinya yang selalu mengamuk dan meluapkan emosi karena semua rasa kecewa yang ia alami," titah papi. Tapi vian meminta izin ke kamar lyra sebelum ia kembali ke kamarnya sendiri karena ada sesuatu yang harus ia selesaikan dengannya.


Untung saja papi seno mengizinkan, lalu vian mulai berjalan naik menuju kamar kekasihnya. Sayangnya bukan pelukan yang ia dapat, melainkan sebuah lemparan bantal yang tepat mengenai wajahnya saat itu juga.


Buugghh!! Vian langsung memejamkan mata dan menghela napas panjang dengan ulah kekasihnya saat itu.


"Kenapa kemari? Tak usah sok perduli padaku saat ini. Urus saja papi, dan jawab semua pertanyaannya ketika ia mengintrogasi. Semua memang tak ada yang perduli padaku saat ini, bahkan kau!!" Lyra melempar vian lagi dengan satu bantal yang ada didekatnya saat ini.


Vian dengan begitu tenang segera menghampiri lyra dan duduk didekatnya, ia merapikan bantal itu kembali dalam posisi sempurna agar tetap rapi dan indah seperti biasa."Kenapa lagi?" tanya vian dengan begitu lembut padanya.


"Kenapa semua membela dia? Tak ada sama sekali yang membelaku, padahal aku yang dia sakiti. Papi, kau, selalu saja meminta agar aku menghormatinya. Aku benci, Vian!" sergah lyra dengan segala amarah yang kembali mengusiknya.


"Kau benci pada laras, tapi kau harus ingat jika ia menganduk adikmu saat ini. Fikirkan bayi yang tak bersalah, dia bisa terganggu jika ibunya stress."


"Lalu siapa yang akan memikirkan aku, jika semua harus memikirkan dia? Apakah itu kau?" Lyra beringsut kemudian dengan cepat duduk diatas pangkuan vian. Jari jemarinya mulai membuka satu persatu kancing kemeja yang ia pakai saat itu dan meraba dada bidangnya dengan begitu gemas, tapi vian langsung menangkap tangannya agar tak semakin kemana-mana dalam bergerak.


"Kenapa? Benar jika kau_"


"Ini di rumah, Nona. Kita harus sadar akan Batasan yang ada disini, jangan sampai memperkeruh keadaan yang sudah rumit,"


Buughh!! Lyra kembali melayangkan pukulan di dadanya, bahkan ia merengut dan meggigit Pundak vian sekuat tenaga karena telah menolaknya saat ini. Vian hanya diam, hingga lyra puas meluapkan segala emosi itu padanya.


"Sudah?" tanya vian ketika lyra melepas gigitannya. Ia menangis lagi, terutama ketika vian lagi-lagi terluka akibat gigitannya barusan.


"Vian, aku... Aku minta maaf. Pasti ini sakit, aku akan_"


Greep! Tangan vian langsung mecengkram tangan lyra dengan begitu kuat, ia kemudian membalik tubuh mungil lyra hinga terlentang dikasur dan membuka kedua pahanya lebar lebar hingga mengeksplore bagian kecilnya yang indah.


"Vian, kau mau apa?" tanya lyra yang sedikit takut menatap mat avian.


Sreeet!! Pria itu menarik sang nona sedikit kasar hingga menepi diujung ranjang, dan mulai mendekatkan kepala diantara paha lyra. Kemudian vian menenggelamkan wajah menikmati syurganya.


"Vian, Jangan!!!"