My Hot Personal Driver

My Hot Personal Driver
Bagai taruhan



"Hanya ingin agar lyra tak kembali pada kesalahan yang sama untuk memilih pria. Bukan untukmu," jawab papi seno.


Obrolan tampak serius, dan hari sudah semakin larut malam ini. Sena beberapa kali melirik jam tangannya, jam tangan dengan harga yang cukup mahal hadiah dari lyra. Tampak papi seno memperhatikan tingkahnya saat itu.


"Semua keputusan ada padamu, Vian. Kau harus bisa memihak pada kubu yang tepat saat ini."


"Bagaimana jika saya salah memilih? Apa yang akan terjadi?" tatap vian tajam seperti biasa.


"Entah. Tapi yang jelas, aku dan lyra bersama Mall akan hancur seketika." Papa seno mengatakan semua dengan jujur. Bukan hancur karena bangkrut, melainkan akan jatuh ke tangan orang yang sudah sejak lama begitu ingin menguasainya.


"Separah itu?" gumam vian dalam hati.


"Tak ada pilihan saat ini. Yang jelas, jika kau berhasil melawanku, bisa jadi mall akan menjadi milikmu."


Vian membulatkan matanya. Ia masih berusaha mencerna perkataan sang tuan bahkan hingga ia keluar dari rumah itu. Selalu terngiang.


"Apa maksudnya?" lirih vian mengelus dagu. Apalagi ia berat ketika harus menuruti permintaan papi seno agar mendekatkan lyra pada demian, pria yang akan dijodohkan padanya..


"Vian, kamu dimana? Lama sekali?" tanya manja lyra yang sudah menunggunya sejak tadi.


"Ya, aku segera sampai. Tunggu saja," jawba vian berat.


Lyra lantas mematikan panggilan dan merasakan sesuatu yang aneh pada kekasihnya itu. Tapi tak terlalu ia fikirkan karena yang penting vian pulang dengan segera. Ia bahkan mempersiapkan diri untuk menyambutnya saat itu juga.


Pintu apartement dibuka. Lyra yang duduk disofa dengan cemilannya, saat itu segera berdiri untuk menyambut sang kekasih hati. Ia bahkan langsung merentangkan tangan ketika vian masuk dan memeluknya dengan erat.


"Hey, kamu kenapa? Papi berbuat sesuatu padamu?" Lyra memangkap sesuatu yang aneh di wajah vian saat ini.


"Sayang, kau memang terlihat sangat lelah saat ini. Mau aku buatkan coklat panas? Kau biasanya suka," tawar lyra, memberi perhatian penuh pada kekasihnya itu.


"Hey, tak usah." Vian meraih tangan mungil lyra ketika akan beranjak darinya. Ia bahkan membawa tubuh lyra berbalik menghadapnya saat itu, lantas mengecupi tangan mungil yang harum dan begitu menggemaskan.


"Vian, ada apa?" tanya lyra mulai cemas.


"Bisakah, aku meminta sesutu padamu? Aku tak akan memaksa, hanya saja ini semua demi kita dan aku janji hanya sementara."


"Apa?" tanya lyra dengan debaran hati yang luar biasa. Ia takut jika vian pergi, atau vian akan menjauh setelah ini.


Tidak bisa... Lyra tak akan bisa menyanggupi semua itu jika memang harus terjadi. Ia sudah terlanjur terikat dengan vian, ia sama sekali tak bisa jika harus jauh dari vian saat ini. Lyra bisa gila.


"Untuk sementara waktu, aku hanya memintamu untuk menurut pada papi. Dekatlah... Dekatlah dengan demian setelah ini."


"NO! Engga, aku ngga mau. Kamu mau apa dari dekatnya aku dan pria itu? Kamu mau menjauhi aku perlahan, lalu pergi dengan gadis lain yang lebih cantik? Tidak! Demi apapun aku tidak akan_"


"Hey, sayang... Bukan begitu maksudku. Dengar dulu," tegas vian mengeratkan tubuh keduanya. Yang ia tahu, lyra akan luluh dengan segera.


"Aku tahu ini berat. Tapi, aku tak akan bisa fokus mengawasimu beberapa hari ini. Aku yakin, bersamanya kau akan aman."


"Tapi, bagaimana jika nanti dia benar-benar ingin aku? Kau lihat tatapannya yang selalu menatapku dari ujung kepala hinga ujung kaki. Aku tak suka." Lyra melemah.


"Aku yakin, dia tak akan melakukan itu. Karena yang ia lihat bukan dirimu,"