
Lyra terbangun dari tidur dengan kepala yang cukup berat. Ia kesulitan membuka mata karena rasanya berkunang-kunang tiada terkira. Ia meraba sebelah tempat tidurnya dan taka da vian disana. rasanya semakin emosi karena sesuatu yang selalu ia inginkan taka da didekatnya saat ini.
"Aaarghh!! Vian!" Lyra meraih bantal dan melemparnya kesembarang tempat hingga berantakan. Ia kemudian mengikat rambutnya secara asal lalu mencari vian, yang ternyata tengah berolah raga di balkon apartementnya.
Lyra duduk disofa memperhatikan vian yang tengah melakukan beberapa kali push up disana. Dadanya yang bidang tak terbalut itu penuh dengan keringat. Dadanya, perutnya, semuanya sempurna dimata lyra apalagi bagian bawah yang hanya ditutup dengan boxer ketat. Lyra seperti mendapat pemandangan pagi yang luar biasa indah saat ini.
Vian yang menyadari kehadiran lyra itu segera menghentikan kegiatanya sementara. Ia menghampiri sang nona yang tengah duduk bersila disofa dan sedari tadi memandanginya tanpa mengedipkan mata.
"Sudah bangun? Masih pusing?" tanya vian dan mendapat jawaban gelengan kepala dari lyra. Vian segera menempelkan punggung tangan ke dahi sang nona untuk mengecek suhu tubuhnya.
"Aku panas."
"Tidak, suhumu normal." Vian melepaskan tangannya dari sana.
"Aku panas jika ada didekatmu, bagaimana?" tanya lyra dengan tatapan penuh goda.
"Mandilah, akan ku persiapkan sarapan untuk kita berdua,"
"Kalau kau sarapan aku dulu, bagaimana?" Vian hanya tersenyum miring mendengar ucapan sang nona padanya. Ia seperti makanan yang siap untuk vian santap kapan saja, dan pastinya begitu nikmat.
"Aku belum mandi, lihat saja keringatku seperti ini." Vian merentangkan tangan menunjukkan tubuh berpeluhnya. Tapi bukannya jijik, lyra justru tampak bahagia dan begitu gemas padanya, ia lantas bersimpuh diatas sofa itu meraih wajah vian dan segera menyerang bibirnya. Menghisap lidah vian sekuat tenaga agar segera membalas lumatannya saat itu juga.
Keinginannya bersambut, Vian segera meraih pinggang dan membalas aktivitas lyra di dalam mulutnya. Seperti biasa, tanganya tak pernah bisa diam terus merayap ditubuh indah lyra dengan dada yang bahakn tak terbungkus oleh bra.
"Ahh... Hm!!" pekik lyra yang mulai kegelian dengan aktivitas yang vian berikan ditubuhnya. Dari leher, turun ke dada hingga saat ini mulai menelusup diantara dua pahanya berusaha mencari sesuatu yang mungil disana.
Lyra memekik panjang, spontan melepaskan lumaatan dan dan membuka mulutnya lebar untuk membuang desahaan yang keluar. Kedua pahanya mengapit tangan besar vian yang tengah begitu aktif mengobrak abrik inti tubuhnya dibawah sana. Bergetar, lututnya seakan sudah kehilangan kekuatan untuk menopang tubuhnya sendiri saat ini.
"Viaaaaann!" Suara lyra juga ikut bergetar dibuatnya.
"Kau suka? Hm? Kau mau seperti ini setiap hari, Lyra?"
"Aku mau, tapi sama kamu. Aku ngga mau... Kamu disentuh Wanita lain selain aku," racau vira dalam setengah sadarnya, dan saat itu hanya vian dan vian didalam isi kepalanya.
Vian terseyum miring dan mempercepat tempo pergerakannya disana. Ia tak dibibir lyra lagi, karena hanya dengan satu gigitannya bisa menurunkan lengan tipis dari lingerie yang lyra pakai saat ini. ia dengan aktif terus bergerilya dengan lidah, gigi dan bibir untuk menggigit disana, membuat lyyra menjerit tak karuan rasa. Bahkan sampai mengadahkan kepala hingga mmebusungkan dada seakan meminta untuk lebih dan lebih lagi vian ditubuhnya.
"Awwwhhh!!" Lyra memekik sekuat tenaga ketika mendapat pelepasan pertamanya, membajiri jari jemari vian kemudian ********** dengan begitu dahaga.
"Aku tak mau kehilanganmu," ucap lyra dengan napasnya yang tersengal.
"Kau fikir, aku pria macam apa yang bisa meninggalkanmu begitu saja?" ujar vian, dengan bibir terus bergerilya disetiap jegkal tubuh sang nona, mmebuatnya menggeliat, mendesis dan meringis tak karuan karena lidah panjang nya disana. saat ini lingerie itu bertumpuk diperut rata lyra, hingga mempermudah vian untuk menyesap setiap inti tubuhnya dengan penuh kenikmatan.
Lyra memejamkan mata, mendongakkan kepala sampai pundaknya terangkat ketika vian kembali bermain pada inti keciil tubuhnya. Sungguh luar biasa, lagi-lagi membuat lyra tak berdaya hingga serasa roh terlepas melayang dair dalam tubuhnya. Tak ad acara agar ia bisa meluapkan semuanya, bahkan hanya sekedar kata nikmat dan puas semata dengan segala yang vian berikan padanya.
Lagi-lagi lyra hanya bisa meyebut nama vian dengan suara sensualnya, dengan desaahan yang membuat mulutnya ternganga dan sulit terkatup lagi karenanya. Apalagi ketika vian mengajarkan berbagai gaya baru untuk percintaan mereka berdua. Lyra baru tahu, jika setiap gaya memiliki kenikmatannya masing-masing dan memiliki gairaah yang berbeda.
Vian saat ini membuat tubuh lyra miring dan membelakanginya, kemudian ia menyatukan mereka dari belakang lyra dengan hentakan kuatnya yang membabi buta. Dalam posisi itu, vian bebas menghentak dengan terus memainkan tubuh lyra sesuka hatinya bahkan menggigit Pundak lyra dengan bibirnya
Entah berapa kali saja lyra mendapatkan pelepasan luar biasa, hingga saat ini sepertinya mereka tengah berada dalam puncak percintaan mereka dan akan melepaskan semuanya bersama. Hanya berdua, tapi suasana apartement begitu ramai hanya dengan suara kedua pasangan yang memadu cinta itu. Yang seolah tak kenal waktu dan kapan saja mereka mau.
"Aarrghh.... Lyra!!" leenguh vian yang pada akhirnya mengisi penuh lyra dengan kehangatannya.
"Vian..." Begitu juga lyra, yang tubuhnya mengejang karena pelepasan mereka bersama.
"Terimakasih, sarapan ini nikmat sekali." Vian mengecup lyra sekali lagi dengan begitu mesra. Hingga beberapa saat mereka bangun dan mandi bersaam, dan akhirnya pergi untuk bekerja.
Keduanya tampak begitu bersemagat seperti Hp yang telah di cas penuh dayanya dan siap melakukan aktifitas apa saja seharian. Dan akan kembali mengecharge tenaga jika mereka memerlukannya kapan saja.
"Salsa, apa agenda hari ini?" tanya lyra yang Sudah ada didalam ruangannya.
"Rapat yang kemarin, akan diadakan hari ini. Nona siap?" tanya salsa dengan segala jadwal yang ada.
"Baiklah, kita pergi sekarang. Kau ikut, dan vian berjaga dan mengawasi semuanya disini." Titah lyra pada keduanya.
"Lalu, yang membawa mobilnya?" tanya salsa, heran.
"Kau mau aku jadi supirmu? Kau mau itu, lalu memerintahku melakukan apapun yang kau mau?" tukas lyra dengan gaya sinisnya. Menjentikkan jari tepat diwajah salsa seperti biasa. Dengan itu, vian tampak tenang karena lyra berarti sudah benar-benar sembuh dari segala rasas sakitnya.
"Padahal, apa salahnya tinggal bilang kalau_"
"Salsaaa!!" pekik lyra yang sudah lebih dulu keluar dari ruangan itu, dan salsa terlonjak hingga dengan cepat meraih kunci mobil yang ada dimeja ruangan itu, kemudian berlari tanpa sempat berpamitan pada vian yang sejak tadi menggelengkan kepala melihat keduanya.