My Hot Personal Driver

My Hot Personal Driver
Jangan pernah goda Vian



Sudah tiga hari mereka tinggal di rumah besar itu. Sudah tak terhitung pula berapa kali lyra merengek untuk segera pindah kembali ke apartementnya, apalagi vian tak menyentuhnya selama disana. Lyra selalu uring-uringan dan gelisah, tak jarang mengomel pada vian bahkan memperlihatkan sikap cemburu ketika vian dekat dengan wanita lain didepan matanya.


Seperti saat ini, ketika mereka mengadakan pertemuan dengan Nyonya Renata pemilik salah satu resto yang ada di mall mereka. Nyonya renata seolah tak bisa memalingkan pandangan dari pria yang ada di dekat lyra, dengan wajah dan tubuhnya yang begitu sempurna. Bahkan Nyonya renata yang merupakan janda kaya itu juga tak segan merayu vian didepan lyra. Padahal salsa juga ada disana.


"Mas vian, kamu kenapa jadi supir? Badan kamu itu sempurna, mau jadi model aja?" tanya Nyonya renata yang duduk mendekat pada vian, bahkan tak segan menyentuh paha vian dan memainkan jemarinya disana.


"Nyonya, bisakah kita lanjutkan rapatnya?" tanya salsa yang mulai emosi, pasalnya ia juga cemburu ketika vian diperlakukan seperti itu didepan matanya.


"Ayolah, Mba Salsa, Nona lyra. Saya disini hanya menawarkan pekerjaan lain untuk vian yang lebih


Jangan ditanya bagaimana mimik wajah lyra saat itu, rasanya jika bukan ditempat ramai, ia akan berdiri dan menjambak wanita itu sekuat tenaga dan melemparnya keluar dari ruangan mereka. Tapi vian meminta lyra agar tetap fokus pada pekerjaan yang ada.


"Dasar brengsek! Pasti dia juga suka di ***** oleh tante tua peyot itu. Awas saja kau." Lyra meracau dalam hati dan terus mengumpat vian begitu kesal.


"Bisakah fokus? Vian memiliki banyak pekerjaan dan tak akan mungkin sempat melayani tante gatal sepertimu," tukas lyra.


"Kau bilang aku tante gatal? Lalu kau apa, perawan tua tak laku? Setidaknya aku sudah Dua kali menikah bahkan sekali dengan brondong," bangganya.


"Ya, meski setelahnya kau nyaris jatuh miskin karena dia tipu. Jadi, apa yang akan kau banggakan. Bekerja, dan kembalikan kekayaanmu saat ini." Lyra terus saja mematahkan kata-kata wanita itu hingga membuatnya sebal bukan kepalang.


Vian saat itu mendapat kode dari lyra untuk segera keluar dari ruangannya, ia tak tahan jika melihat wanita gatal it uterus saja menggoda kekasihnya.


Rapat dilanjutkan. Sesuai perjanjian, lyra akan berusaha professional menghadapinya. Saat itu mereka membahas penambahan kontrak yang diajukan oleh nyonya renata untuk Restaurantnya, dan bahkan meminta sedikit keringanan untuk semua tanggungan yang ada. Karena seperti yang lyra sempat bilang, dia nyaris jatuh miskin karena ditipu brondongnya kala itu. Mobil dibawa kabur, uang, dan bahkan rumah mewah peninggalan suami pertamanya nyaris disita oleh bank karena ulah brondongnya.


"Kau mau itu semua?" tanya lyra dengan wajah datarnya.


"Ya, ya akum au itu. Kau bisa memberikannya, Nona? Apapun syaratnya, akan aku lakukan," ucap wanita itu dengan begitu antusias.


"Jauhi dan jangan pernah goda vian, bahkan ketika dia ada didepan matamu." Tatapan lyra begitu tajam dan serius padanya.


"What? Kau seperti ini hanya demi supirmu itu? Ada hubungan apa kalian?" curiga Nyonya renata padanya.


"Mau atau tidak?" tanya lyra penuh tekanan di nada bicaranya. Apalagi ia tahu benar bagaimana mepetnya nyonya itu saat ini, apalagi dengan segala kesulitan yang ada.


"Ba-baiklah, padahal aku hanya menawarkan untuk_"


"Kau fikir aku tak tahu, jika kau bahkan membuka jasa gigolo sebagai bisnis terselubung di Restomu?" tanya lyra, dan itu langsung membungkam mulut nyonya renata hingga bergetar ketakutan karenanya.


Salsa hanya ternganga mendengar semuanya, padahal ia yang setiap hari ada di mall tapi lyra lebih tahu semuanya. Ia seketika merasa tak berguna dan gagal dengan segala pekerjaan yang ada.


"Salsa, bawa dia dan panggil vian kemari." Lyra mulai memerintah lagi, dan tandanya mood lyra mulai membaik saat ini.


Salsa menuruti, ia keluar dan membawa nyonya renata pergi dari ruangan itu bersamanya. Ia juga mencari vian keseluruh tempat yang ia lewati, tapi ia tak menemukannya sama sekali hinga lyra yang tak sabaran terlanjur menghubungi.


"Tak bisakan kau menemukan satu pria dengan cepat? Kau fikir mall ini seluas dunia?" omel lyra padanya.


"Aku sudah berusaha, tapi dia entah kemana. Bahkan aku sudah mencari sampai ketempat yang biasa ia datangi, kenapa tak mencoba menghubungi dia saja? Kan dia punya hp."


"Kalau aku bisa, apakah aku menyuruhmu, SALSA!!" amuk Lyra padanya, hingga salsa hanya bisa memejamkan mata mendengar suaranya yang melengking seakan memecahkan telinga. Apa salahnya menjelaskan jika hp vian tertinggal diruanga itu hingga ia tak bisa menghubunginya.


Salsa hanya bisa menghela napas dan mengurut dada saat ini dengan kemalangan yang ia alami. Ingin resign rasanya jika tak ingat gajinya sangat besar dan bahkan menghidupi keluarga terutama ibunya yang sedang sakit disana.


Gadis itu kembali menyusuri setiap tempat yang ada di mall besar itu satu persatu, hingga akhirnya ia bertemu dengan vian yang baru saja keluar dari sebuah ruangan yang merupakan kantor administrasi. Salsa segera menghampiri, bahkan ia berteriak dan berlari agar vian tak hilang lagi dari pandangan matanya.


"Vian! Vian, tunggu!?" pekik salsa padanya. Vian yang mendengar suara itu lantas membalik badan dan menunggunya datang, namun sayang salsa justru jatuh terkilir karena heelsnya yang tinggi. "Aaargh! Sakit! Sial banget sih aku," kesal salsa merutuki nasibnya.


"Astaga, Salsa!" Vian yang terkejut langsung menghampirinya salsa ditempatnya. Ia berjongkok kemudian melihat kaki salsa yang sedikit memar karena keseleo, dan segera membopongnya untuk kembali keruangannya.


"Jangan, nanti nona marah. Aku ngga berani kalau_"


"Aku menolongmu, bukan mau macam-macam." Vian terus membawanya berjalan saat itu, hingga tanpa ia sadari lyra memperhatikan mereka berdua dengan tatapan tajam dan begitu membunuh.


"Ahh, Nona!" Salsa yang terkejut langsung menurunkan dirinya dari tubuh vian meski ia harus meringis kesakitan dikakinya. "Nona, maaf. Vian hanya menolongku karena kakiku keseleo," lirih salsa menunjukkan memar di kakinya.


Sementara itu vian langsung berdiri tegap dihadapannya dengan wajah datar, ia tak takut tapi hanya menghindari keributan yang lebih lagi diantara mereka. Apalagi wajah lyra yang sudah merah padam gara-gara mereka berdua.


"Obati dia, aku pergi," datar lyra langsung melangkah kedepan, tapi vian mencekal tangannya.


"Nona mau kemana, biar saya antar."


"Tidak, obati saja dia. Dia seperti itu karena menjalankan perintah untuk mencarimu. Jadi, manfaatkan waktu kalian berdua," jawab lyra menepis kasar tangan vian darinya.


Ia menyerahkan hp vian lalu berjalan dengan cepat meninggalkan mereka berdua yang masih berdiri ditempatnya. Vian merasa akan ada kejadian lagi kali ini dari lyra, apalagi jika bukan dengan emosinya yang akan meledak.


"Aku harus menenangkannya. Salsa, minta tolong yang lain saja, ya?" ucap vian yang kemudian meninggalkannya.