
Seorang pekerja datang membawa Dokter dari klnik yang ada di lantai bawah untuk memerika Salsa saat itu juga. Bahkan Salsa diberi obat agar sedikit tenang saat ini hingga akhirnya Salsa tertidur pulas diatas sofanya.
“Mas Vian, ini bagaimana?” tanya salah seorang diantara mereka yang mencemaskan Salsa saat ini, dan Vian sejak tadi tak beranjak dan menggenggam tangannya yang dingin.
“Kalian kembali saja bekerja ditempat masing-masing. Aku akan jaga Salsa hingga bangun dan mengantarkannya pulang nanti,” jawab Vian, dan dibalas anggukan patuh mereka semua. Karena jika tak ada papi atau Lyra, maka Vian yang akan menjadi pimpinan saat itu.
Vian baru meyadari itu semua saat ini. Ia sadar, meski hanya menjabat sebagai supir putrinya, tapi Papi juga memberinya mandat yang tak main-main selama bekerja disana. Semua orang juga menghormati Vian layaknya Ceo sebagaimana memperlakukan Lyra. Padahal jika difikir, apalah arti seorang supir dengan jabatan paling rendah diantara mereka semua.
“Salsa,” lirik Vian mengusap rambut adiknya. Ya, kenyataan baru yang ia dapatkan adalah Salsa adalah adiknya. Itu kenapan papi Seno selalu bilang jika mereka sebenarnya dekat selama ini, tapi papi Seno benar-benar menjaga semua dari orang lain.
Tirana, itu nama adik Vian dan Papi bahkan menggantinya menjadi Salsa. Dan wajar jika Salsa tak paham wajah kakaknya karena ia sendiri mengalami trauma hingga beberapa ingatan pentingnya hilang karena kejadian itu. Hanya kebakaran dan Ayah ibu yang ia panggil, atau Salsa sebenarnya menyimpan sebuah rahasia dibalik traumanya dan Papi Seno menyadari itu.
“Seberapa besar perjuangan Papi Seno melindungi kami?” Vian bahkan terharu dengan perjuangan sahabat ayahnya itu. Maka wajar jika ia tak bisa memperhatikan Lyra karena segala pekerjaan yang menyita waktunya.
Hingga Satu jam kemudian akhirnya Salsa bangun, dan ia sadar jika Vian tengah menggenggam erat tangannya dan segera menepis dengan kasar.”Ah, Kak Vian. Maaf, Salsa merepotkan,” ucapnya tertunduk malu. Ia hanya takut jika ada yang melapor pada Lyra dan membuat perseteruan diantara mereka. Biarpun ia suka Vian, tapi ia mendukung ketika Lyra bersamanya.
“Bagaimana perasaanmu saat ini?” tatap Vian tajam padanya,.
“Bagaimana? Salsa udah baikan, dan Kakak bisa bertugas seperti biasa.”
“Kau takut padaku?” Salsa menggelengkan kepalanya, tapi memang tampak begitu canggung bahkan tak berani menatap mata Vian dihadapannya.
Andai bisa, Vian saat itu ingin segera mendekap Salsa dan bahkan menciumnya. Ia amat merindukan Tinara_adiknya yang ternyata adalah Salsa. Tapi ia harus menahan semua itu dan menunggu hingga waktunya tiba untuk saling mengetahui satu sama lain dan tinggal bersama seperti cita-citanya.
“Kakak kenapa? Maaf, Salsa buat cemas. Salsa memang seperti itu ketika melihat kebakaran,”
“Kau memiliki trauma?”
“Iya, dulu ketika usia Dua belas tahun katanya rumah Salsa kebakaran hingga Ayah dan ibu meninggal.”
“KAtanya?” Vian memicingkan mata.
“Kata Papi Bos, karena dia merawat Salsa saat itu. Dan Salsa amnesia,” jawabnya sesuai dengan apa yang Vian duga. Betapa besar hutang Vian pada papi Seno saat ini.
Vian hanya bisa menghela napas panjang mendengar dan menahan semuanya. Act cool seperti biasa agar Salsa tak curiga dan bahkan salah tingkah padanya saat ini. Ia kemudian berdiri untuk segera pergi menuju kediaman pak Cakra seperti apa yang ia rencanakan sebelumnya.
Salsa merapikan diri dan berusaha tetap bekerja semampunya saat ini. padahal semua karyawan yang ada disana sudah memintanya pulang, bahkan Vian juga menawarkan bantuan tapi Ia menolaknya dengan tegas. Ia seperti Vian yang tergantung balas budi pada Papi bahkan mungkin dengan nyawanya sendiri.
“Bagaimana dia saat ini?” tanya Lyra ketika mendengar kabar dari Vian mengenai Salsa.”
“Tak apa, dia sudah bangun dan mulai bekerja. Masih di Rumah sakit?”
“Hey… Berhentilah meracau tak jelas seperti itu. Aku menemani dia karena tak ada yang menggantikan disana,” balas Vian pada kekasihnya, ketika sadar jika aroma cemburu tercium dengan jelas dari suaranya.
Ya, meski begitu mereka saling cinta.
Vian mengakhiri panggilan itu dan menyetir mobil ke arah tujuan dari alamat yang ia pegang. Sebuah perkampungan yang cukup jauh dari kota, tak kumuh tapi ramai sekali dengan padatnya rumah penduduk yang ada disana. Bahkan kabarnya sebagaian penduduk yang ada adalah warga pindahan dari tanah yang dibangun Mall saat ini.
“Pak Cakra?” panggil Vian pada seseorang yang tengah santai dengan cerutu ditangannya saat itu. Di teras rumah paling besar diantara yang lain, meski tak bisa dibilang mewah.
“Siapa?” tanya pak Cakra yang memperhatikan Vian dari ujung kaki hingga ujung kepala. Seperti kenal, tapi juga berbeda dengan ingatannya.
“Boleh saya masuk? Saya ada perlu dengan bapak dan banyak yang ingin saya pertanyakan.”
Pak Cakra hanya memajukan kepala dan mempersilahkan Vian duduk dikursi kosong yang ada. Sesaat mereka hanya diam, hingga akhirnya Vian angkat bicara dan memperkenalkan dirinya pada pak Cakra, “Saya anak Akbar,”
“Yang sekolah di luar kota itu? Kenapa menemui saya?” Ucapannya tampak begitu datar pada Vian saat ini, tak seperti beberapa orang yang ia temui sebelumnya. Vian curiga, jika pak Cakra adalah orang om Dipta dan pengkhianat ayahnya.
“Saya hanya ingin bertegur sapa, saya ingat jika Bapak sering main kerumah Ayah saya sebelum beliau meninggal,” ucapnya.
“Kau suruhan Dipta?” tanya tegas pak Cakra padanya. Setelah sekian kali, baru kali seorang yang ia datangi dengan gamblang mempertanyakan om Dipta padanya.
“Aku tak mau jika kau berpihak pada keserakahan. Kau lihat aku dimana sekarang? Aku justru bergabung dengan mereka semua disini setelah tahu jika om mu itu mempermainkan semuanya. Padahal ayahmu sudah begitu percaya padanya,”
“Mempermainkan?” tatap Vian penuh tanya. Mempermainkan apa diantara mereka, dan kenyataan apalagi yang ia temui saat ini? Semuanya terasa begitu rumi, tapi semua juga tak ada yang pro Om Dipta seperti yang selama ini Vian pegang kata-katanya.
Om Dipta pahlawan, Om Dipta adalah penengah mereka semua dan dia kepercayaan sang ayah. Jawaban mereka semua berbeda, tapi kenapa om Dipta meminta Vian untuk mencarinya jika ia tahu semua tak mendukungnya selama ini.
“Apa ini maksud papi, jila harus merahasiakan pertemuanku darinya? Dan pak Bambang?”
“Ku dengar dia dibunuh, seseorang bertemu dengannya sebelum meninggal dan membuat jantungnya kumat.”
“MAka dari itu, Bapak bertanya saya ikut siapa?”
“Aku tahu, jika Dipta yang merawatmu selama ini hingga akhirnya kau bekerja dengan Senopati.”
Semua orang tahu, dan semua orang diam. Mereka semua menjaga Vian dan Salsa saat ini dari omnya sendiri ternyata. Dan itu kenyataan yang mengejutkan bagi Vian.
“Sebelum kau kesini, aku sudah mengirim semua pada senopati. Dan jika kau mencariku lagi, mungkin setelah ini kita sudah berbeda alam,” tawanya pada Vian.