
Vian menyetir mobilnya dengan cepat hingga segera tiba di rumah papi Seno. Ia segera masuk ke kamar untuk menaruh brankas itu dan membuka untuk melihat apa isi didalamnya. Dan Vian menemukan sesuatu, beberapa copian surat tanah dan ada surat yang berisi keterangan jika ayah Vian adalah salah satu pemilik sah dari mall itu.
“Jika sejak awal tahu jika memang ayah pemiliknya, untuk apa dia mengincar semua orang yang terlibat disana? Ada apa dengan om Dipta?” geram Vian, yang bahkan saat itu mendapati foto keluarganya secara lengkap disana. Tampak mereka begitu bahagia saat itu, bahkan kabarnya ibu Vian tengah mengandung anak ketiga adik Vian dan Tirana, atau bisa dipanggil Salsa saat ini.
Vian menggenggam foto itu dan ia dekap didalam dadanya. Tak terbendung lagi hingga airmata membasahi pipinya saat itu juga.
“Vian… Hey, kenapa kamu menangis?” Lyra yang mendadak datang langsung menutup pintu kamar itu dan menghampiri sang kekasihh. Ia langsung duduk disamping Vian dan mendekap erat pria itu agar sedikit tenang dari kesedihannya saat ini.
“Sayang, kamu kenapa? Tak seperti biasanya kamu sedih begini.” Lyra tak menunggu jawaban Vian, ita meraih kertas yang ada digenggamannya saat itu dan memperhatikan semua foto yang ada disana.
“Ini kamu, ayah, ibu, dan… Adik kamu?” tanya Lyra, dan Vian menganggukkan kepalanya.
“Adikku masih hidup setelah kebakaran itu. Namanya Tinara,” jawabnya mengusap pipi yang basah.
Lyra memperhatikan foto itu dengan begitu dekat, terutama pada sosok adik Vian yang seolah familiar dimatanya. “Dia?” gagap Lyra, dan Vian langsung membungkam mulutnya saat itu juga.
“Kau tahu, maka diamlah dan jaga semua rahasia kita.”
“Tapi, papi?”
“Papi bahkan sudah tahu lebih dulu dariku. Dia sengaja,”
“Sejahat itu?” geram Lyra yang berfikiran buruk lagi akan papinya, seolah ia adalah pria terjahat sedunia.
“Hey, kau ini! Kenapa selalu begitu pada ayahmu sendiri? Dia tak sebrengseek yang kau kira,” omel Vian, dan Lyra memanyunkan bibirnya seketika.
Vian meraup bibir itu seakan ingin menguncirnya dengan karet saat itu juga. Ia langsung kembali menyembunyikan brankas itu di dalam lemari dan meminta Lyra bersikap seolah tak pernah melihatnya selama ini.
“Tapi jika ada sesuatu terjadi sama kamu gimana?” tanya manis Lyra mencemaskan kekasihnya.
“Tak akan terjadi apapun padaku, Lyra. Justru yang aku cemaskan adalah kau dan papimu saat ini. Laras dan Zayan juga, karena dia keluarga kita.” Vian mengusap lembut wajah Lyra dengan segala cinta yang ia punya. Ia berjanji akan menikahi Lyra setelah semua ini selesai dan semua aman.
Lyra keluar setelah itu karena Vian memintanya. Ia tak mau papi curiga dan menimbulkan pertentangan diantara mereka berdua, dan Vian mulai mencari data untuk pak Bonar agar ia mendatanginya besok.
**
Hari sudah semakin larut saat ini. Lyra yang tengah duduk santai bermain tab di kamarnya, mendengar suara tangis Zayan di kamar yang hanya berjarak beberapa meter dari kamarnya itu. Rengam, jengah, dan rasanya terpancing emosi seketika karenanya. Ia yang selama ini sendiri dan tenang, mendadak harus mendengar suara yang memekakan telinganya.
“Arrghh… Laras! Bisa ngurus anak ngga sih? Nangis begitu ngga didiemin,” erang Lyra yang langsung beranjak keluar dari kamarnya. Ia berjalan menuju kamar Laras dan melihatnya tengah kebingungan disana menenangkan sang putra.
“Nangis terus kenapa sih? Laper apa?” omel Lyra pada sahabatnya itu.
“Buatin dulu susu formula biar tenang, kasihan Zayannya.” Lyra yang sebal kemudian berjalan menuju nakas dan meraih susu formula itu. Ia meraih satu dot kecil dan menuang susu disana lengkap dengan air sesuai takaran yang ada.
‘NIh,” ucap Lyra yang kemudian menyodorkan susu formula itu untuk adiknya.
Dan benar saja, Zayan langsung diam mendapat susu dan segera memejamkan mata ketika habis dotnya.
“Papi mana sih? Udah tahu punya bayi malah keluyuran! Siapa yang mau urus, masa Vian?”
“Kamu kan ada,” goda Laras padanya, dan laras saat itu hanya mencebik kesal menghentakkan kakinya dilantai.
“Ssst…” Laras merintih dengan kedua dadanya yang membengkak begitu besar saat ini. Ia memijatnya perlahan meski sulit dan terasa sakit hinga cairannya merembes di daster yang ia pakai saat itu. Wajahnya mulai pucat, berusaha mencari handuk yang bisa meresap agar tak mengalir semakin deras.
Lyra masih memiliki hati rupanya. Ia segera membuka lemari kecil milik Zayan yang berisi popok, kemudian mengambilkan handung kecil disana untuk Laras.
“Kamu kenapa pegang-pegang?” tangkis Laras ketika Lyra menyentuh kedua bulatan besarnya. Super besar dari ukuran normal.
“Aku Cuma mau bantu pijat laktasi, biar asinya keluar nanti. Jadi nanti itunya ringan,” ucap Lyra yang kemudian meraih beberapa wadah disana untuk menampung ASI Laras untuk zayan.
Lyra menraih beberapa handuk lagi lalu ia beri air hangat untuk mengompres dada Laras kemudian memijatnya pelan dan beraturan, berputar satu arah dan kembali lagi kearah lainnya. Tampak LAras tengah merintih menahan nyeri karena tindakan Lyra barusan.
“Tuh, kan banyak. Kudu rajin dipijet begini,” cicit Lyra yang terus memijatnya saat itu.
“Aaah… sakit!” rintih Laras, tapi ia akui saat ini lumayan ringan dirasa olehnya.
“TErimakasih, perhatian juga.” Laras kembali menggoda sahabatnya itu sekali lagi.
“Jangan salah paham. Aku ngga mau ya, kamu keluar dengan ukuran dada super jumbo begini. Malu-maluin!”
“Bukan karena takut Vian lirik aku?”
“Engga! Ih, apaan sih?” geram Lyra yang kesal terus diledek oleh Laras, padahal sebenarnya iya. Siapa yang tak melotot ketika melihat ukuran jumbo seperti itu meski tahu baru saja melahirkan seorang anak dengan cara yang normal.
“Eh, Lyra, kamu disini?” tanya Papi yang kaget melihat putrinya di kamar bersmaa Laras saat itu, apalagi dengan posisi mereka saat ini. Papi seakan tak sanggup lagi menahan senyum dan bahkan ingin tertawa melihat mereka berdua.
“Iiiih… Apaan? Orang lagi bantu malah diketawain? Sono urus sendiri istrinya!” Lyra yang ngambek langsung pergi meninggalkan mereka berdua di kamar itu. Hentakan kakinya begitu kuat, untung saja lantai tak bergetar karena ulahnya.
“Kan, Papi… Ngambek lagi dia. Baru aja baikan bentar,”
“Sorry, Mam.” Tawa Papi seno mengangkat kedua tangannya.