
Keduanya memasuki mobil dan mulai berjalan menuju mall milik keluarga lyra. Ia memiliki semua gedung itu, dan semua orang pedagang disana menyewa tempat padanya. Tak hanya ratusan, bahkan ribuan pedagang dengan berbagai bisnis mereka ada disana.
Tapi tak semuanya menyewa dengan bayaran mahal. Sebagian lyra berikan tempat dagang gratis di lantai bawah, semua itu sebagai bukti lyra mendukung kegiatan dagang masyarakat disekitar daerah kekuasaannya. Bahkan di bagian belakang yang masih termasuk tanah keluarganya, ia bangun pasar untuk pada pedagang tradisional yang ada.
Mereka sempat digusur karena akan ada pembangunan lain ditempat mereka terdahulu, dan bahkan diusir paksa dengan cara dibakar lapaknya.
"Selamat siang, Nona." Para satpam yang mengetahuinya datang segera berdiri menyambutnya masuk kedalam.
Suasanya begitu ramai pengunjung, tapi memang seperti itu apalagi menuju week end seperti hari ini. Lyra diikuti vian untuk berjalan menaiki lift untuk segera tiba ke ruangan pribadinya.
"Aaah, Vian..." desis lyra. Rupanya ia tak sekuat itu, ia merasakan nyeri dibawah sana yang masih baru seperti luka.
"Apa perlu ku gendong?" tawar vian dengan wajah yang tak kalah cemas. Pasalnya ialah penyebab semua rasa sakit itu terjadi pada sang nona.
Lyra menggelengkan kepala, tapi ia menghampiri vian dan mengalungkan lengan dilehernya. Yang meski saat itu vian harus merendahkan diri agar tubuh lyra sejajar dengannya. "Cukup seperti ini, sebentar saja," bisik manja lyra ditelinganya.
Vian diam, lalu ia memeluk pinggang lyra dan mengusap dengan jarinya. Begitu lembut dan menenangkan, tapi sayang hal itu tak berlangsung lama karena dengan cepat pintu lift terbuka.
Lyra melepas pelukannya dan kembali bersikap profesional dihadapan mereka semua yang menunggunya..
"Nona," sapa salsa yang membungkuk ketika ia datang. "Vian. " Tak lupa ia menyapa vian dengan senyuman ramahnya.
Lyra langsung melirik tajam saat itu, kemudian menoleh pada vian memastikan bagaimana responnya pada sapaan salsa. Vian membalas sapaan itu seperti biasa, meski datar tapi ia tampak cukup ramah pada salsa.
"Segera bawa berkas itu ke ruanganku,"
"Baik, Nona." Salsa mengangguk dengan perintah itu. Ia lantas membereskan semua map yang ada di mejanya dan membawa itu semua masuk kedalam ruangan sang nona.
Salsa memang selalu sigap, ia selalu berusaha dengan cepat dan benar menyeusaikan diri dengan lyra yang sudah Dua tahun memperkerjakannya. Ia juga begitu hafal watak dan kebiasan lyra yang harus ada teh hangat di meja ketika ia bekerja.
"Salsa!" Lyra memanggil asistennya itu dengan suara keras hanya karena ia tak menjumpai pena didepan matanya..
"Iya, Nona. Ini penanya, maaf karena masih disaku kemeja." Salsa kemudian meraih pena itu dan memberikannya pada lyra.
"Lirikin vian terus, ganjen!" sergah lyra padanya.
Salsa hanya tertunduk menahan segala emosi yang ada. Pasalnya meski demikian, lyra itu baik dan selalu mensejahterakan anak buah yang setia padanya.
Salsa mendekat lalu membukakan beberapa lembar penting yang harus lyra bubuhkan tanda tangan. Salsa adalah salah satu orang kepercayaan lyra, mereka saling bergantung saat ini dan belum ada yang seperti salsa dimata lyra.
"Nona sudah sembuh?"
"Menurutmu? Jangan terlalu banyak basa basi, Salsa. Pekerjaanmu banyak, selesaikan."
"Saya hanya tinggal menunggu semua file itu dikerjakan, kemudian saya_"
"Apa yang ku katakan tadi?"
"Ba-baiklah, saya keluar. Mari, Nona, Vian." Salsa pamit dan benar-benar melangkahkan kakinya keluar dari sana.
Lyra kemudian mulai fokus dengan segala pekerjaan yang ada didepan matanya. Ia membolak balik semua data yang ada dan membutuhkan tanda tangan darinya. Ia mulai memijat kepala, dan saat itu vian segera datang untuk memakaikannya kaca mata.
"Kau meminta?" tanya vian membalas pertanyaan sang nona.
Lyra hanya menghela napasnya panjang dan berat, ingin rasanya merobek semua kertas itu jika tak penting baginya. Tapi ia menghargai bagaimana usaha salsa untuk memeriksa hingga telah sempurna ketika sampai ditangannya.
"Jangan terlalu dekat dengannya,"
"Kau cemburu? Kami profesional, dan bukankah seharusnya kita begitu?"
"Terserah!" Lyra membalas datar sanggahan vian padanya. Ia kemudian diam dan terus fokus dengan yang ia kerjakan didepan mata. Begitu juga vian, yang menggantikan salsa sebagai pembuka lembaran dokumennya.
Pintu diketuk kembali, salsa kembali masuk setelah beberapa lama untuk memberitahu jadwal lyra hari ini. Rapat, undangan pesta dan beberapa pertemuan penting yang saat itu ia jelaskan namun lyra segera menyanggahnya lagi. Ia belum ingin kemanapun, karena ia masih merasakan nyeri dibagian pangkal pahanya saat ini.
"Aku masih pusing, masih belum mood untuk beretemu dengan siapapun termasuk dirimu," sergah lyra, dan itu membuat salsa kembali memanyunkan bibirnya. Andai ia tak tahu sifat sang nona pasti sudah sejak lama mengundurkan diri darinya.
"Baiklah, akan saya batalkan dan saya undur beberapa jadwal yang bisa diundur untuk besok. Eh, besok bisa, kan?" tanya salsa padanya. Lyra saat itu hanya menjawab dengan deheman dan suaranya yang berat. "Baiklah, saya akan konfirmasi dengan mereka lagi. Permisi, Nona,"
Salsa membalik badan untuk segera keluar dari sana, dan entah karena tergesa gesa atau apa mendadak hellnya mleyot hingga membuatnya terlonjak jatuh. Untung saja tangan vian sigap dan langsung meraih tubuhnya agar tak jatuh.
"Are you okay?" tanya vian padanya.
"Iam okey, Vian, thaks." Jantung salsa langsung berdegup dengan begitu kencang tatkala vian mendekapnya. Meski bukan mendekap karena ingin memeluk, tapi rasanya sungguh luar biasa saat ini.
Takkk!! Lyra yang menyaksikan pemandangan itu langsung menghunus penanya ke meja hingga berbunyi dengan begitu keras mengagetkan keduaya.
"Puas?" tanya lyra, dan salsa segera melepaskan diri dari supir sang nona. Ia segera berjalan dengan cepat, meski harus melepas satu hellsnya agar tak jatuh untuk yang kedua kalinya.
"Kau suka memeluknya?"
"Aku hanya menolongnya agar tak jatuh, bukankah kau juga melihatnya?"
"Menolong itu bisa kau lakukan hanya dengan menarik tangannya! Menyebalkan!" geram lyra mengingat kejadian barusan. Ia yang memang tengah tak baik moodnya segera berdiri dan keluar menyandang tas mahalnya, ia meninggalkan vian yang masih ada didalam ruangan itu dan berjalan dengan begitu cepat dengan segala emosi yang tampak dari wajahnya.
Untung saja langkah panjang vian segera dapat menyusulnya sebelum lift yang ia naiki tertutup sempurna. Tangannya mengahalangi lift itu dan segera masuk menyusul sang nona. Untung saja tak ada orang lain disana.
"Mau kemana?" tanya vian padanya.
"Terserah aku, aku bukan milik siapapun." Lyra kembali pada mode angkuhnya, dan membuat vian hanya bisa menghela napas berat yang keluar dari tenggorokannya.
"Tak jawab, kau tak mencegahku?"
"Kau sendiri yang ingin pergi, tadi bukankah kau bilang terserah?"
Braak!! Tas mewah itu mendarat didada kekar vian dengan kuat. Tapi vian sama sekali tak kesakitan karena tenaga lyra tak terasa sama sekali untuknya. Hingga pintu lift terbuka, dan lyra berlari keluar dengan begitu cepat menaiki taxi yang kebetulan ada disana baru saja mengantar penumpangnya.
"Jalan, kemanapun asal pergi dari pria itu." Lyra memberi perintah, dan sang supir taxi segera melakukan instruksi darinya. Bahkan lyra sama sekali tak menoleh kebelakang hanya untuk menatap vian yang berdiri tepat dibelakangnya saat ini.
Emosinya memang cepat meledak jika hatinya merasa sakit, dan saat itu ia merasakan cemburu dengan vian ketika ia dekat dengan asistennya. Seakan itu semua seketika membuat dunia gelap bagi lyra dan ingin menghindar sejauh-jauhnya.