
“Siapa?” tanya Lyra pada Vian, apalagi ketika melihat mimic aneh dan tegang diwajahnya saat itu.
“Omku. Setelah ini, Kau pulang lalu istirahat. Okey,” kecup Vian bergantian, dipipi, wajah dan bibir Lyra. Ia kemudian berusaha fokus Kembali menyetir mobil hingga benar-benar tiba di rumah besar itu karena papi Seno meminta Lyra pulang kesana.
Vian bahkan langsung meminta Lyra untuk masuk ke kamarnya saat itu juga, semetara ia sendiri berjalan menuju balkon yang ada dibelakang rumah. Ia benar-benar menyembunyikan semuanya dari Lyra saat ini.
“Apa yang dia sembunyikan? Kenapa sampai tertekan seperti itu?” gumam Lyra, yang kemudian mengintip Vian dari jendela kamarnya.
Ya, tampak dari sana Vian tengah gelisah ketika berbicara dengan seseorang dan tampaknya ia amat tertekan dan berusaha menjelaskan sesuatu saat ini pada orang itu.
“Vian belum sempat mendatangi siapapun karena hari ini istri Tuan Seno melahirkan,” kilahnya, tapi tak menceritakan mengenai Lyra yang sempat diculik oleh mantannya tadi siang.
Mengenai RIko, Ia ditolong oleh salah seoang yang kebetulan lewat dan dibawa ke Rumah sakit saat itu juga. Namun sayang, jemarinya tak bisa diselamatkan dan terpaksa di amputasi.
“Kamu lamban! Apa hubungannya lahiran dengan urusanmu, padahal kamu juga supir dari anaknya. Bahkan kamu tak memberi kabar sama sekali tentang perkembangan apapun saat ini. Astaga, Vian! Kau sebenarnya ingin memperjuangkan hak ayahmu atau tidak?” geram Om Dipta padanya, yang terus mencecar Vian dengan segala kebodohan yang ada.
Vian berkali-kali meminta maaf untuk menetralisir kemarahan yang ada, dan ia berusaha menenangkan Omnya disana. Ia juga curiga, karena selama ini Om Dipta selalu meminta jadwal terlebih dulu pada Vian, dan bukannya menunggu Vian kembali membawa hasil. Terutama dengan Pak Bambang dengan kasusnya tempo hari, dan dia lah yang akhirnya menjadi kiblat Vian dekat pada Papi Seno saat ini.
“Jangan telat melapor dengan apapun yang akan kau lakukan, Vian. Om harus tahu semua rencanamu,”
“BUkankah, lebih baik Om menunggu semua bukti yang ada Vian kumpulkan? Vian rasa itu akan lebih baik, karena_”
“Siapa yang mengajarimu? Kebodohan?” Om Dipta lagi-lagi mencercarnya dengan semua hinaan yang ada. Rasanya vian ingin sekali membalas semua ucapan om Dipta padanya, tapi ia ingat ucapan papi Seno agar tetap tenang apapun yang terjadi.
“Maaf, Om_” ucap Vian mengalah pada omnya.
Dengan dengkusan napas penuh emosi, om Dipta mematikan panggilan itu. Tapi ia juga tak diam, melainkan dengan kesar terus meracau menjelekkan keponakanya dengan segala kebodohan yang ada.
“Mereka semua saksi kunci, dan Vian akan mengetahui semua jika mereka bicara jujur. Aku harus ambil sikap sebelum mereka jelaskan kebenaran pada Vian.”
Rupanya om Dipta memang yang ada dibelakang ini semua. Ia mempengaruhi Vian agar menuntut dan merebut Mall itu agar menjadi milik Vian sebagai ahli waris sah dari ayahnya. Bahwa selama ini Papi Seno dan Ayah Vian yang bernama Akbar beekrja sama mendirikan sebuah Mall dengan bantuan dan sokongan dari pada sahabat mereka.
Ayah Akbar mencari lokasi dan Papi Seno mengumpulkan dana dan memikirkan semua pembangunan yang ada, jadi wajar jika saham mereka bagi rata dan itu cukup lumayan bagi Ayah Akbar dan keluarga. Mengingat memang semua modal berasal dari Papi Seno dan istrinya.
Sahabat mereka yang lain tau benar perjuangan mereka selama ini. Tak mendukung siapapun karena menurut mereka semua telah menerima hak sesuai dengan usahanya, dan mereka tengah menikmati itu semua dihari tua dengan anak-anak yang ikut berpartisipasi disana.
Biar yang mendapat hak adalah Vian ketika dewasa nanti bersama yang lainnya membangun dan memajukan Mall mereka.
“Tidak bisa! Vian harus segera mengambil alih itu semua dan menjadi miliknya!” geram om Dipta memukul meja dengan tinjunya.
Mendengar itu semua, Maya lantas pergi dan tak jadi menghhubungi papanya. Ia memilih kembali masuk ke kamar dan menghubungi Vian saat itu juga untuk melampiaskan rasa rindu pada kakak sepupunya itu.
“Kak Vian,” panggil lembut Maya, dan saat itu entah kenapa Vian mengangkat panggilan dari adiknya. Ia fikir om Dipta atau papi Seno, tapi rupanya Maya. Ingin rasanya Vian segera mematikan hp itu.
“Apa, May?”
“Papa abis telepon kakak, kenapa jadi uring-uringan?”
“Kakak tak tahu, May. Kau sendiri kenapa belum tidur? Ini sudah malam,” tanya Vian melirik jam tangannya.
“Maya kangen kakak, kita kapan ketemuan? Maya baru lulus ujian skripsi loh, sebentar lagi wisuda.”
“Oh ya? Selamat kalau begitu. Kapan-kapan, Kakak akan mentraktirmu makan. Tapi tunggu kakak punya waktu, Okey?”
“Kakak, kapan ada waktu kalau ngga disempetin? Besok ya? Maya tunggu di café biasa, gimana?”
“May… Lusa,” balas Vian mengurut keningnya.
“YAudah deh, lusa aja ngga papa. Jangan bohong tapi,”
“Iya, kakak janji.” Setelah itu Vian mematikan panggilannya. Ia menghempaskan tubuh dengan kasar dikursi yang ada, dan ia menatap kamar Lyra yang tepat ada dihadapannya saat itu.
Ia mendadak terbayang akan kecantikan kekasihnya, dengan tubuh polos dan suara rintihaannya yang selalu bisa menggoda. “Apa dia sudah tidur saat ini?” Mendadak Vian begitu merindukannya.