
Plaakkk… Plaaakk… Plaaakk!!
Tiga tampaaran dari om DIpta pada mereka berdua yang tertangkap basah bergumul di kamar milik VIan,. Dua tampaaran pada Java dan satu pada Maya_putrinya.
Emosinya menjadi tak terkendali, ketika ia pulang tak lagi melihat Vian di rumah itu dengan mobilnya. Ia yang mencari sang keponakan , justru melihat putri dan anak buahnya dalam keadaan polos tanpa sehelai benang pun di kamar itu.
“Pa, Maya ngga sengaja, Pa. Maya kira itu tadi kak Vian, Maya ngga tahu kenapa jadi Java yang masuk dan kami melakukan itu.” Maya memeluk kaki sang papa agar mau memaafkannya.
Ia sakit hati, ia kecewa pada Vian yang membohonginya saat itu. Apalagi setelah ia tahu jika itu Java, pria itu justru semakin beringas dan mengulang beberapa kali hingga tubuhnya serasa remuk karena ulahnya.
“Kau yang menggoda Vian?” tanya om DIpta. Awalnya Maya menggelengkan kepala dan berusaha mencari alasan agar Vian yang jadi tersangkanya, tapi om DIpta juga bukan orang bodoh yang bisa dikelabuhi begitu saja.
“Jadi dia pergi gara-gara kau, Maya! Breng sek!” Om Dipta benar-benar hilang kesabaran pada putrinya yang tak sabaran itu. Seolah tak bisa menahan napsu hingga ia benar-benar akan menikahkan mereka berdua hingga waktunya tiba.
“Kenapa kau gila! Aku bahkan sudah menjanjikan pernikahan kalian.” Om Dipta lagi-lagi memukuli Maya bahkan hingga tersungkur dan menghujaminya dengan tendangan beberapa kali hingga Maya berteriak kesakitan saat itu.
Untung saja ada Java. Ia merasa ikut bertanggung jawab atas semua itu, dan ia menjadikan dirinya sendiri tameng untuk Maya. Java melindungi Maya dengan tubuh kekarnya, agar om Dipta tak lagi mekukai anaknya.
“Menyingkir kau, Java! Urusanmu dan aku, beda. Sekarang aku akan mengurus anak tak tahu diri ini, yang bisa-bisanya merusak rencana ketika sebentar lagi mencapai titik keberhasilan. Pergi!” om DIpta mendorong tubuh Java hingga terpental jauh dari tempatnya saat itu.
Emosinya semakin tak terkendali bahkan melampiaskan apapun dengan semua benda yang ia temukan. Guci ia banting hingga pecah, dan beberapa barang ia rusak disana dengan membabi buta, namun tak ada sama sekali yang berusaha untuk menenangkannya.
Ya, rencana om Dipta lainnya adalah menikahkan Maya dan Vian setelah semua rencana berhasil. Ia menggelapkan semua bukti mengenai hak milik mutlak, melenyapkan semua saksi pendukung dan mengangkat Vian jadi direktur utama Mall itu dan merdeka dengan segala rencananya. Setelah itu ia akan menikahkan VIan dan Maya agar ia bisa ikut menikmati semuanya.
Gagal… Ia merasa satu rencananya gagal saat ini hanya karena Maya. Pasti Vian lari setelah Maya menggodanya, ia pasti jijik pada Maya yang agresif, apalagi pastinya ia tahu jika Maya berakhir dengan Java. Karena menurut keterangan, Vianlah yang meminta Java masuk kedalam kamarnya saat itu dan menikmati apa saja yang ada didalam sana.
Om Dipta mulai frustasi dan stress saat ini. “Vian!!” pekiknya sekuat tenaga memanggil nama keponakannya saat itu.
“Pa, Maya maunya kak Vian.”
“Kenapa tak sabar hanya untuk menunggu? BODOH!! Hancur semuanya,”
Maya hanya bisa menangis disana, dan sesekali menatap Java dengan wajah jijiknya. Seolah ia tak sadar semalaman mendesaahkan nama dan baru saja bercumbu hingga ******* luar biasa pada lelaki itu dalam keadaan sadar hingga tergelepar kelelahan.
“Sekarang kau diam! Urusi dan renungkan kesalahanmu saat ini. Yang jelas jika kau hamil anak Java, maka kalian harus segera menikah secepatnya.”
“PA!!”
“Ke kamaar, Sekarang!!” tegas om Dipta, dan Maya langsung lari mengurung diri di kamarnya saat itu juga.
Om Dipta meminta Java masuk ke dalam ruangan kerjanya, mereka mengobrol berdua dan bahkan Java meminta maaf berlutut dihadapan om angkatnya itu.
“Kau mencintai Maya?”
“Ya, karena pria mana yang akan tahan jika digoda dengan wanita.” Apalagi menurut cerita, Mayalah yang memang langsung melahhap Java ketika masuk kedalam dengan ruangan yang gelap, meski awalnya ia merasa itu Vian hingga berbuat diluar kendali dirinya.
“Maaf, Om.” Lagi-lagi hanya itu yang terucap dari mulut Java, karena biar bagaimanapun mereka menikmatinya semalam hingga menggila.
“Keluarlah, om butuh waktu sendiri saat ini.”
Java mengangguk, dan akhirnya ia keluar dari ruangan itu. Ia fikir akan mendapat hukuman atau pukulan lagi setelahnya, tapi ternyata tidak.”Mana bisa dia memukulku, dia pasti takut jika aku pergi setelah ini. Dia takut, jika putrinya hamil dan tak aka nada yang mau bertanggung jawab padanya. Apalagi Vian yang bahkan tak menyentuhnya sama sekali.”
Java tersenyum miring mengingat kejadian semalam yang begitu membuatnya puas dalam kegilaan yang beringas. Ia bahkan sengaja menumpahkan benihnya didalam Rahim Maya.
Om Dipta meraih hp dan menelpon Vian saat itu untuk bertanya kabarnya.
“Ya, Om?”
“Kau pergi? Gara-gara Maya?” tanya om DIpta terdengar begitu lesu ditelinganya saat itu. Sudah dipastikan oleh Vian, jika mereka ketahuan hingga om Dipta stress dibuatnya. Vian hanya tersenyum dan puas saat ini.
“Maaf, Om. Vian hanya tak ingin terjadi salah paham diantara kita, apalagi Maya adalah adik Vian. Jadi_”
“Ya, om paham maksudmu. Mungkin sebentar lagi Maya dan Java akan om nikahkan.” Om Dipta tampak begitu pasrah dibuatnya.
“Hari ini Vian akan kerumah pak Bonar. Semalam kami saling bicara dan membuat janji untuk bertemu di suatu tempat,”
“Dimana?” tanya om Vian yang terdengar begitu penasaran. “Sepertinya di Restaurant dekat mall, karena memang ada rapat sebentar mengenai saham.”
“Sial! Mereka benar-benar tak menganggapku sebagai wali Vian!” geramnya dalam hati. Ia ingin tahu bagaimana rapat itu dan hasilnya nanti, hingga meminta pada Vian untuk mengabarinya akan apapun yang terjadi. Vian hanya mengangguk dan mengiyakan maunya saat itu.
Vian menutup telepon itu dan kembali merebahkan diri di sofa yang ada di ruang tengah rumah besar itu. Lelah dan masih mengantuk karena tengah malam buta Lyra mendadak masuk ke kamarnya dan memohon untuk tidur disana.
“Berisik, Zayan nangis terus. Aku bisa stress!” keluh Lyra padanya. Sebenarnya tak begitu parah menurut pengamat Vian, karena ia merasa Lyra hanya ingin menggodanya.
Vian akhirnya mengalah, memeluknya sebentar hingga tidur pulas, hingga akhirnya ia keluar ketika benar-benar aman dan Lyra sudah tak sadarkan diri lagi. Jika ia menuruti hasraatnya sendiri malam itu, pasti Lyra akan menjerit sekuat tenaga dibuatnya.
"Kamu kenapa tidur disini?" tanya Laras yang menghampirinya saat itu.
"Ah... Maaf, Nyonya. Semalam_"
"Vian!!" pekik Lyra dari kamarnya.
Laras langsung menelengkan kepala, menatap kamar Vian dan bergantian pada Vian yang ada didepan matanya. Tatapan yang menyiratkan sebuah arti kecurigaan yang begitu besar untuk mereka berdua.
"Ehmmm... Aku bisa jelaskan,"