
Pagi hari yang menyebalkan untuk lyra saat ini. Ia terpaksa menuruti kemauan vian untuk sedikit menjauh bahkan justru mendekat pada demian yang sama sekali tak pernah ia sukai. Apalagi semalaman vian begitu tampak menghindari dirinya dengan tidur di sofa, padahal janjji jika aka nada ronde kedua.
Bayangkan saja bagaimana perasan lyra saat ini, rasa candunya sudah melebihi marijuana baginya. Semua sentuhan dan belaian vian yang begitu memabukkan dan selalu bisa membuatnya gila tapi ingin selalu mengulanginya. Dan hingga saat ini lyra masih mengerucutkan bibir pada vian.
“Kenapa?” tanya vian padanya yang sudah mengenakan kemeja hitam rapi saat ini. Rencananya vian akan menuju kediaman pak cahyo untuk kembali mencari semua bukti yang ada.
“Kau sudah mulai ingkar janji padaku, padahal aku berusaha menuruti apa maumu.” Lyra ketus menjawab pertanyaan itu.
Vian menghela napas panjang sebisanya, ia mendongakkan kepala hingga urat leher dan jakunnya tampak jelas oleh mata lyra. Gadis itu mendekat, gemas dan segera ingin meraih jakun itu dan bahkan mengecupnya. Namun tangan besar vian dengan cepat mencekal lengan mungil itu segera.
“Vian!!” geram lyra padanya. Ia menghempas kasar tangan vian, meraih tas lalu meninggalkannya keluar dari apartemen itu.
Vian menyusulnya dengan cepat, tak ingin lyra kenapa-napa diluar sana.
“Hey, Lyra. Tunggu, aku akan mengantarmu pulang.”
“Kenapa mengantarku, urus saja urusanmu itu. Aku sudah terbiasa seperti ini karena papi memperlakukan aku dengan hal yang sama. Itu kan, yang kamu mau.”
“Dewasa, Lyra!”
“Ya, aku memang masih seperti anak kecil. Anak kecil yang selalu mencari kasih sayang dari kekasihnya, sejak papi bahkan direbut sahabat sendiri.” Lyra membuka pintu mobil lalu masuk duduk di bagian belakang. Vian kembali menjadi supir saat ini yang harus dengan professional melayani sang nona kemanapun ia pergi.
“Saya akan mengantar anda pulang, dan setelah itu anda akan bersama Tuan papi untuk bertemu dengan demian. Kalian akan membahas pekerjaan dan_”
“TErserah!” balas lyra bernada kecewa. Vian hanya bisa pasrah karena harus membagi fokusnya dengan hal lain saat ini, dan ia yakin jika lyra aman bersama mereka meski tanpa pengawasannya.
“Lyra ganti baju dulu, biar ngga ada bau vian.” Ucapan lyra lantas membuat vian mengatupkan bibirnya sendiri saat itu. Sementara papi seno dan laras menyambut vian dengan segelas kopi hangat di meja.
“Terimakasih sudah sabar dengan lyra,” ucap laras yang paham benar bagaimana sahabat yang kini menjadi anak tirinya itu.
“Ya, memang sangat memacu adrenalin dengan moodnya yang suka berubah seenaknya. Asal dia tak mengganggu Nyonya,” jawab vian.
“Ya, kita semua tahu bagaimana lyra. Kamu bertahan saja sudah bagus untuk kami,” imbuh papi seno dengan kopinya pagi ini. Ia tak merokok lagi sejak tahu istrinya hamil, padahal selama ini ia perokok dan peminum aktif.
Tap… tap… Lyra turun dari tangga menghampiri mereka semua disana. dengan dress berwarna krem sepaha dan bagian atas tipis yang mmeperlihatkan belahan dada indahnya.
Vian menatapnya dengan mulut ternganga, tapi ia sadar jika tak dapat menegur atau membopong lyra masuk ke kamar dan mengganti pakaiannya. Ia hanya bisa menghela napas dan membuang muka agar tak ada sesuatu yang terpancing tegang dibawah sana.
Lyra tampak puas melihat ekspresi vian saat itu. Andaikan ia mengantar lyra bertemu demian, pasti lyra akan bisa membuatnya cemburu kali ini.
“Kau berusaha membuatku cemburu?”
“Kenapa tidak? Demian tampan, tinggi dan tegap. Tak kalah denganmu,” jawab lyra yang duduk dihadapannya.
“Aaaah… Ya, saya tahu jika dia memang tampan, NYONYA.” Vian menekan ucapannya kemudian pergi meninggalkan lyra yang masih menatap kesal saat itu.
Ya, siapa yang tak kesal jika sang kekasih justru bersikap santai ketika ia sengaja menggoda dan membuatnya cemburu untuk berkencan dengan seorang pria yang sedikit mirip sepertinya.
“Vian breng sek!!” rutuk lyra dalam hati.