My Hot Personal Driver

My Hot Personal Driver
Hukuman untuk Riko



Vian mengendarai mobilnya dengan begitu cepat untuk mengejar Lyra. Ia berusaha tak tergesa-gesa agar tak justru terjadi hal yang membahayakan dan ia tak bisa menolong Lyra nanti. Ia sembari menyalakan GPS yang terhubung langsung pada Hp yang Lyra bawa saat itu, untung saja menyala dengan baik hingga Vian bisa mengikuti arahnya.


“Vian!” panggil Papi Seno yang mendengar kabar penculikan Meera. “Kenapa Lyra bisa diculik? Bagaimana pengawasamu padanya?”


“Maaf, Tuan.” Vian sampai tak mampu berucap apapun akan penyesalannya saat ini. Ia bahkan kesulitan untuk fokus pada Lyra dengan segala campur aduk yang berputar dikepalanya.


“Aku tak mau tau. Bagaimanapun caranya, kau harus dengan cepat menemukan Lyra!” sergah papi Seno, seolah saat ini Vian tak tengah melakukan pencarian.


Vian mematikan panggilan dan langsung fokus pada layar Hpnya saat ini. Ia mengikuti semua arah yang ditunjukkan hingga akhirnya tiba disebuah rumah petak kecil yang cukup jauh dari perkotaan.


“Aaahh!!” Lyra memekik ketika tubuhnya dihempas di sebuah ranjang kecil dengan alas yang keras. Saat itu juga RIko mengikat tangan dan kakinya agar Lyra tak bisa kabur darinya, bahkan ia juga akan membungkam mulut Lyra agar tak berteriak dan bersuara.


“Riko… Lepasin aku!”


“Lepas? Kau meminta aku melepaskanmu setelah susah payah aku bawa kesini? Kau gila, Lyra!” sergah Riko dengan tawanya yang membahana.


“Apa mau kamu?” tanya Lyra dengan tatapan tajamnya. Ia fikir Riko sudah pergi jauh dan tak akan pernah lagi datang, namun nyatanya masih bisa menculiknya seperti ini.


“Mauku? Mauku hanya mendapatkan keuntungan darimu seperti sebelumnya. Aku tak mau rugi bahkan dengan berpisah denganmu, Lyra.” Riko membuka kemeja yang ia pakai saat itu dan menggantinya dengan kaos oblong yang ia pakai. Ia tak langsung membungkam mulut Lyra karena sepertinya masih ingin bercakap dengan mantan kekasihnya itu.


Lyra menatap takut kemudian, ketika Riko membalas tatapan itu dan berjalan mendekat padanya. Lyra tahu benar arti tatapan itu, tatapan yang Riko berikan ketika ia inginkan tubuhnya tapi tak pernah Lyra berikan sama sekali. Riko belum tahu jika tubuhnya telah ia berikan pada Vian.


“Mauku adalah kau,Lyra. Bukankah kau sudah ingin memberikan itu sebelumnya? Aku akan menagihnya kembali. Kita akan bersenang-senang setelah ini,” ucap Riko dengan membelai mesra wajah Lyra dan memberikan tatapan smirknya. Ia bahkan meraih tangan Lyra untuk menyentuh miliknya yang sudah tegang dibawah sana. Jelas sunggung berbeda dengan Vian, yang besarnya hampir dua kali lipat jika dalam keadaan yang sama.


“RIko… Riko lepasin, aku ngga mau.” Lyra berusaha menolak dan menyingkirkan tangannya dari sana, tapi ia kalah tenaga apalagi tengah dalam kondisi tangan terikat saat ini. “Arrrhhh!!” Lyra justru memekik geli meneyentuh tikus kecil berkerut itu dengan tangannya.


“Meera, ini enak. Apa kau sama sekali tak menginginkannya, hmmm?” Riko berusaha merebahkan tubuh Lyra di ranjang dan menerjang bibir Lyra untuk Ia lumaat. Bahkan Ia menurunkan dress yang Lyra pakai dan bahkan dengan begitu mudah menyingkap bagian bawahnya dengan kasar.


“Emmpph… RIko, kamu Baji ngan!” sergah Lyra yang berusaha menghindari terjangan mantan kekasihnya itu.


“Apa kau bilang tadi? Bukankah kau ingin memberikannya sejak awal? Lalu apa bedanya murahan dengan baji ngan?” Napas Riko terasa sudah begitu berat terdengar oleh Lyra tapi benar-benar tak dapat memancing apapun pada Lyra meski Riko sudah menyentuh inti tubuhnya dibawah sana.


Lyra memekik sejadi-jadinya, yang ada hanya ngilu dan perih dengan Gerakan kasar di area sana. Selama ini Vian begitu lembut memperlakukannya, hingga sekejap saja membuatnya basah. Tapi ini sama sekali tidak.


“Aaah… Lyra! Aku akan menghamilimu setelah ini, setelah aku mendapatkan mahkotamu. Kita akan menikah, dan akan hidup bahagia dengan anak-anak kita nanti.” Riko mulai meracau dengan segala aktifitasnya disana.


Braaak!!


“Vian!!” pekik Meera ketika melihat kekasihnya datang, tapi Ia juga malu dengan keadaannya yang seperti ini. Nyaris polos dengan pria lain selain Vian.


“Hey, kacung sudah datang rupanya. Mau apa kau kesini? Mau coba mencicipi Nonamu, hah? Nanti, setelah aku menikmatinya terlebih dulu,” ujar Riko dengan percaya dirinya yang tinggi saat itu.


Tapi Vian bergeming, Ia diam menatap datar Riko dan mengeluarkan sebuah pistol dari sakunya. Lyra memang tahu jika Vian memiliki sebuah pistol yang ia bawa setiap hari untuk perlindungan terhadap dirinya. Baik pistol asli dan pistol yang sering Lyra mainkan pun sama mempersonanya jika itu Vian yang memiliki.


“Apa? Kau mengancamku? Lihatlah tubuh molek ini, dengan tubuhnya yang indah pasti akan sangat nikmat.”


“Arrghh!!” pekik Lyra ketika Riko meremaas dadanya.


Door!! Vian yang tak bisa melihat kekasihnya disentuh itu langsung menembakkan pistol ke kaki Riko tanpa perkiraan hingga mengenai ujung jempolnya.


“Hey… Kau gila!!” Riko berjingkrak kesakitan dengan luka yang ia derita, dan itu membuatnya sedikit menjauh dari Lyra.


Lyra menggunakan kesempatan itu untuk lari meski akhirnya tersungkur karena kaki yang terikat. Ia berusaha menghampiri Vian meski harus ngesot dilantai dan Vian langsung meraih Lyra dengan tangannya.


“Kau baik-baik saja?” tanya Vian yang begitu cemas pada kekasihnya itu. Apalagi melihat kondisi Lyra yang berantakan dengan dress mininya yang tersingkap.


“Maaf,” sesal Lyra yang sempat tak mengindahkan perintah kekasihnya.


“Dia menyentuhmu?” tanya datar Vian. Lyra lantas menunjuk karah tikus berkerut Riko yang masih terbuka resletingnya, dan Vian mengarahkan pistol itu kesana.


“Aargh!! Ampun… ampunnn! Jangan yang ini. ini adalah masa depanku!” pekik Riko yang langsung melindungi tikusnya itu.


Vian masih diam, satu tangannya memeluk Lyra agar tak melihat apa yang Vian lakukan pada Riko saat itu. “Aku tak akan mematikan masa depanmu, tapi akan melemahkan tangan nakal yang telah membawa tangan manis Nonaku kesana.”


Dorrr!! Vian menembak jemari Riko hingga terlepas beberapa dari tempatnya.


Riko memekik sejadi-jadinya, tersungkur menangis mengumpulkan jemarinya yang tercecer ke lantai. Ia berusaha mengumpulkan itu dan measangnya kembali meski mustahil.


“Aarrghh!! Apa yang kau lakukan padaku?” Riko menangis dengan nasibnya saat itu, sementara Vian menggendong tubuh Lyra dan membawanya segera pergi dari sana. Terdengar bahkan, ketika Riko memohon agar membawanya ke dokter segera untuk memberi pertolongan


Vian menjatuhkan tubuh Lyra di sofa mobil dan segera membawanya pergi tanpa berkata sepatah katapun pada kekasihnya itu. Hingga Vian menghentikan mobilnya ditempat yang sepi jauh dari tempat tadi, dan Vian meraih tisu untuk membersihkan tubuh sang nona dari bekas Riko disana.


“Kau marah padaku?” tanya Lyra yang sedih melihat ekspresi Vian padanya. Datar, dan begitu dingin seolah tanpa rasa.


“Kau bahkan tak cemburu dengan Demian,”


“Beda,” jawa datar Vian.


“Aku tak suka dia menyentuhku, aku jijik. Sampai sekarang aku terbayang ketika dia menyentuh milikmu ditubuhku,” tatap sayu Lyra pada kekasihnya itu.


“Lalu? Kau mau aku membersihkannya agar kau lupa dengan kejadian barusan?” Lyra mengangguk dengan pertanyaan Vian, dan saat itu langsung meraih kepala belakang Vian untuk mendapatkan bibirnya segera sebagai Pelepas dahaganya.


“Euuungghhh!!” Vian melenguh dengan semua aktifitas Lyra dimulutnya.