My Hot Personal Driver

My Hot Personal Driver
Cemas memimbulkan kontraksi



"Papi," panggil Laras pada suaminya.


"Ya, Sayang... Ada apa?"


"Meera gimana? Apa sudah diketemukan?" tanya Laras, dan suaranya terdengar begitu berat disana.


"Vian sedang mencarinya, Sayang. Kamu tunggu ya, akan diberi kabar selanjutnya tentang Lyra. Are you okay?"


Laras disana tengah kesakitan sebenarnya. Kabar mengenai Lyra langsung membuatnya syok saat ini hingga mengalami kontraksi. Sedangkan Papi Seno sendiri tengah menuju jalan pulang untuk menemui istrinya segera.


Tak hanya mereka, bibik di rumah juga sibuk mempersiapkan semua alat untuk dibawa sang Nyonya untuk semua proses persalinannya.


"Nyonya, ini semua sudah." Bibik membawa keluar tas penuh perlengkapan itu. Untung saja bibik juga sudah berpengalaman hingga tak banyak bingung dengan tugas yang ada.


Laras duduk di bola besar miliknya, bergerak lambat maju mundur untuk merelaksasikan semua rasa sakitnya saat itu. Apalagi masih dengan segala rasa cemas yang ada.


Hingga akhirnya papi Seno datang, Ia lantas keluar dari mobil dan menghampiri sang istri yang sudah pucat berkeringat ditempatnya saat ini. Mengingatkannya ketika istri pertamanya hendak melahirkan Lyra 25tahun lalu.


"Sayang, kau tak apa?" Papi langsung memeluk dan mengecup istrinya saat itu juga.


"Lyra, bagaimana?"


"Ayolah, kau harus fokus pada bayi kita dulu," bujuk pada sang istri yang terlalu mencemaskan Lyra disana.


Ia juga cemas, tapj harus berusaha tenang demi istrinya saat ini agar tak semakin stres. Ia hanya berkata, jika semua akan baik-baik saja karena Vian sudah berusaha mencarinya.


"Bagaimana bisa tenang, bagaimana bisa baik juga? Itu anaknya belum ketemu!" omel Laras di iringi ringisan dari segala rasa sakit yang ia rasakan.


"Ayolah, fikiran saja dirimu dan bayi kita. Ayo ke Rumah sakit segera," ajak papi dan membantu Laras berdiri dan berjalan masuk kedalam mobilnya. Tak ada yang menemani, karena bibik harus menjaga rumah ketika Lyra datang nanti.


Perjalanan santai, Papi jug berpengalaman jika prosesnya masih akan sangat panjang hingga ia memutuskan mengajak Laras berkeliling untuk merilekskan fikiran. Saat itu Laras beberapa kali mengelus perut sembari menarik napasnya dengan runut dan teratur.


"Ayo cepetan ke Rumah sakit, nanti disana Papi cari tahu keadaan Lyra." Laras seakan sudah tak sabar lagi rasanya. Jika bisa, ia ingin mengeluarkan bayinya segera dan pergi untuk membantu mencari keberadaan Lyra.


Tiba di Rumah sakit, Laras disambut oleh beberapa petugas kesehatan dan langsung dibawa kedalam ruangan karena papi sudah memboking ruangan sejak awal. Dan didalam ruangan itu, Laras mulai diperiksa seperti biasa bagaimana umumnya ibu yang akan melahirkan buah hatinya.


"Pi, Lyra, Pi." Laras terus merengek menyebut nama Lyra sembari berbaring miring merasakan gelombang cinta yang semakin dahsyat menghampirinya.


"Iya, Papi lagi hubugi Vian. Tenanglah, fokus pada Baby saja,"


"Susaaaaaah," lirih Laras yang bahkan mulai menitikan air matanya.


"Aaaaaah... Sssstttt!" rintihan itu mulai terdengar dan papi tak henti mengusapi pinggang istrinya saat ini.


Sementara itu yang dicemaskan justru tengah memadu cinta dengan kekasihnya saat ini.


Vian membawa Meera ke Apartemen agar bisa leluasa membersihkan tubuhnya saat itu. Dan Vian sendiri yang membersihkan tubuh sang nona. Seperti biasa, dengan canda tawa penuh goda, padahal mereka sudah melakukan ronde pertama di mobil tadi sebelum pulang.


"Kenapa kau tak cemburu sama sekali pada Demian, sedangkan dengan Riko_".


"Dia masa lalumu,"


"Hanya itu?" tanya Lyra sembari meraih dan membelai rambut sang kekasih yang ada dibelakangnya saat itu. "Padahal Demian sempurna, seperti dirimu."


"Benarkah? Apa kau benar-benar tak menyadarinya?"


Degg! Lyra yang saat itu masih berendam di bathup langsung membalik tubuh dan menatap Vian penuh tanya. "M-maksudnya?" Ia begitu penasaran dan begitu banyak dugaan berputar diatas kepalanya saat ini.


"Ya, seperti itu."


"Aaaaaa... Vian! Teganya Papi menjodohkan aku dengan dia. Pantas saja dia care denganku secepat itu," kesak Meera pada papinya. Dan lagi, pantas saja Demian terus mempertanyakan keberadaan Vian selama mereka bersama.


"Kesaaaal! Masa papi ngga tahu kalau dia begitu? Tega sekali," racau Lyra. Padahal harusnya papi lebih berpengalaman dalam hal ini.


"Tapi dia begitu meyakinkan, bukan? Kau sendiri bahkan memujinya didepanku. Hmmm?" tatap tajam Vian.


"Iya, maaf." Lyra tertunduk malu, pantas saja Demian tak terpengaruh sama sekali meski Lyra memakai pakaian minim seperti itu.


"Aku kapok. Nanti pakai baju yang seperti itu didepanmu saja, tak didepan yang lain," ujarnya.


"Bahkan aku lebih senang jika kau tak memakai baju didepanku,"


"Iiiih, kau ini." Lyra menepuk bahu Vian yang ada dihadapannya saat itu juga. Ia nyaris melobncat dari bathup hingga beberapa bagian tubuhnya terlihat. Menggelitik tubuh Vian hingga kegelian dan akhirnga tertawa bersama.


Byuurrr! Vian justru ditarik dan masuk kedalam air bersamanya.


"Lyra, nakal sekali."


"Tapi kau suka," kedip Lyra pada kekasihnya. Ia justru merangkak mendekat pada Vian dengan tatapan penuh goda ala dirinya yang polos di bathup penuh busa itu.


Lyra duduk dipangkuan Vian dan mengusap dada bidang Vian yang terbuka, lantas meraih dagu dan meluumat bibirnya saat itu juga.


Vian dengan kasar justru membalik tubuh Lyra agar membelakanginya, agar ia bisa lebih leluasa bermain dengan milik Lyra yang sensitif dibawah sana. Alhasil, Lyra menggeliat tak karuan seperti cacing kepanasan hanya dengan jemari kekasihnya yang memabukkan.


"Vian!"


"Ya, kau suka?" Lyra mengangguk dengan bisikan merdu yang begitu dekat ditelinganya itu. Bahkan tak segan mengecup tengkuk dan telinga Lyra hingga mendongakkan kepala dibuatnya.


Gerakan makin lama makin dipercepat hinggs Lyra mendapatkan puncak pertamanya.


Hingga sebuah bunyi mengganggu kemesraan mereka berdua. Vian segera menjawab karena papi Seno menghubungi dan pasti untuk mempetanyakan mengeni Lyra.


"Nona bersama saya, Tuan. Beliau baru saja saya ambil dari Riko," terang Vian dengan pertahanan akan cumbuan Lyra ditubuhnya.


"Riko? Astaga, cecunguk itu. Bagaimana Lyra? Dia tak di apa-apakan bukan?"


"Tidak... Nona... Aman," Vian mulai goyah dan pertahanannya mulai pecah.


"Baiklah. Sebab sejak tadi Laras mempertanyakan Lyra, dan kami di Rumah sakit sekarang. Sangking cemasnya hingga langsung akan melahirkan."


"Apa? Baiklah, saya akan segera tiba disana bersama Nona." Vian lantas mematikan Hp dan mengangkat wajah Lyra yang tengah asyik dengan miliknya dibawah sana.


"Kenapa?" tanya manja Lyra.


"Laras masuk Rumah sakit, dan akan melahirkan saat ini."


"Lalu, apa hubungannya denganku? Lahiran ya lahiran saja." Lyra sudah akan menunduk lagi dan meraih lolipopnya, namun lagi-lagi ditahan oleh Vian.


"Dia kontraksi karena memikirkanmu. Bisakah kau sedikit memberi simpati padanya? Ingatlah bahwa kalian itu sahabat sejak lama, dan bahkan ia menjadi ibu tirimu sekarang."


Mendengar itu, Lyra langsung menatap tajam dan datar pada Vian. Ia segera berdiri dan naik dari bathup untuk membilas tubuhnya lalu meninggalkan Vian disana.


" Haisshhh! Kau ini," dongkol Vian.