
Lyra sudah tiba di mall, ia dengan segala alasan kemudian berlari masuk kedalam ruangan pribadinya. Untuk apa lagi jika tak demi bertemu dengan vian yang juga menunggunya disana.
"Vian,"
"Hey, Kau sudah_"
Pluuuk! Lyra dengan segera memeluk tubuh besar itu tanpa menunggu vian selesai bicara. Ia membenamkan wajah di dada bidang supir pribadi plus-plusnya itu dan menghirum dalam aroma maskulin yang ada didalam tubuhnya. Lyra bahkan membuka kancing kemeja yang vian pakai agar semakin terhirup aromanya yang segar penuh goda.
"Hey, Nona... Ini kantor,"
"Kau bilang siap untukku kapan saja?"
"Tapi tidak disini, Nona. Banyak yang mengintai dan bisa melaporkan kita pada papi kapan saja," bujuk vian sembari terus berusaha melepas pelukan lyra padanya.
"Jangan sebut nama itu sekarang,"
"Tapi bukankah ia akan segera datang?" tanya vian, dan seketika pelukan tadi berubah dengan cengkraman kuku tajam lyra di dada bidangnya. Merintih, tapi vian tak melakukan apapun atau sekedar melepaskan lyra darinya.
"Sudah ku bilang jangan sebut namanya atau bahkan membahas dia! Kau merusak moodku," geram lyra padanya.
"Ssst, aaahh!!" Vian merintih dan menyentuh dadanya, ternyata berdarah karena kuku-kuku lyra yang melukainya.
Lyra terlonjak kaget melihat hasil dari yang ia lakukan pada vian saat itu. Emosinya selalu menggebu-gebu ketika ia membahas pasal papi dan istri barunya itu. Ia tak suka, dan marah seketika hanya karena mendengar Namanya. Bahkan kabar jika ia akan memiliki adik di usia yang seharunya sudah menggendong anaknya sendiri saat ini.
"Vi-vian, aku minta maaf. Aku... Aku tidak sengaja karena_ Vian" lirih lyra dengan segala penyesalan dalam hatinya. Tapi vian tak menjawab, hanya menatapnya tajam dan melirik kukunya yang terdapat sedikit noda darah dari tubuhnya dan ia menghisap itu semua seperti seorang vampir.
Lyra segera menarik tangan itu darinya dan mencari kotak P3k. Ia membawa vian duduk di sofa dan segera mengobati lukanya disana, isak tangis lyra akhirnya pecah mengingat perbuatan konyolnya saat ini yang tak mampu menahan emosi hingga melukai kekasihnya.
"Maaf," ucap lyra sekali lagi yang bahkan tak mampu menatap wajah vian saat itu.
Luka demi luka ia bersihkan lalu ia balut dengan rapi. Tak begitu banyak, tapi cukup dalam karena kuku tajam lyra menghujamnya. Gadis itu bahkan meraih sebuah gunting dan memotong kuku indah itu sendiri didepan vian hingga bersih, padahal vian amat tahu berapa biaya hanya untuk perawatan kukunya saja.
"Puas?" tanya vian dengan tatpan tajamya, dan langsung dibalas oleh anggukan lyra.
Vian kemudian meraih tangan mungil itu, menggenggam lalu mengecupnya dengan penuh cinta. Entah apa namanya, tapi terasa begitu hangat buat lyra disana yang butuh penenang dihatinya.
"Kita pulang?" ajak vian, yang langsung dibalas anggukan oleh lyra. Dan saat itu juga lyra mengancingkan kembali kemeja vian yang tadi ia buka.
"Aku masih ingin di apartement dan berdua denganmu menghabiskan malam bebas kita disana," ucap manja lyra.
Ia belum ingin pulang ke rumah utama, apalagi semua Artnya akan begitu sibuk untuk kepulangan papinya disana. Semua barang Laras akan dipajang kembali, foto pernikan mereka yang sempat lyra turunkan juga akan kembali pada tempatnya. Ia benci melihat foto sang mami berganti dengan foto mereka berdua, ia benci itu semua.
"Kau harus menurut, Lyra. Itu semua juga demi kebaikan hubungan kita. Menurutmu bagaimana, ketika papi tahu kita tinggal bersama di apartement yang hanya ada satu kamarnya?" ucap vian yang tetap fokus pada kemudinya.
Tak ada cara lain saat ini kecuali untuk menurutinya, berharap esok lyra akan segera lulu hatinya. Kini vian mengajak lyra kembali ke apartement dan membiarkan lyra menenangkan dirinya disana.
Lyra juga tak berkata apapun. Ia langsung masuk ke dalam kamar dan bahkan mengunci pintunya agar vian tak masuk dan mengganggunya sama sekali saat ini. Vian hanya diam, membuka kemeja yang ia pakai lalu merebahkan diri di sofa sejenak hingga saatnya bangun membuat makan malam untuk mereka berdua.
Vian tahu bagaimana sakitnya lyra saat ini meski sudah sekian tahun berlalu dalam hidupnya. Yang bahkan makam mami belum kering benar, papi lyra dengan tak sabar justru menikahi sahabat lyra sendiri yang terpaut usia cukup jauh dengannya.
Meski dengan alasan itu amanat sang mama, Laras diminta untuk menjaga mereka berdua terutama lyra yang ia anggap sebagai adiknya sendiri selama ini.
"Kalian semua bereng sek!!" pekik lyra sekuat tenaganya. Terdengar pula lemparan demi lemparan semua benda yang ada disana ke dinding kamarnya. Vian yang baru saja memejamkan mata, langsung membukanya lagi dengan terpaksa.
"Lyra?" panggil vian mengetuk kamarnya. Tapi semua itu tak lyra hiraukan, ia hanya ingin meluapkan semua kemarahannya disana.
"Riko selingkuh, Laras berkhianat, Papi pulang membawa dia kembali. Aku benci semuanya! Benci!!" teriak lyra sejadi-jadinya, mengingat semua kesialan yang ada datang bertubi-tubi menghampiri.
Vian mau tak mau membuka pintu itu secara paksa, Ia dobrak hanya dengan satu tendangan di kakinya. Lyra langsung terdiam ketika vian sudah ada di depan mata dan menghampirinya.
"Kau benci semua orang. Apa kau juga benci aku?" tanya vian yang langsung meraih wajahnya saat itu juga.
"Tidak... Aku tak bisa membencimu, bagaimana bisa?"
"Maka jangan pernah seperti ini lagi, Lyra. Dari semua orang yang kau benci, pasti ada yang menyayangimu."
"Kau menyayangiku?" Lyra segera memeluknya dengan erat, dan bahkan mengecupi dada vian bertubi-tubi dengan bibir manisnya.
Pandangan vian meremang dengan tingkah gemas lyra padanya, yang tak segan naik ke leher dan mengecupnya kuat hingva membuat tandanya disana.
" Lyra," erang vian dengan tingkah kekasihnya. Ia juga menyadari sebuah tanda yang ada dilehernya saat ini.
"Nakal! Bagiamana jika papi bertanya mengenai tanda ini? Kenapa tak ditempat lain saja?"
Tapi lyra hanya tertawa. Ia yang terlanjur di cap nakal oleh vian seketika menyentuh sesuatu milik vian dibawah sana lalu mengusapnya dengan gaya yang begitu sensual.
" Kau berusaha memancingku? Kau mau apa?" lirih vian yang mengukir bibir lyra dengan jari jemari besarnya.
"Aku mau lolipopku," tatap lyra sayu, kemudian berlutut tepat didepan miliknya dan membuka resleting celana yang vian pakai.
"Jika kau membangunkannya, kau akan kewalahan dengan akibat yang akan kau terima." Ancaman vian justru membuat lyra tersenyum meski merinding disekujur tubuhnya.
Lolipop besar itu masuk kedalam mulut mungil lyra, dan ia terus menyesuaikan diri dengannya. Meskipun hanya separuh yang masuk kedalam karena besarnya ukuran milik vian. Pantas saja lyra selalu KO dibuatnya, benda sebesar itu menjebol miliknya.
"Aaaihhsssh, Lyra!" erang vian yang mulai menikmati mulut lyra dibawah sana.