
Lyla bersimpuh dihadapan vian, sang supir perkasa yang nyaris membuatnya gila setiap hari dengan sentuhan yang ia berikan padanya. Ia disana tengah menikmati lolipopnya dengan begitu nikmat, mengulum memaju mundurkan kepalanya dan sesekali memberi gigitan kecil diujungnya. Hal itu membuat vian mulai frustasi dan menjambaki rambutnya sendiri saat ini.
"Hmmpphh!!" lenguh lyra yang terus memaju mundurkan kepala sembari memegang kuat pada milik kekasihnya. Sayangnya tak muat dengan mulut mungil lyra dan hanya masuk Sebagian ujungnya saja.
Vian meraih kepala lyra dan menekannya agar semakin melesak masuk menikmati kehangatan mulut dan lidahnya, tapi ia sadar jika itu membuat lyra kewalahan hingga wajahnya memerah dan nyaris tersedak karena besar ukuran miliknya.
"Vian, aku tak kuat." Lyra mengadahkan kepala dan menghentikan aksinya disana. Rasanya mulut lyra mulai kebas, karena sekian lama vian seperti belum merasakan apa-apa atas perlakuannya.
Vian mendunduk meraih wajah lyra kemudian mengecup bibirnya. Mereka saling melumaat, membelit lidah dan menukar saliva disana dengan. Netra vian mulai mengintimidasi lyra saat ini termasuk tangannya yang tak bisa diam merayap kemana saja yang ia bisa. Lyra memejamkan mata ketika vian merapatkan tubuh keduanya.
Satu tangan vian menuruni dan membelai leher lyra dan turun terus membelai bagian atas leher lyra."Kau tahu, andai kau tak penuh emosi ku pastikan kau cantik sekali."
"Aku jelek jika marah?" tatap lyra padanya.
"Ya, sangat jelek dan menyebalkan." Vian kembali memanguut bibir lyra dengan begitu intens, lalu mengangkat tubuh lyra hingga kaki kecil ramping itu melingkar di pinggang kokohnya kemudian membawanya masuk kekamar mereka.
Buuggh!! Tubuh lyra ia jatuhkan ke Ranjang hingga beberapa bagian lingerienya terbuka, apalagi bagian bawahnya tersingkap dan memperlihatkan bagian cantiknya disana. vian langsung turun merangkak dan menghimpit tubuh lyra dalam posisi push up.
Vian lagi-lagi mengecup dan melumaat bibir manis lyra. Mengecap, menjulurkan ludah dan bahkan menggigit bibirnya dengan tangan yang lagi-lagi tak bisa diam.
Ia bertumpu dengan tangan kiri, sementara tangan kanan mulai menelusup dibaju lyra dan menangkap dua bulatan indah disana. "Aaaaahhhsss!!" Lyra tak kuasa mendesis ketika tangan besar itu memelintir puncak indah kemerahan yang mulai menegak meminta untuk segera dijamah oleh pemiliknya.
Tangan yang sudah puas bermain itu terus turun, perlahan menyingkap bagian bawah lingerie yang sebenarnya sejak tadi sudah terbuka. Tangan yang kekar dan kokoh itu langsung membelai milik lyra yang masih terbungkus panty tipisnya. Rasanya lyra mulai terbang lagi, mendongakkan kepala dengan mulutnya yang terbuka. Apalagi ketika lidah vian kembali melahap bukit indahnya.
Perlahan vian membuka panty tipis yang menutup gadis kecilnya hingga benar-benar terbuka sempurna lalu kembali membelainya. Sangking nikmat itu semua, lyra tanpa sadar mengangkat pinggulnya sendiri ketika ia meliuk-liukan tubuhnya.
"Aaaahhh!!!" Lyra langsung mende sah ketika vian memasukkan jarinya perlahan.
Dibawah sana sudah semakin basah dengan pergerakan teratur dari jari tengah vian. Lyra mende sah semakin kuat ketika Gerakan jari didalam sana semakin cepat, dan kedua paha lusi menjepit kedua tangan vian yang semakin menggila.
Tapi vian tetap ada di posisinya, tak berubah sama sekali dengan mulutnya yang sibuk bermain di kedua anak kembarnya yang begitu memabukkan.
"Viaaaan!!" Lyra mende sah lagi. Dia memelik dan meremass kepala vian yang masih begitu aktif di dadanya. Getaran tangan itu juga semakin kuat, memaikan milik lyra hingga semakin lama semakin menggila begitu dahsyatnya.
Lyra mencengkram punggung vian sangking tak tahan dengan sensasi yang gila yang vian berikan. Makin lama makin dahsyat, hingga lyra tak mampu mengontrol dirinya sendiri saat ini. menggelinjang, berteriak dan mereemas apapun yang ada didekatnya. Hingga akhirnya tubuh lyra mengejang, mengunci semua otot kaki dan pinggulnya menandakan ia baru saja mencapai pelepasan pertama.
Biasanya vian memberi jeda atau waktu istirahat untuk lyra, namun tidak kali ini dan ia segera memulai penyatuan keduanya. Mau tak mau lyra mengerang lagi, apalagi ia masih merasa begitu ngilu dibawah sana dan sudah akan digempur dengan dahsyatnya.
Tubuh lyra merinding membayangkan apa yang terjadi selanjutnya.
Vian mulai memaju mundurkan pinggangnya, Ia kembali membungkuk dan menikmati anak kembarnua dan membuat lyra semakin gila memekik sejadi-jadinya. Vian begitu gemas menatap wajah lusi dibawahnya. Lehernya terpampang begitu menggoda membuat Vian tak sabar untuk menggigitnya.
"Sayangnya... Aku tak bisa meninggalkan tanda disana," gumam vian dalam hatinya, ketika mengingat besok papi lyra tiba menghampiri mereka berdua. Dan kini vian hanya bisa menjulurkan lidahnya dan bermain liar disana menciptakan sensasi geli tapi begitu nikmat ditubuh lyra.
"Iya... iya seperti itu," pekik lyra sangking nikmatnya. Ia juga meminta vian untuk tak berhenti bergerilya disana.
"Kau suka?" Lyra menelan saliva lalu mengangguk padanya.
Ace tersenyum miring, ia merasa menang karena telah berhasil membuat lyra tergila-gila padanya. ia terus bergerak mengoyak inti terdalam lyra hingga ia menjerit dibuatnya.
"Apa taka da posisi lain yang ingin kau ajarkan? Apa... apa kau tak lelah terus menggempurku sejak tadi?"
"Belum," jawab vian, karena dengan posisi itu ia bisa menikmati seluruh tubuh lyra bahkan dengan matanya. Melihat wajahnya itu bisa semakin meningkatkan keintimaan mereka berdua.
Vian meraih kedua kaki lyra, mengangkat dan menekuknya keatas. Ia memajukan tubuhnya sedikit dan kembali menghentak miliknya dengan kuat disana.
"Vian, ini dalam sekali!!" pekik lyra dengan sensasi yang semakin menggila menggetarkan tubuhnya. Ia bahkan membuang bantal yang menopang kepalanya kesembarang tempat, ia mulai frustasi dan tak lagi bisa mengendalikan diri. Napasnya tersengal, keringatnya mulai bercucuran membasahi seluruh tubuhnya.
"Vian.... Aku_aku ingin_"
"Ya, aku tahu. Lepaskan lyra!" titah vian padanya.
Dan benar saja, saat itu lyra memekik lalu menyembur dengan begitu dahsyatnya hingga membasahi milik vian yang masih menyatu dengan miliknya. Terengah-engah, saat itu lyra berusaha menstabilkan irama napasnya sendiri usai pelepasan yang sangat luar biasa apalagi ditambah sensasi hangat dari lahar vian yang menyembur di dalam rahimnya diwaktu yang sama.
Vian langsung menjatuhkan tubuhnya diatas lyra, dan saat itu lyra membelai dan mengecup rambutnya yang berkeringat.
"Ketika papimu datang, kita harus bersikap seperti biasa."
"Kau ingin menjauhiku?"
"Hey, tak ada yang bilang begitu. Kita hanya akan membatasi untuk_"
"No... Aku tak mau, lagipula dia tak pernah perduli padaku. Ia hanya sayang dengan istri baru dan calon anaknya saja. Saat ini yang sayang padaku hanya kau," belai lyra pada wajah kekasihnya.
Rasa kasihan pada sang nona yang kini seakan kehilangan kasih sayang. Tapi ia juga tak bisa seperti ini, karena ia takut ketika papi lyra tahu justru mereka akan terpisah selamanya.