
Vian membangunkan Lyra pagi ini, membuka jendela kamar agar matahari dan udara segar masuk ke kamar itu dan membuat Lyra membuka matanya. Tapi Lyra jutru menarik selimut dan menutupi sekujur tubuhnya saat itu seolah belum ingin bangun sepagi ini.
"Ayolah, sebentar lagi Demian datang untuk menjemputmua."
"Mau kemana?" tanya Lyra tanpa membuka matanya.
"Dia ingin menengok Laras dan bayinya di Rumah sakit, kau juga harus mengantarkan beberapa barang untuk papi disana." Vian terus membujuk sang nona agar segera membuka matanya.
Vian menarik sedikit celana bahannya keatas lalu berjongkok tepat didepan mata Lyra. Ia kemudian mengusap pipi cubby itu dengan mesra hingga Lyra benar-benar membuka matanya.
"Kenapa semalam tak tidur bersamaku?" Lyra justru merengek manja menggenggam tangan kekasihnya.
"Aku ketiduran di balkon hingga pagi, maaf. Lagipula aku melihat kamarmu sudah begitu gelap,"
Lyra yang saat itu mesih dengan selimutnya, menatap Vian dengan begitu mesra. Entah kenapa rasanya begitu menggebu-gebu akan sebuah rindu, padahal mereka berdua selalu bersama dimanapun berada. Lyra lantas mendekatkan wajah dan menciuum bibir Vian saat itu dengan gemasnya. Tak hanya sekali, tapi beberapa kali hingga Vian bediri dan membungkuk mengungkung tubuh indah Lyra yang sempat semalam ia inginkan.
"Aku ingin yang seperti Zayan,"
"Sudah ku bilang belum waktunya. Aku masih begitu banyak urusan yang harus diselesaikan, belum lagi kita butuh restu dari papi." Vian dengan perlahan menyusuri tubuh Lyra dengan lidah panjangnya, membuat Lyra menggelinjang membusungkan dada mmeberikan santapan nikmat pada kekasihnya.
"OOuuuwwhhh!!" Lyra melenguuh ketika jemari Vian menyapa dada indahnya. Lyra spontan meremaas apapun yang dapat ia raih dengan tangannya. Vian semakin lama semakin bisa membuatnya gila.
Tangan Vian berganti dengan lidah, Lyra semakin tak kuasa menahan rasa yang terus mengoyak dirinya. Seakan ia siap tubuhnya koyak demi mendapatkan kepuasan terus menerus dari pujaan hatinya setiap saat dan kapanpun ia mau.
"Vian... Aaahhss!!" Lyra merasakan lidah panjang nan runcing itu sudah mencumbu miliknya dibawah sana. Entah sejak kapan tapi itu benar-benar membuatnya gila, apalagi ketika Vian menambah permainan jarinya dibawah sana. Lyra memekik, tubuhnya melenting dengan jemari yang terkunci hingga akhirnya mendapat sebuah kepuasan yang tiada tara.
Apakah permainan Vian semakin luar biasa, atau Lyra yang memang sudah begitu menahan gejolaknya sejak tadi. Tapi saat itu Vian langsung berdiri dan mempersiapkan perlengkapan untuk Lyra agar segera mandi.
"Kau tak mau?" tanya Lyra heran, sekuat itu pertahanan Vian padanya. Padahal, jika lelaki lain pasti akan menerkam lyra tanpa melihat waktu dan tempatnya dimana.
"Mandilah, aku menunggumu dibawah untuk sarapan bersama." Tak lupa Vian meraih beberapa baju minim Lyra agar tak lagi bisa dipakainya kemana-mana. Lyra hanya mendengkus pasrah, setidaknya dari situ Lyra tahu jika Vian benar-benar perduli dan ingin melindunginya.
Vian turun dan Lyra mandi, rupanya Demian sudah menunggu dibawah dan Vian segera menyambutnya dengan ramah.
"Maat, Saya baru membangunkan Nona dan tengah mandi saat ini. silahkan menunggu," ujar VIan padanya.
Demian hanya mengangguk dan diam, tatapan matanya melirik Vian tanpa henti sejak tadi. Bahwa sebagai pria, Demian juga memuji sosok Vian yang begitu sempurna dimatanya.
Tak lama kemudian Lyra turun pakaian formal yang ia pakai, dan memang lebih tampak sopan dan teratur hingga Demian kagum bahkan tak henti memuji kecantikannya saat itu. Mmebuat Lyra tersipu malu, tapi bukan karena dipuji oleh pria lain melainkan dipuji oleh orang yang satu frekuensi denganya saat ini. Atau mungkin Lyra akan mentraktir Demian ke salon langganan setelahnya untuk perawatan bersama.
Tapi mereka tak langsung pergi karena Vian meminta Lyra untuk sarapan sebelumnya. Bahkan dengan segala perhatian yang diberikan, Demian sanggup menyuapi Lyra seperti adik kecilnya.
Vian hanya menggelengkan kepala melihat keakraban mereka berdua.
"Sepertinya kau tak seperti yang diceritakan papi padaku,"?
"Emang papi cerita apa?" tanya Lyra sembari meneguk air putih ditangannya.
Demian tersenyum ketika menceritakan bagaimana papi membahas sifat buruk Lyra padanya. Jutek, ambekan, egois dan seperti anak kecil yang semua harus dituruti. Tapi tampaknya Lyra lebih lembut dari apa yang mereka kira.
"Entah, hanya saja aku dengan papi memang tak sedekat itu. Apalagi ketika mami meninggal dan dia menikahi sahabatku."
"Ya, kalau itu aku tahu." Demian menganggukkan kepalanya paham, seakan begitu mengerti dengan perasaan Lyra saat ini.
Bibik keluar membawa beberapa tas ditangannya. Ia memberikannya pada Lyra atas permintaan Vian untuk papinya. Demian meraih tas itu dan membawakannya keluar menuju mobil.
Mereka berdua pergi menuju Rumah sakit untuk melihat adik Lyra yang baru lahir kemarin.
Sementara itu Vian menilik mall sebentar hari ini atas perintah papi Seno. Ia melihat semua petugas membersihkan mall itu di setiap ruangannya dan beberapa ruko sudah dibuka disana. Bahkan sudah ada beberapa pengunjung yang datang.
"Kak Vian, kok sendiri? Nona mana?" tanya Salsa yang menyapanya. Ia juga diberi tanggung jawab mengawasi Mall ketika pagi dan malam ketika akan tutup.
"Nona ke Rumah sakit melihat adiknya," jawab singkat Vian, dan keduanya berjalan bersama menuju kantor yang ada di lantai paling atas mall itu.
Mereka dapat melihat keadaan diluar dengan jendela kaca yang ada dilift itu, memperlihatkan pemandangan yang indah untuk keduanya.
" Kak Vian, itu apa?" tunjuk Salsa pada tempat berasap diujung sana dan cukup jauh dari mallnya.
"Itu seperti_"
"Kebakaran?" Mendadak suara Salsa terdengar begitu lirih dan sesak, bahkan ia mundur beberapa langkah dari depan hingga tubuhnya terbentur tembok dibelakang.
"Salsa, kamu kenapa?" tanya Vian yang cemas padanya. Tubuh Salsa gemetaran, keringat dingin bercucuran disekujur tubuhnya dengan wajah yang pucat.
"Ayah.... Ibu... Ayaaaaaah! Ibuuuuu!" Salsa seperti orang linglung yang memanggil kedua orang tuanya saat itu dengan terus menepuki dada.
Tak ada orang disana, hingga setelah lift terbuka Vian menggendong tubuh Salsa dan berlari membawanya ke ruangan pribadi milik Vian.
Salsa tak sadarkan diri dan terus mengigau saat itu. Berteriak seperti terjebak dalam sebuah kebakaran besar yang merenggut nyawa kedua orang tuanya
"Abaaang!"
Deg! Jantung Vian bergemuruh hingga terasa nyeri ketika Salsa menyebutkan itu dari bibirnya.
"Salsa?"