My Hot Personal Driver

My Hot Personal Driver
Selesai



Semua selesai. Om Dipta langsung di ciduk saat itu juga oleh mereka tanpa menunggu polisi untuk datang. Om Dipta terus meraung memohon pada Vian untuk melepaskannya saat itu dengan segala kilahan yang ada.


Vian hanya meraup wajahnya sendiri dengan kasar ketika mendengar itu semua. Ia jengah, dan yang ia inginkan adalah segera pulang untuk menemui Salsa adiknya.


"Tuan?"


"Panggil papi mulai dari sekarang karena kau akan jadi putraku." Papi Seno meraih pundak Vian dan mengusapnya pelan.


"Papi," ucap Vian yang masih sedikit segan, tapi ia berusaha untuk terbiasa dengan itu semua.


Om Dipta sudah dibawa, Java dan Maya diminta segera pulang dan mereka akan dinikahkan oleh Vian sebagai walinya karena om Dipta akan di tahan dalam waktu yang lama.


"Dokumen itu kau bawa?"


"Bawa, Pi." Vian mengambil semuanya di dalam mobil dan menyerahkannya pada papi Seno segera.


"Kau pulang, pasti kau ingin bertemu dengan Salsa, bukan? Tapi, kau harus perlahan dengan ingatannya."


"Papi urus ini sendiri?"


"Ada Cakra dan yang lain, lagipula Bonar juga masih bisa dimintai keterangan. Lando juga sedang dalam perjalanan kemari," terangnya, membuat Vian tenang seketika.


Dengan gegap gempita Vian segera pamit dan berlari menuju mobilnya saat itu juga. Ia mengendarai mobil dengan begitu cepat, tak sabar rasanya memeluk Salsa sebagai kakak kandungnya saat ini.


"Hey, kau ini laki-laki, kenapa diam melihat wanita mengerjakan ini?" omel Salsa yang saat itu tengah memasang galon di rumah Lyra. Sementara Demian justru duduk santai menjaga Zayan karena Lyra tengah melakukan pijat laktasi lagi pada Maminya di kamar.


"Kau bisa mengasuhnya? Sebagai wanita saja kau bahkan tak bisa menenangkan seorang bayi, kenapa kau menuntutku harus bisa melakukan itu semua?" balas Demian tak kalah garangnya.


Mereka berdua seakan tengah beradu tatap dengan kekuatan petir dan angin saat ini, entah siapa yang akan kalah dan menjadi yang terkuat.


" Hey! Apaan kalian ini, seperti anak kecil saja." Lyra yang datang saat itu langsung mengomeli keduanya, dan ia langsung berjalan menuju Demian untuk menangani Zayan.


"Sudah sana, bantuin Salsanya," titah Lyra. Ia juga belum berani menggendong Zayan saat ini, tapi sudah bisa dipastikan jika ia sudah jatuh cinta dengan adik kecilnya itu.


"Awas!" usir Demian pada Salsa yang tengah berusaha mengangkat galon itu ke atas dispensernya.


Suara langkah kaki terdengar melangkah begitu cepat, tapi ia juga tak berlari saat itu.. Lyra sudah tersenyum, kekasihnya pulang saat ini dan ia segera merapikan diri untuk menyambut dan memeluknya. Ia sudah sangat rindu.


Dan benar, saat itu Vian masuk dengan gagahnya dari pintu utama. Lyra segera merentangkan tangan dan memanggil namanya saat itu, dan Vian langsung mempercepat laju berjalan ke arahnya.


Namun ia melewati Lyra. Gadis itu langsung membulatkan mata dan memanyunkan bibirnya, bergerak-gerak seperti ia sedang menahan tangis saat ini. Saat itu, Vian justru menghampiri Salsa. Ia meraih pundak Salsa, membalik lalu memeluknya dengan begitu erat


Salsa kaget, ia membulatkan mata dan justru menatap pada Lyra disana. "K-kak Vian?"


"Salsa... Kakak rindu sama kamu. Kamu tahu betapa rindu dan seberapa keras usaha kakak mencari kamu selama ini?"


"Kak... Vian?"


"Iya, Sayang... Aku kakak kandungmu," dekap Vian semakin erat padanya saat itu dengan air mata yang begitu deras mengalir.


Sementara Salsa masih berusaha keras untuk mengingat semuanya. Salsa tahu jika ingatannya sebagian hilang, tapi bayang-bayang Vian selalu menghantuinya selama ini dan bahkan ia menjadi takut dengan itu semua. Ia takut jika ia jatuh cinta pada Vian, dan teringin merebutnya dari Lyra.


"Kamu ingat, namamu adalah Livya Tinara. Aku yang beri nama kamu dan memanggil kamu Livy. Tapi kamu ngga suka itu," raih Vian di wajah imut Salsa dan kemudian mengecup keningnya.


Tangan Vian kembali memeluk Salsa dengan erat saat itu dan bersumpah tak akan melepasknya lagi setelah ini.


" Kakaaak!" Salsa membalas pelukan itu dengan erat, meski ingatan belum sepenuhnya kembali.


"Huaaa! Salsa ngga nyangka kalo Kakak adalah kakak kandung Salsa. Salsa terharu,"


"Lebay!" dengkus Demian padanya.


Vian masih menangis terharu disana, ia begitu bahagia dapat memeluk Salsa. Hingga Laras turun mengambil alih Zayan dadi Lyra. Dan Lyra segera menyusul mereka semua dalam segala moment haru yang ada.


" Salsa, bahagia?" tanya Lyra. Dan saat itu Salsa segera melepas pelukan itu dari calon suami sang Nona.


"Nona, maaf. Saya terlalu bahagia saat ini. Selama ini, saya kira bayangan Kak Vian hanya sebagai tanda bahwa saya terlalu menyukainya. Ternyata,_"


"Kau menyukai calon suamiku?" tatap tajam Lyra. Saat itu Salsa langsung berlindung dipunggung kakaknya.


Tapi Lyra langsung berusaha bersikap normal pada mereka berdua agar Vian tak memarahinya. Ia lebih takut pada Vian dibanding papinya sendiri saat ini.


"Okey... Mulai hari ini, tandanya kau adalah calon adik iparku. Jadi... Kau harus bersikap baik padaku,"


"Begitu juga sebaliknya," celetuk Demian, yang spontan membuat mata Lyra membulat karenanya.


"Ish, Kau ini!"


"Kalian sudah akan menikah? Memang sudah dapat restu?" goda Salsa.


"Sudahlah, Papi sudah merestui kami. Apalagi?" jawab bangga Lyra padanya.


"Kak Vian kan punya keluarga. Ini, adiknya. Minta restu juga dong," ucap Salsa yang keluar dengan gaya tengilnya. Ia merasa diatas angin saat ini, apalagi melihat betapa cinta Lyra pada kakaknya.


"Kau... Apa maumu, ADIK IPAR tersayang?"


"Wuaaah, senengnya dipanggil adik ipar. Pasti, kakak ipar tersayang mau menuruti apa mau adik ipar yang cantik ini dong, ya? Apa ya?"


"Jangan macam-macam Salsa!" gerutu Lyra menyipitkan mata.


"Lyra_"


"Ya, Sayangku?" panggil Lyra pada pria yang selalu membuatnya tergila-gila. Ia bahkan langsung menyingkirkan tangan Salsa dan memeluk kekasihnya itu, mendorong dengan kuat hingga Salsa jatuh ditangan Demian yang ada dibelakangnya saat ini.


"Astaga!" Salsa langsung mengelus dadanya saat itu juga. Tapi, Demian merasakan sesuatu yang berbeda darinya.


"Sa... Nikah yuk?"


"HAAAAH!" kaget mereka bersamaan.


"Sepertinya ada yang menyentrum Demian saat ini." Vian menatap pria itu dengan tajam mencari sebuah celah yang harus ia temukan.


"Apaan Lu? Ngajak orang nikah seenaknya. Lu aja... Lu aja_" ucapan Salsa terhenti seakan tak bisa melanjutkannya lagi.


"Kau butuh bukti? Ayo, ikut aku." Demian langsung menarik tangan Salsa saat itu dan membawanya pergi dari sana.


"Sayang, itu tolongin!"


"Apa? Biar saja, Demian kesetrum cinta. Sembuh dia nanti. Biarkan jika mereka ingin bersama."


"Bukannya kamu masih rindu Salsa?"


"Merindukan bukan berarti harus menahannya untuk terus bersama. Dia juga punya kehidupan, Lyra. Kita hanya bisa mengawasi dia."


"Cieeeee... Sekarang sudah kita!" Laras menggodanya dari kejauhan, sembari menggendong dan menciumi aroma harum putranya. Ia mendapat bahan meledek putrinya saat ini.


"Apa sih, Mam?"


"Cieeee... Mami!" Vian ikut meledek, dan Lyra hanya bisa menggigit bibirnya saat ini dengan wajah merah merona.


Mereka semua bahagia. Terimakasih telah mengikuti kisah ini😘😘😘