My Hot Personal Driver

My Hot Personal Driver
Kepergok Salsa



"Kenapa kau di kamarku?" Suara vian mengagetkan, membuat maya tersentak dan terlonjak karenanya. Ia ketangkap basah tengah memegang hp vian saat itu, gugup, dan langsung berfikir membuat alasan yang tepat.


"Maya mau ganti seprai ini, supaya kakak tidurnya nyaman. Lihat hp berdering, penasaran." Maya lantas menyerahkan hp itu pada pemiliknya. Ia sesali saat itu belum sempat membuka isi pesan yang ada.


"Terimakasih, aku tak menginap malam ini."


"Loh, kenapa? Kakak udah lama ngga nginep loh, maya kangen." Maya merengek dan memohon agar vian tinggal. Selama ini ia tahu vian amat sayang dan menuruti semua permintaan maya, namun kali ini tidak.


Vian melepas tangan maya yang ada dilengannya saat itu, hanya mengusap rambut pendeknya kemudian pergi dengan cukup tergesa-gesa.


Maya hanya bengong kesal, dan mematung di kamar vian saat ini. Rasanya ingin menjerit, berteriak sekuat tenaga dan melempar semua yang ada di hadapannya. Namun itu tak ia lakukan karena vian juga tak akan kembali hanya gara-gara itu. Ia juga tahu, jika vian begitu sulit terbantahkan.


Vian telah tiba di mobilnya. Ia memasang headset dan langsung menelpon lyra disana. Nada manja dengan suara lembut lyra memang begitu menggoda dan sanggup dengan cepat menyentrum sekujur tubuhnya.


Apalagi ketika mendengar jika lyra menunggunya di Aprtement saat ini. Semangat vian langsung memberontak, andai bisa ia menggunakan Hiraishin no jutsu milik hokage ke Empat agar bisa sekejap tiba disana menyambar kekasihnya.


Tapi tak bisa, ia harus benar-benar sabar untuk menembus jalanan yang padat saat ini. Apalagi hari mulai sore dan bertepatan dengan jam pulang kerja orang banyak. Vian hanya bisa menghela napas beratnya disana menahan nyeri di dua kepala.


Hingga akhirnya ia bisa bernapas lega ketika tiba di Apartemen lyra. Ia segera memarkirkan mobil itu dan naik dengan tergesa-gesa. Apalagi tubuh terasa panas ketika membayangkan lyra akan menyambutnya dengan....


Ah, sudah lah. Semakin sakit dua kepala vian ketika harus membayangkannya.


Kode pintu apartemen ia klik, dan saat itu langsung terbuka. Lyra yang sudah mengetahui kedatangannya itu segera lari memeluk dan meloncat kedalam gendongan tubuh kekar sang kekasih. Ia mengecupi pipi vian dengan gemas hingga kecupan itu berlabuh dileher vian dan ia menghisapnya bagai drakula.


"Lyra!" Suara vian terdengar begitu berat dan serak. Tangannya yang menopang bagian bawah lyra lantas meremaas apapun yang bisa ia dapatkan disana.


"Eunggg!" Hingga lyra melenguh karenanya. Ia mengadahkan kepala keatas hingga kecupan itu diambil alih vian yang tampak begitu dahaga akan tubuh indah kekasihnya.


Bugggh! Vian menjatuhkan kasar tubuh itu disofa besar yang ada. Tapi bukan merintih sakit lyra justru tersenyum suka dengan perlakuan sedikit kasar dari vian untuknya. Apalagi dengan gerakan tangan cepat vian merobek gaun tipis yang saat itu lyra pakai.


"Aaaah.... Vian!" Tangan lyra mengalung dan menjambak rambut vian yang dengan gemas bergerilya didadanya yang sudah mengeras.


Vian seperti begitu kehausan, ia seakan begitu lapar dan sudah lama tak diberi makan oleh sang nona. Hingga rasanya begitu beringas, tapi lyra justru menyukainya karena seperti sangat berbeda. Lebih nikmat dari biasanya.


Suara lyra melengking, tubuhnya menggeliat ketika vian sudah merayap hingga kebawah sana diapit kedua pangkal pahanya.


Lidah lancip itu bermain disana, membuat tubuh lyra menggelinjang bagai cacing kepanasan bahkan mungkin disiram dengan air garam. Lyra mengerang meminta ampun dengan apa yang vian lakukan padanya saat itu.


" Sangat nikmat, Lyra..." Bisik vian yang menjatuhkan diri diatas tubuh sang keksih. Ia dapag merasakan degupan jantung lyra yang begitu kuat dan tengah berusaha mengatur ritmenya agar kembali normal.


"Kau darimana? Aku mencarimu tak ada," tanya lyra mengusap rambut vian dengan aroma yang begitu ia suka.


"Kerumah seseorang, Aku ada keperluan disana." Vian dengan perlahan memulai penyatuan keduanya, hingga lyra merintih menggigit bibirnya sendiri saat itu.


Vian mulai bergerak perlahan. Rasanya begitu nikmat, hingga ia bahkan menggigit bibirnya sendiri saat itu. Tapi seperti biasa tangannya tak bisa diam, ia meraih apapun yang bisa ia raih dengan tangannya di tubuh indah lyra.


Gerakan makin lama makin kuat, membuat tubuh lyra berguncang dan dadanya naik turun seirama gerakan yang ada. Wanita itu mulai frustasi, mulutnya ternganga terus membuang segala nada indah yang keluar dari sana mengisi penuh seluruh ruangan besar itu.


Vian menarik tubuh lyra, lalu mengangkat untuk duduk diatas tanpa melepas penyatuan keduanya. Cukup lama untuk lyra menyesuaikan diri hingga akhirnya perlahan bergerak. Rasanya begitu sesak dibawah sana hingga tepat mengenai rahimnya.


"AAAHHH! LYRA!" desis vian saat kekasihnya mulai bergerak mengoyak miliknya didalam sana.


Bahkan sangking kuatnya suara mereka, hingga keduanya sama sekali tak mendengar ketika ada yang membuka pintu apartemen itu.


"Astaga! Kak vian, Nona? Mereka?" Tubuh salsa membatu melihat keduanya dari balik pintu yang sudah sedikit ia buka.


Salsa seakan tak percaya, hingga beberapa kali menutup dan membuka kembali pintu yang ia pegang barusan.


Bukan apa, memang vian sempat memberikan kode baru apartemen itu agar salsa bisa sesekali datang membersihkannya. Dan saat itu, salsa sengaja datang untuk menjelaskan apa yang lyra lihat tadi saat salsa bersama papi seno diruangannya.


Tubuh salsa gemetaran, jemarinya menegang mendengar semua suara erotis yang mereka keluarkan. Tampaknga begitu nikmat, dan mereka seperti sudah begitu sering melakukannya. Salsa melihat mereka berdua sudah begitu lihai saling menikmati tubuh masing-masing.


"Nona, ada apa?" tanya seorang satpam yang datang menegurnya.


"Tak apa, saya hanya ingin membersihkan appartemen ini. Seperti biasa," jawab salsa terbata.


"Oh, baiklah. Saya permisi dulu... Mari," balasnya ramah, kemudian berjalan lagi.


Sementara salsa duduk meringkuk didepan pintu seakan kini tengah menjaganya dengan perasaan pilu. Bagaumana tidak, vian adalah pria yang ia sukai selama ini. Ia fikir cintanya akan berbalas melihat strata sosial mereka yang sama. Sama-sama pembantu untuk lyra.


Tapi, kenapa vian justru besama lyra saat ini. Sejak kapan mereka bersama, dan bahkan bisa melakukan hubungan begitu dekat. Isi kepala salsa nyaris kacau dibuatnya, ia hanya bisa bersandar didinding dan menggigiti kuku jarinya sendiri.


"Mereka saling cinta, atau hanya... Ah, masa gitu? Ngga boleh," tolak salsa dengan fikiran kotornya. Ia duduk disana menunggu mereka berdua selesai dengan aktifitasnya.