
Salsa terus mengikuti kemanapun bosnya pergi dan mengawasi setiap departemen yang ada di mall itu. Papi seno begitu selektif menilik semua hasil pekerjaan lyra dan menilai dengan kaca mata pengalaman yang ia miliki.
"Nona begitu baik mengatur semuanya, beliau selalu tegas menindak semua pelanggaran yang ada disini terutama untuk pembagian wilayah kerja antar para pedagang yang ada." Salsa melaporkan semua keberhasilan lyra dalam mengolah bisnis keluarganya.
Papi tampak menganggukkan kepalanya, lyra memang cerdas bisa mempertahankan perusahaan retail itu agar tetap eksis diantara banyaknya persaingan diluar sana. Idenya selalu kreatif untuk memancing pasar selalu berbelanja produk yang ada di mall mereka, bahkan Salsa juga melaporkan kenaikan grafik dari keuntungan perusahaan yang cukup besar selama kepemimpinannya.
"Dia dan vian, bagaimana?" tanya papi seno, dan saat itu salsa hanya membulatkan mata. Bagaimana apanya yang dia maksud hingga harus mempertanyakan vian dan lyra pada salsa.
"Nona dan vian, mereka baik-baik saja dan bekerja begitu professional. Ada apa, Tuan?" tanya salsa yang kadung penasaran, tapi papi seno tak pula menjawab pertanyaannya dengan jelas saat itu juga.
Entahlah sepertinya ada kecurigaan sendiri dari papi seno pada mereka berdua saat ini. Tapi ia memilih untuk tetap fokus pada semua pekerjaan yang ada disana dan memuji kinerja putrinya.
Hari memang sudah menjelang malam, dan vian baru saja keluar dari kamar sang nona usai membereskan semua barangnya. Ia segera turun untuk membersihkan dirinya sendiri, dan saat itu justu laras yang mencegatnya untuk bertanya.
"Selama itu di dalam sana?"
"Andai anda tahu, jika seisi lemari sudah keluar semua dari tempatnya," lapor vian dengan suara baritonnya.
"Bibik ada, kau tak memintanya membantu?"
"Jika bisa, aku akan melakukannya. Aku sudah berusaha sebisaku, dan aku lelah." Vian menundukkan kepala lalu pergi darinya. Laras hanya menarik napas, membuang semua kecurigaannya pada mereka berdua. Seperti yang suaminya bilang, jika ia harus fokus pada bayi yang ia kandung saat ini agar tak terjadi apapun pada keduanya.
Laras sedikit bergerak hari ini untuk mempersiapkan makan malam mereka semua, dan ia bahkan memasak sendiri makan malam kesukaan lyra yang sejak dulu menjadi favorite sahabatnya itu. Ua bahkan belajar memasak dari mami lyra ketika ia sering menginap disana. Mami lyra begitu menyayangi laras seperti anaknya sendiri, hingga ketika sakit ia bahkan mempercayakan keluarga itu padanya.
Bahkan dalam doanya, laras terus menyebutkan nama mami lyra yang bahkan sempat membiayainya kuliah hingga mendapatkan gelar seperrti yang ia inginkan saat ini. Andai saat itu lyra masih diberi kesempatan untuk bicara pada sang mama untuk yang terakhir kalinya, pasti semua perpecahan ini tak akan terjadi.
Mobil papi seno akhirnya kembali, dan laras segera menghampiri. Ia meraih tangan suaminya untuk ia cium, tapi papi seno melarang sang istri untuk membawakan tasnya masuk ke dalam. "Kau tunggu saja dan duduk di sofa, aku bisa urus semuanya." Papi seno menggandeng istrinya masuk ke dalam lalu lanjut ke kamar untuk membersihkan dirinya.
Lyra sama sekali tak keluar dari kamarnya, mungkin bahkan ia ingin dilayani seperti ratu dan diantar makanannya oleh sang pelayan yang tak lain adalah vian. Kadang laras berfikir, andai ia tak sedang hamil pasti ia akan memperingatkan lyra agar lebih dewasa.
"Vian, panggil lyra. Saya ingin bicara dengannya," titah papi padanya. Vian langsung mengangguk dan naik keatas untuk memanggil lyra dan berusaha membujuknya dengan berbagai cara agar ia ikut makan bersama yang lainnya.
"Aku merasakan sesuatu yang tak enak saat ini," Felling Lyra yang sedikit buruk terhadap papinya.
"Kita makan malam dulu, aku ngga mau kalau lyra ngga makan malam dan_"
Laras tak menjawab, ia hanya membuang muka lalu berdiri meninggalkan lyra yang baru duduk dihadapan mereka berdua. Lyra pun membalasnya dengan tatapan sengit, padahal saat itu laras hanya tak ingin mendengar perdebatan mereka disana.
"Apa?" tanya lyra pada papinya, sementara vian berdiri didekatnya saat itu.
Awal pembicaraan papi seno memuji sang putri dengan kinerjanya, semua baik dan bahkan memberikan penghargaan hingga lyra melambung tinggi dengan segala rasa senang dihatinya. Tapi bukan itu inti pokoknya, karena lyra mendadak merubah mimik wajah ketika sang papi seperti akan membicarakan sesuatu.
"Kau dengan riko, benar-benar sudah putus, kan?"
"Astaga, kenapa tanya itu lagi?" geram lyra pada sang papi. Padahal ia sudah membuang bayangan riko begitu jauh dari fikirannya, sayang jika lyra tak bisa menyebut nama vian sebagai pengganti posisinya saat ini.
"Lyra, ini penting. Papi akan memperkenalkanmu dengan salah seorang putra sahabat papi, namanya Demian." Dan benar firasat lyra, ada sesuatu yang tak mengenakkan hati dalam pembicaraan kali ini dan membuat lyra rasanya ingin pergi dari sana.
Sang papi terus mempromosikan pria itu didepan lyra. Meski tanpa foto, tapi pria itu tedengar sempurna dari bentuk tubuh, ketampanan serta kekayaannya. Tapi bagi lyra tak ada pria yang begitu sempurna kecuali vian yang selalu bisa memabukkan dengan setiap sentuhannya.
Vian yang mendengar itu berusaha kuat agar tak mengepalkan tangan dan memasang wajah tegangnya. Ia berusaha biasa saja meski hatinya begitu murka. "Ya, aku bukanlah apa-apa bagi mereka," gumam vian dalam hatinya.
"Lyra ngga mau! Meski lyra begini, lyra berhak dan bisa cari sendiri pasangan untuk lyra, apalagi itu demi masa depan!" sergahnya.
"Memilih yang bagaimna? Yang akan memanfaatkanmu lagi dengan segala fasilitas yang kamu punya? Ingat lyra, tak ada yang benar benar tulus dengan kamu_"
"Apa itu termasuk dia?" tunjuk lyra pada larasa yang tengah menyantap makan malamnya. Tapi laras hanya diam, ia seolah sudah tahu jika akan menjadi pelampiasan lyra lagi dalam kesalnya.
"Jangan mulai, lyra. Papi berusaha lembut sama kamu,"
Napas lyra tampak naik turun dengan begitu berat didadanya. Ia seperti menahan sesuatu yang mengganjal, tapi ia tak bisa mengungkapkan semua saat itu juga didepan mereka. Andai bisa, ia ingin sekali mengatakan pada sang papi jika hanya Vian yang ia cintai saat ini. Ia tak mau dengan pria lain selain vian, mau setampan atau sekaya apapun dia.
"Lyra ngga mau dijodohka, apapun resikonya. Dan kamu, Vian... Jangan mau ikuti perintah papi untuk menjodohkan aku dengan demian.," titah lyra, tapi saat itu vian hanya diam dan kebingungan berada diantara mereka berdua. Belum lagi dengan misi mencari adiknya.
Lyra muak, ia tak mau menanggapi itu semua lagi kali ini. Ia memilih berdiri dan berjalan menuju meja makan, mengambil makanan sebanyak yang ia bisa dan melahapnya . Ia seperti tengah meluapkan segala emosi dengan semua makanan yang terkunya di mulutnya, tak perduli jika laras kini ada didepan mata.
Setidaknya lyra tak mengamuk atau tantrum kali ini, itu saja sudah cukup.
"Tapi, untuk apa dia menambah energi sebanyak itu?" tatap vian dengan penuh curiga.