
Pulang dari rumah pak cahyo, Vian menjemput vian sesuai titah papi seno. Ia melakukannya, sekalian memang ia penasaran dengan pertemuan sang kekasih dengan pria yang dijodohkan padanya saat ini.
Tampak dari kejauhan Lyra dan Demian sedang bercakap dengan begitu akrab disana. Bahkan tampak mesra jika diperhatikan, tapi sama sekali vian tak merasa kesal atau cemburu padanya. Lyra sampai menatap tajam dan geram sendiri karenanya.
“Nona, saya datang untuk menjemput Anda.” Lyra diam bersedekap, justru Demian yang langsung berdiri rapi mempersilahkan Vian untuk duduk bersama mereka disana.
“Terimakasih, Tuan.” Vian menundukkan kepala padanya.
“Urusanmu Sudah selesai?” tanya Lyra.
“Ya,” jawab Vian seadanya. Hal itu membuat Lyra mengerucutkan bibir seakan di abaikan. Ia tak tahu lagi bagaimana harus membuat Vian cemburu padanya saat itu, padahal ia ingin sekali melihat bagaimana wajah Vian yang cemburu padanya. Pasti menggemaskan.
“Dem, terimakasih ya, hari ini menyenangkan. Nanti aku akan hubungi kamu jika senggang.” Lyra mengalihkan perhatiannya pada pria itu.
“Yess, Baby. Kamu bisa hubungi aku kapan saja, atau bahkan jika kau ingin ke apartementku. Pinta Vian mengantarkannya,” jawab Demian.
“Ah, baiklah. Aku pulang dulu, ya?” Lyra berdiri begitu juga Demian saat itu. Mereka saling berpelukan dan cpika cipiki tanpa segan didepan Vian, tapi Pria itu hanya diam menunduk menatap hjam yang ada dipergelangan tangannya.
“Ayo,” ajaknya pada Lyra. Dan Vian tak lupa mengangguk pada Demian untuk membawa Lyra pergi darinya. Hingga lama kelamaan mereka benar-benar jauh dan Demian tak terlihat lagi dimata keduanya.
Lyra sepanjang jalan tak segan menceritakan kebaikan Demian, perhatian, dan pekanya Demian pada dirinya saat itu. Vian hanya menjawabnya datar, sesekali berdehem untuk memberikan respon pada sang Nona dengan segala semangatnya.
“Besok bahkan diam au ajak aku ke Salon, katanya temen dia punya salon yang bagus untuk perawatan. Dia baik kan?” puji Lyra berkali-kali tanpa henti.
“Ya, sangat baik. Aku bisa meninggalkanmu dengan tenang, besok.” Jawab datar Vian yang saat itu tampak seperti tengah mencari sesuatu disekitar sana.
“Cari siapa?”
“Tuan, dimana?” Vian justru mencari papi seno dihadapan Lyra yang sejak tadi meminta perhatiannya.
“Mcckk!! Aku yang ada dihadapanmu sejak tadi, dan kau sama sekali tak melihatku?!” geram Lyra menghentakkan kakinya.
“Vian!! Eerrrgghhh!!” Lyra beranjak pergi dan berjalan dengan sangat cepat meningalkan pria itu saat ini. Vian langsung mengurut dahi dan berusaha untuk mengejarnya, tapi saat itu papi seno juga keluar dari ruangannya.
Vian bingung menolehh kanan kiri. Ia perduli dengan Lyra, tapi ia perlu penting dengan papi seno.
“Ku harap kau tak kemana-mana, Lyra.” Harap Vian yang langsung berjalan menuju sang tuan saat itu juga.
Vian langsung memanggil papi seno dan menghampirinya guna melaporkan semua yang ia temukan dan diberikan oleh pak Cahyo. Papi seno membuka berkas itu dengan ekspresi datar dan tampak beberapa kali menganggukkan kepala, seolah tahu sejak awal akan apa yang Vian dapat dari sana untuknya.
“Ini untukmu. Simpan, kita kumpulkan dan kau akan mendapat semua jawabannya. Ada yang lain?” tanya papi seno.
“Tidak, Tuan… Beliau hanya mengirimkan salam pada Anda tadi,” jawan Vian padanya. Dan satu hal lagi yang Vian tanyakan, yaitu mengenai Om Dipta yang tak disebutkan sama sekali dalam obrolan mereka. Lagi-lagi ayah Vian dan papi Seno yang selalu dibicarakan sepanjang obrolan yang tadi terjadi.
“Nanti kau akan dengar seseorang yang membahasnya. Kau hanya perlu menunggu,” ujar papi seno. “Dan… Lyra mana?” tanya nya yang mencari sang putri yang harusnya bersama Vian saat ini.
“Nona_ Nona tadi meninggalkan saya dan keluar dari sini. Maaf, Saya akan segera mencari nona secepatnya.” Vian mennduk kemudian berjalan cepat menuju keluar untuk mencari Lyra. Ia sedikit mengitari Gedung sembari sesekali meraih ponsel untuk menghubungi sang nona saat itu, namun sama sekali taka da respon darinya.
“Vian!” panggil Lyra padanya. Suara itu melengking, Vian mendengar getaran ketakutan dari sana. Vian menoleh kesana kemari mencari sumber suara itu, namun tak kunjung ia temukan.
“Mas Vian, ada apa?” tanya beberapa satpam disana yang menghampirinya.
“Lyra… Cari Lyra!” Titah Vian dan langsung mendapat anggukan dari mereka, yang lantas menyebar keseluruh sisi Mall itu untuk mencari Lyra.
Hingga sebuah mobil melewati Vian saat itu, Vian yang menoleh lantas melihat Lyra yang ada didalamnya. “Lyra!!” pekik Vian, ia segera berlari berusaha mengejar mobil itu sekuat tenaga.
Tapi sayang, suasana yang lengang membuat mobil itu melaju dengan begitu cepat membawa Lyra pergi darinya. Vian diam disan dengan napas terengah-engah, memperhatikan plat mobil dan berusaha memahami siapa pemiliknya.
“DIA!!” Vian mengepalkan tangan lalu pergi dari sana menuju mobilnya dengan segera.