
Pagi ini lyra terbangun dengan begitu segar. Ia meregangkan tubuhnya dan benar-benar tak terasa nyeri lagi dibagian manapun, pertanda ia telah benar-benar sembuh dari semua rasa sakitnya.
Gadis itu mencari sosok vian yang sudah beberapa hari ini selalu menemaninya, memberinya belaian hangat pengantar tidur dan menyembuhkan semua luka yang ada didalam dan diluar tubuhnya.
"Ah, paling lagi masak. Biarin deh, aku nandi dulu." Lyra segera turun dan berjalan dengan tubuh indahnya menuju kamar mandi. Ia mengguyur tubuhnya dengan air dingin, dan entah kenapa siraman air itu terasa begitu nikmat ketika turun meresap ke setiap lapisan kulitnya.
" Andai vian disini," gumamnya yang memang tengah tergila-gila dengan supir pribadinya itu.
Ya, Lyra memang tengah gila pada pria yang selalu memberinya keindahan dengan setiap sentuhan yang ia berikan. Tubuh lyra terasa meremang jika harus mengingat setiap adegan indah yang ia rasakan dalam sentuhan vian ditubuhnya.
Sebenarnya vian sudah naik keatas dan menyelesaikan agenda memasaknya. Ia ingin membangunkan lyra, namun justru mendapati telepon dari Papi Lyra. Tak mungkin ia hindari, dan ia harus segera menjawab panggilan itu secepatnya.
"Pagi, Tuan..." sapa vian ketika mendapat panggilan dari papi lyra yang tengah ada di luar kota.
"Ku dengar Lyra sakit? Ada apa dengan dia?" tanya tuan Rey padanya. Vian tak akan pernah bisa berbohong, dan ia mengatakan sejujurnya pada sang tuan mengenai apa yang yang terjadi pada putri kesayanganya itu.
Dan tak perlu ditanya lagi bagaimana marahnya beliau saat ini ketika mendengar putri semata wayangnya terluka hanya karena pemuda itu, yang bahkan ia tak menyangka jika hubungan keduanya masih berlanjut hingga saat itu.
Untung saja vian masih bisa menjaga ceritanya agar tak detail mengenai rencana lyra untuk mantan kekasihnya itu. "Tenang, Tuan. Nona Sudah membaik dari sebelumnya, dan ia sudah_" Mendadak lyra merebut hp itu dari tangan vian.
"Papi menghubungi vian hanya untuk memarahinya? Papi ngga tanya aku gimana?" ketus lyra pada papinya. Ia kesal, karena bahkan ia sudah menunggu sejak seminggu tapi tak ada sama sekali kabar dari sang papi untuknya. Apalagi ia tahu, jika mustahil berita sakitnya belum sampai ketelinga papi yang ada disana.
"Bukankah papi sudah menghubungi dan bertanya? Kau bahkan bukan anak kecil lagi, lyra, yang harus papi hubungi setiap saat dan bertanya kau sedang apa, dimana dan dengan siapa."
"Ya, memang hanya vian yang perduli dengan lyra saat ini. Dia yang merawat dan mengobati lyra, bahkan ketika papi lyra sendiri tak perduli pada putrinya!" Lyra langsung mematikan hp itu dan melemparnya diatas ranjang, karena saat vian menerima telepon itu lyra tengah mandi dan ia sendiri baru saja ingin memanggilnya sarapan bersama.
Vian menatap lyra dengan kemarahan yang menggebu-gebu diwajahnya. Ia tak heran lagi karen sang nona memang selalu emosi terhadap sesuatu yang berhubungan dengan sang papi, tapi kali ini begitu kasar hingga vian terpaksa menasehatinya.
"Biar bagaimanapun itu ayahmu, Nona tak harus kasar dengannya. Dia bahkan sudah berjuang sejauh ini untuk_"
"Iya tahu, tak usah kamu pertegas lagi, Vian. Aku hanya kesal karena dia memarahimu tanpa alasan, padahal kamu sudah berkorban begitu banyak untukku." Lyra justru menghampiri vian dan mengalungkan lengan dilehernya, dan menatap pria itu penuh goda.
"Aku sudah menyiapkan sarapan dibawah," ucap vian padanya.
"Aku menagih janji, bukankah ini sudah waktunya?" tanya lyra yang menggelendot semakin mesra. Bahkan ia tak segan mengecupi dada bidang vian yang terbuka, bahkan memainkan lidahnya disana.
"Ayolah vian, ambil jackpotmu hari ini." Lyra melepas pangutan dan merengek padanya, tak perduli vian akan menganggap apa setelah ini. Yang jelas, ia terpuaskan apa yang mengganjal didalam hatinya segera terluapkan.
Vian meraih pinggang ramping lyra dan menekannya agar semakin menempel pada tubuhnya. Saat itu lyra yang kaget segera mendongakkan kepala dan menatap vian, dan ia seperti mulai terpancing hasratnya. Apalagi saat vian meraih dagu lyra lalu menunduk menyerang ganas bibir manis sang nona yang memang telah ia nikmati setiap hari. Dan memang lyra sudah menunggu moment ini hingga ia membalas tak kalah ganas dengan pria yang telah menjadi miliknya itu.
Ia hanya tak ingin semua tertunda, apalagi ia telah menunggu cukup lama sebelumnya.
Seperti biasa, disela pangutaan itu tangan vian tak pernah bisa diam untuk menjelajah disekujur tubuh sang nona. Tangannya mulai menelusup kedalam kimono yang lyra pakai, hingga bagian lengannya turun mengeskspose bagian indahnya yang mulai tengang dan neminta vian untuk segera menjamahnya.
"Apa kau benar-benar siap? Ini akan menyakitkan."
"Aku sudah siap dari kemarin. Aku bahkan yang menawarkan diri, kenapa aku harus takut? Toh, nantinya semua akan terasa begitu nikmat apalagi kau yang melakukannya. Dengan tangan ini saja....,"
Lyra menghentikan ucapannya lalu meraih jemari panjang vian dan memasukkan kedalam mulutnya. Ia **********, menghisap dan memaju mundurkan didalam mulut mungil itu seperti anak kecil yang tengah menikmati sepotong ice cream sebagai pelepas dahaganya.
"Aaaah, Lyra.... Kau nakal," lirih vian yang benar-benar dibuat gila oleh gairah sang nona.
Vian melepas jemari itu dari lyra dan kembali menyerang bibirnya. Ia juga berjalan membawa lyra mundur menuju ranjang mereka, menjatuhkan tubuh lyra disana. Bongkahan yang tadinya menyembul berguncang dengan penuh goda, kimono yang tersingkap langsung memperlihatkan bagian indah itu dengan sendirinya.
Vian segera naik ke ranjang itu, bersimpuh kemudian mengungkung tubuh mungil sang nona dengan tatapan penuh damba. Ya, ia akan mengambil jackpot yang lyra berikan padanya saat itu juga.
Vian tak pernah mengira, jika gadis yang sempat menjadi fantasinya itu benar-benar akan menyerahkan diri suka rela padanya.
"Vianhhh," desaah lyra ketika vian memulai seragan ganasnya. Apalagi lebih ganas dari biasanya yang sering mereka sebut dengan pemanasan.
Kecupan demi kecupan vian terus turun menjelajahi setiap inci tubuh indah lyra. Memang tak begitu mulus karena masih banyak bercak disana, terutama bercak buatan bibir vian ditubuh lyra yang setiap hari meminta kecupan manja darinya.
Vian turun terus, tak perduli dengan semua gerakan lyra yang liar seperti cacing kepanasan. Karena ia tahu, lyra akan semakin gila dengan aksinya yang satu ini.
Cuupp! Vian tengah mengecupi paha dalam lyra yang entah mulai kapan ia tekuk dan ia buka. Kemudian ia menenggelamkan wajahnya disana dengan lidah panjangnya yang mulai beregerilya.
"Viaaan! Aaaaaahhh!" Baru seperti itu saja lyra sudah dibuat tak berdaya oleh prsonal drivernya.