My Hot Personal Driver

My Hot Personal Driver
Restu



"Sejak kapan?" tanya papi Seno pada mereka bertiga dengan tatapan tajamnya.


"Apanya?" celetuk Demian yang menjadi orang ketiga diantara Vian dan Lyra. "Kalau aku dan Vian, sudah kenal sejak aku belum kenal dengan Lyra. Kami teman satu Gym,"


Lantas papi melirik lekat pada Vian dan Lyra, bahkan tahu jika Lyra menggenggam tangan Vian dibawah sana seolah tak mungkin bisa dilepas lagi. "Kalian?"


"Tuan, saya bisa jelaskan bahwa_"


"Lyra cinta Vian. Lyra cinta, bahkan Lyra mau hamil anak dari Vian. Papi ngga bisa larang Lyra, karena hanya Vian yang paling mengerti Lyra saat ini. Bahkan, peran Vian melebihi peran Papi dalam hidup Lyra saat ini." Lyra kembali dengan ceplas ceplosnya yang membuat semua orang memijat kening disana. Bisa-bisanya dia mengatakan hal seperti itu disaat genting seperti ini.


"Apa-apaan kau Lyra! Beraninya bilang seperti itu. Mana... Arrrghhh... Mana harga dirimu?" sergah papi padanya.


"Harga diri apa? Harga diri hanya karena Vian supir Lyra. Bahkan dia lebih segalanya dari papi. Papi ngga bisa larang Lyra," balasnya. Saat itu Vian masih diam seribu bahasa.


Plaaak!! Kepalan tangan papi mendarat di rahang tegas Vian saat itu. Bukan karena ia supir atau perbedaan kasta, nyatanya posisi mereka sama saja. Bahkan Vian sudah dianggap anak olehnya.


"Papi!" Lyra langsung meraih rahang Vian dan berusaha meniup, tapi Vian mencegahnya saat itu lantas berdiri menghadap papi yang bertahan dengan wajah begitu emosi.


"Seperti halnya ketika Nyonya Laras mendapat mandate menjaga sahabat dan ayahnya, tapi Tuan justru menjadikannya istri. Bagaimana dengan saya yang harus setiap hari bersama dan bertanggung jawab atas dirinya. Apalagi dengan segala rasa kesepian yang Lyra rasakan selama ini."


Lyra akan menambahi, namun papi mencegah dengan juluran tangannya pada Lyra, hingga Demian saat itu menggenggam tangan Lyra dengan erat di kursi mereak yang berdekatan. Genggaman itu cukup menenangkan bagi Lyra saat ini meski ia masih cemas akan Vian.


"Sudah ku bilang, sabar. Kenapa kalian... Sudah sejauh apa?" tanya papi, terutama ketika Lyra dengan gamblang mengatakan ingin hamil anak Vian.


Tak bisa berkata apapun saat ini. Vian mengaku jika ia salah karena tak bisa menahan hasratnya saat itu, karena awalnya ia akan menggunakan Lyra sebagai alat balas dendam pada papi Seno. Namun, rupanya papi Seno adalah malaikat penolong untuknya saat ini.


Vian bergerak, ia menunduk lantas berlutut dihadapan papi Seno saat itu juga dalam diamnya seolah ia pasrah denga napa yang dilakukan papi Seno padanya. "Asal bantu aku menuntaskan semuanya terlebih dulu, Tuan." Vian memohon padanya saat itu.


"Lantas, kau mau apa ketika semuanya selesai? Kau akan pergi dan meninggalkan sema tanggung jawabmu pada putriku dan melemparnya pada Demian?" tegasnya.


Saat itu Demian yang membulatkan mata, ia akan menolak dengan tegas jika dipaksa untuk menikah dengan Meera meski hanya mengambil alih tanggung jawab dari Vian_teman satu timnya. Ia seolah menjadi pengkhianat bagi Vian meski sebenarnya ia tengah berusaha memperbaiki dirinya saat ini. Demian kelainan, namun ia masih bisa menjaga dirinya dari orientasi s*x itu sendiri.


"Aku akan melakukan apa saja yang Tuan perintahkan padaku." Saat ini justru Lyra yang membulatkan mata mendengarnya. Itu terdengar seolah-olah Lyra sama sekali tak berniat ia perjuangkan saat ini, terutama cinta mereka yang selama ini tumbuh seiring berjalannya waktu.


Lyra yang biasanya arogan, kali ini justru hanya bisa diam, lemas dan seolah langsung linglung dibuatnya. Ia tak bisa melakukan apapun, bahkan untuk sekedar membela dirinya sendiri. Terlebih lagi fikiran buruk akan ayahnya yang begitu sulir untuk ia hindari.


"Jahat kamu, Vian!" pekik Lya sejadi-jadinya.


"Hey, Sayag... tenanglah," peluk Demian saat itu dengan air mata Lyra yang mulai menganak sungai. "Vian bahkan belum bilang apa-apa."


"Apanya? Dia baru saja pasrah dengan keputusan papi, Dem. Dia sama sekali tak berniat memperjuangkan aku."


"Bu-bukan begitu maksud Vian, Sayang." Demian mengecup kening Lyra untuk menyabarkannya saat itu.


"Saya tak pernah mengincar Mall sama sekali, itu semua hanya obsesi Om Dipta. Saya hanya ingin kejelasan tentang kematian orang tua dan keberadaan adik saya. Dan_"


"Apa? Ada yang kau temukan tanpa sepengetahuanku?" Vian menganggukkan kepala dan masih mempertahankan posisinya berlutut saat itu.


"Salsa... Adalah Tinara?" Dan sekarang papi Seno menganggukkan kepalanya. Bahwa sekuat apapun ia menyembunyikan Vian dari adiknya, mereka akan bertemu ketika saat itu tiba. Papi Seno ikut berjongkok dan mengusap bahu Vian saat itu, tatapannya mulai sayu dan tampak terharu, bahkan Lyra sendiri menatap aneh papinya dari sana.


"Jika kau sudah tahu semuanya, maka hanya tinggal tugas terakhir kita. Bonar aman, dan Cakra sudah dalam perlindungan. Misi kita akan selesai setelah ini, dengan syarat kau belum boleh terlalu jauh mendekati Salsa." Syarat yang diberikan cukup mudah bagi Vian. Ia masih bisa menahan diri untuk memeluk adiknya saat ini meski begitu amat sangat ingin melakukannya.


"Lalu, Nona?" toleh Vian pada Lyra yang dipeluk Demian. Tapi benar-benar sama sekali tak ada rasa cemburu dihatinya saat ini.


"Kau masih memanggil nona pada calon istrimu?" tanya papi. Vian dan Lyra kompak saling tatap dan melempar senyum dengan ucapannya saat itu, dan juga Demian cukup bahagia dengan kebahagiaan mereka berdua.


"Selamat," ucap Demian dengan sisi machonya. Tak ada yang mengira ada yang aneh dalam dirinya saat ini.


Lyra yang bahagia lantas turun dari kursi, berjalan dengan cepat kemudian memeluk tubuh papinya dengan begitu erat. Ia lupa, kapan terakhir ia memeluk papi seperti ini dengan segala rasa cinta yang ia miliki. Sepertinya ketika mami meninggal, karena ketika papi menikah dengan Laras saja Lyra sama sekali tak memberi selamat untuk mereka berdua.


"Thank you, Papi. I Love You," ucap Meera mengecup pipi papinya. Ia amat bahagia saat ini, mendapat cinta dan restu dari papinya.


Lyra lalu beralih pada Vian dan membawanya berdiri. Ia memeluk Vian dan membelai wajahnya dengan lembut saat itu, ingin sekali mengecup bibirnya jika taka da mereka disana.


"Sekarang kalian pulang, bersihkan diri dan Vian segera kembali kesini setelah istirahat sejenak. Kita harus membicarakan semua rencana kita sesuai isi rapat tadi pagi. Sayangnya kau tak bisa hadir disana." Vian membungkukkan badannya saat itu menyanggupi semua perintah yang ada.


"Dan Lyra..."


"Ya, Pi?"


"Papi mohon, mulailah terima Laras dan adikmu sejak hari ini. Dia juga sudah berkorban banyak untukmu, yang bahkan harus menikahi pria tua seperti papi." Meera tertunduk bingung, namun pada akhrnya ia menganggukkan kepala menuruti perintah papinya.


Mereka pulang, begitu juga Demian yang akhirnya merasa kehilangan Lyra saat ini. Ia sudah terlanjur sayang Lyra seperti adik kecilnya yang menggemaskna.


"Aku masih akan sering menitipkan Lyra padamu," ucap Vian.


"Ya, tangan ini siap menampungnya." Demian merentangkan tangan pada mereka berdua, hingga akhirnya tertawa berdua dan berpisah menuju kediaman masing-masing.


"Aku tak mau pulang,"


"Kau harus menjaga Laras dan Zayan,"


"Kau berhutang padaku, dan aku ingin menagihnya!" Vian langsung diam dan meneguk saliva. Bisa-bisanya Lyra masih ingat itu dalam keadaan genting seperti ini.


"Aku mau lolipopku! Apa aku harus nekat memintanya disini?" tantang Lyra yang bahkan sudah melirik bagian bawah celana kekasihnya saat itu. Jsutru Vian yang merasa ngeri dan merinding dengan kegilaan Lyra saat ini yang bahkan lebih liar dari biasanya.