My Hot Personal Driver

My Hot Personal Driver
Bau Lyra seperti bau Vian



Vian bangun dan membuat sarapan pagi ini dengan bahan seadanya, sementara lyra masih berbaring di sofa dengan begitu malas sembari memainkan hpnya..


"Nona, mandilah dan segera sarapan." Vian menghampiri dan menarik selimut yang lyra pakai saat itu.


"Malas, Vian. Nanti saja mandinya, kalau kau yang memandikan." Lyra berusaha meraih selimut itu kembali darinya.


"Mau aku mandikan?" Awalnya lyra ingin mengangguk bahagia, tapi anggukannya ia tunda gara-gara tatapan tajam yang vian beri padanya.


Jika smirk, ia suka karena tandanya mereka akan bermain lagi pagi ini. Namun yang ia dapat saat itu adalah tatapan penuh ancaman dan cukup membuat lyra berrgidik ngeri.


"Galak sekali," manyun lyra yang segera beralih dari sofanya. Untung saja tubuhnya tak sakit-sakit karena tidur disana semalam. Tapi itu adalah resikonya, karena ia sendiri yang berjalan dengan begitu sadar dan tidur diatas tubuh supir tampannya.


Sepertinya memang lyra kesulitan tidur jika tak ada vian disampingnya. Bagaimana mereka akan mencuri waktu ketika papi pulang kerumah, apalagi laras akan selalu standbye disana.


Lyra merendam tubuhnya di dalam bathup penuh busa. Seluruh ruangan itu beroma lavender dan begitu lyra sukai, ia dapat berendam begitu lama jika sudah seperti itu.


Vian yang paham kebiasaan san nona segera mendatanginya usai agenda masaknya selesai. Jika dulu ia tak bisa, maka sekarang ia bebas dan lyra tak akan memekik dengan kedatangannya.


Lyra yang memejamkan mata saat itu mendengar suara langkah kaki vian mulai memasuki kamar dan melangkah menuju kamar mandi. Tersenyum, karena akhirnya vian kembali takluk padanya.


"Sudah hampir satu jam? Tubuhmu bisa berkerut jika seperti ini terus," ucap vian yang sudah masuk kedalam sana.


"Kamu tahu kebiasaanku, dan ini menyenangkan ketika aku bisa bermain busa dengan begitu tenang sendirian. Sini masuk," pinta lyra menepuk-nepuk air di bathupnya. Tersenyum penuh goda memperlihatkan belahan dadanya yang indah dan terendam disana.


"Tidak, aku hanya akan memandikanmu." Vian lantas meraih sabun dan mengusapnya pada tubuh lyra. Pundak, punggung, dan bagian dadanya ia gosok dengan lembut disertai pijatan yang begitu nikmat menenangkan.


"Sepertinya aku tak perlu ke massage lagi. Aku mau kau yang memijat tubuhku, dan aku akan mendapat servis plus plus nanti."


"Aku bukan gigolo," tukas vian, dan membuat lyra seketika tertawa.


"Memang bukan, kau sendiri tak mau ku bayar dalam hal ini." Lyra mengadahkan kepala dan menatap kekasihnya. Kesempatan itu digunakan vian untuk membasuh rambut lyra dan memakaikan shampo dissna.


Lyra memejamkan mata merasakan sensasi nikmat yang ada. Semuanya nikmat dan indah jika vian memberikannya, meski hanya pelayanan sederhana dan bukan pelayanan untuk pemuas napsu semata. Pijatan kepala dari jari jemari vian juga begitu nikmat, menggetarkan seluruh jiwa lyra yang selalu haus akan kasih sayang dihatinya..


"Kau tak mau aku, Vian?"


"Tidak, Lyra. Hari ini kita harus istirahat sejenak," ucap vian, yang memancing wajah kecewa dari lyra. "Aku tak ingin kau kelelahan hari ini, dan aku janji akan memberikannya lagi jika kau bisa menahan emosimu hari ini."


"Haish, persyatan itu terlalu sulit." Lyra mencebik. Bagaimana dia akan menahan emosi ketika dua orang itu selalu ada didekatnya nanti. Ia saja selalu berapi api hanya dengan melihat wajah laras dan kedekatannya pada sang papi. Apalagi ketika papi tampak begitu memanjakan istri barunya.


Hingga akhirnya ritual mandi selesai. Lyra bangkit dari bathup dan vian membilas tubuhnya. Lya ingin memeluk, namun vian beberapa kali menolak karena saat itu lyra masih begitu polos tanpa sehelai benangpun ditubuhnya.


Vian begitu kuat menahan diri saat ini, padahal ia bisa kapan saja menerkam lyra ketika ia mau. Toh, lyra juga suka sekali ketika dimanjakan olehnya dengan setiap sentuhan yang dapat memabukkan dn membuatnya melayang terbang tinggi ke awan.


Lyra tampak diam, sesekali mendongakkan kepala lalu memeluk tubuh vian yang kekar dengan kedua tangannya. Bahkan bibir gemas itu sesekali ia monyongkan agar vian memberinya morning kiss seperti biasa.


"Hhhh, nakal!" Vian tertawa, tapi sesekali menunduk untuk meraih bibir ranum itu sebagai sarapan paginya yang manis.  Bahkan sesekali vian dengan gemas menggigit bibir itu dengan bibirnya.


"Nanti terluka, dan papi akan bertanya." Vian menghentikan aksinya.


Usai berganti baju, gantian vian yang mandi dan merapikan diri. Ia. Meminta sang nona mempersiapkan sarapan mereka dibawah sana, sesekali melatihnya agar tahu pekerjaan rumah tangga karena selama ini ia hanya tau dilayani saja oleh para pembantunya.


Tapi rupanya lyra begitu baik melakukannya. Ia mempersiapkan sarapan mereka diatas meja dan sudah tertata dengan begitu rapi, hanya tinggal duduk dan menikmati.


"Bagaimana, suka?" tanya lyra. Padahal ia hanya mempersiapkan, dan vian yang memasak semuanya.


Vian hanya tersenyum, mendekat kemudian mengusap rambut lyra dan mengecupnya dahinya. Mereka menikmati sarapan pagi itu bersama, hingga akhirnya membereskan semua dan meninggalkan apartemen itu menuju rumah besar mereka.


"Papi tak dijemput?" tanya lyra.


"Tidak, katanya naik taxi aja. Disana banyak taxi, dan tak mau membuatku kesana kemari."


"Dia tahu calon menantunya sudah lelah dengan anaknya 24jam seharian." Ucapan lyra membuat vian menajamkan tatapannya.


"Bagaimana, jika papi tak merestui hubungan kita? Papimu orang yang tegas dan berpendirian,"


"Apakah akan seperti itu jika dia tahu tentang kita? Aku akan memaksa. Dia saja tak mendengarkan aku ketika berhubungan dengan laras." Lyra kembali menatap sebal ketika mengingatnya.


"Sudahlah, jangan bahas itu. Aku masih ingin menikmati masa-masa indah ini bersamamu tanpa gangguan dari siapapun. Aku belum siap sama sekali jika kita akan ditentang." Lyra bersedekap, vian juga seketika diam tak membahas itu semua hingga keduanya tiba di rumah besar mereka yang seperti istana.


" Papi!" Lyra memekik ketika papi ternyata sudah tiba, padahal menurut perkiraan ia akan sampai siang ini.


" Hey, Sayang, apa kabar anak papi? Sepertinya segar sekali hari ini." Papi lyra langsung memeluk dan mencium gadisnya tercinta meski kadang hubungan mereka tak baik-baik saja.


"Lyra seperti ini, dan baik-baik saja." Lyra membalas pelukannya, tapi sang papi melepas pelukan itu kemudian memperhatikan sekujur tubuh sang putri dari ujung kepala sampai ujung kaki.


"Ada apa?" tanya lyra penuh curiga.


"Kenapa kau bau vian, sayang? Kau kehabisan parfum?" Papi terus mengendus tubuh sang putri dengan hidung tajamnya.


Saat itu vian membulatkan mata sembari meneguk salivanya dalam-dalam.


"Ya, bagaimana tidak? Vian yang selalu menjaga lyra selama ini. Jadi wajar kalau bau vian terus ada pada lyra. Iya kan?" kilah lyra, dibalas anggukan papinya.